Logo Header Antaranews Makassar

Ribuan Buruh Peringati Hari Buruh Internasional

Jumat, 1 Mei 2009 07:20 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Ribuan buruh bersama 20 kelompok mahasiswa, massa miskin kota dan organisasi non buruh memperingati Hari Buruh Internasional di Makassar yang jatuh pada Jumat, 1 Mei 2009.

Mereka berkumpul di persimpangan Jl. Tol Reformasi sejak pagi kemudian melakukan aksi jalan kaki menuju Kantor Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), untuk berunjukrasa menyuarakan aspirasinya.

Dalam pernyataan sikapnya, ada beberapa hal yang mereka tuntut dalam peringatan Mayday tahun ini, yakni menolak dan melawan PHK, hentikan perampasan upah tanah dan kerja, menolak outsourching dan sistem kontrak kerja, nasionalisasi aset asing, hapus dan hentikan utang luar negeri serta naikkan upah dan terapkana upah layak nasional.

Selain itu, mereka juga menuntut hak atas tanah bagi rakyat miskin, menolak penggusuran, menolak kriminalisasi pers, mencabut UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) serta menjadikan 1 Mei sebagai hari libur nasional.

Aksi tersebut mendapat pengawasan ketat kepolisian. Selain pengawalan terbuka dan tertutup di lokasi unjukrasa, aparat juga melakukan pemantauan dari udara dengan menggunakan helikopter.

Aksi mereka mengakibatkan arus lalulintas di ruas jalan di Jl Tol Reformasi, Jl. Urip Sumiharjo dan Jl. A.P Pettarani mengalami kemacetan hingga tiga jam. Polisi terpaksa mengalihakan arah perjalanan pengendara agar tidak terjadi penumpukan kendaraan.

Selain organisasi buruh, beberapa elemen yang turut serta dalam aksi kali ini, antara lain, kalangan pekerja pers yang tergabung dalam Alansi Jurnalis Independen (AJI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi).

Dari unsur mahasiswa, unjukrasa diikuti lembaga-lembaga kemahasiswaan dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Muslim Indonesia (UMI), Universitas Negeri Makassar (UNM) serta Universitas Pattimura (Unpati) Ambon.

Ketua AJI Makassar, Andi Fadli mengatakan, peringatan Mayday tahun ini adalah yang pertama kali bisa mempersatukan sejumlah elemen buruh, yang pada tahun-tahun sebelumnya sempat pecah.

Menurutnya, penyatuan tersebut dimungkinkan setelah AJI melakukan mediasi dengan sejumlah elemen buruh, agar mereka melakukan aksinya secara serempak.

Dia menjelaskan, keikutsertaan para jurnalis Makassar dalam aksi ini, sebab jurnalis di satu sisi juga adalah pekerja atau buruh dalam industri pers. Dia menilai, sebagai pekerja hak-hak jurnalis yang salah satunya soal gaji dan kontrak kerja, sampai saat ini belum terpenuhi dengan baik.

"Kami menuntut agar media-media memberi kejelasan status kepegawaian karyawannya paling lama setelah masa kerja satu tahun," ujarnya.
(T.PK-AAT/S016)