Logo Header Antaranews Makassar

Pemeliharaan Ternak Sapi di Sulsel Masih Tradisional

Minggu, 31 Mei 2009 08:05 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Sistem pemeliharaan sapi yang dilakukan peternak di Sulawesi Selatan masih menggunakan budaya tradisional dan ekstensif dengan mengkandangkan sapinya di samping kolong rumahnya.

Padahal, kata Kepala Dinas Peternakan Sulsel, Ir. H. Arifin Daud, MSi di Makassar, Minggu, seharusnya sapi kandang sekitar 10 meter dari pemukiman peternak guna menghindari bau tidak sedap dari kotoran ternak tersebut yang sangat mengganggu kesehatan anggota keluarga dan lingkungannya.

"Ini permasalahan yang sejak dulu hingga sekarang masih dijumpai di daerah kabupaten, terutama pada lingkungan rawan perampokan ternak tersebut," katanya seraya mengakui peternak melakukan pengkandangan sapi di samping kolong rumahnya karena takut dicuri orang.

Alasan lainnya yakni sapinya mudah dikontrol jika ada yang mencurigakan di bawah kolong rumahnya pada malam hari sebab ternak yang dipeliharanya itu merupakan bantuan pemerintah yang harus dijaga, dirawat dan dikembangkan bagi peningkatan kesejahteraan keluarganya.

Selain itu, lanjutnya, keterampilan petani peternak masih sangat rendah karena tidak memanfaatkan teknologi terutama kawin suntik yang menghasilkan sapi unggul dan berkualitas dibanding menunggu hasil kawin alamiah yang belum tentu sapi betinanya melahirkan anak sapi sehat dan bermutu.

Bahkan, peternak bisa panik dengan munculnya penyakit hewan baru akibat perubahan iklim dan pemanasan global sehingga banyak sapi tiba-tiba mati karena kurangnya pemahaman peternak terhadap cara mengantisipasi ternak yang sakit dengan memberi suntikan dan pemeliharaan yang intensif.

Guna mencapai hasil ternak yang baik dan sistem pemeliharaan sapi yang aman, ujarnya, pemerintah melakukan sosialisasi ke lapangan dengan mengajak peternak untuk mengkandangkan sapinya tidak jauh dari rumahnya serta memanfaatkan penerapan teknologi melalui inseminasi buatan dan pengembangan agribisnis peternakan.

Menurut Arifin, jumlah sapi bantuan pemerintah yang digulirkan untuk dikembangkan kelompok peternak yang tersebar pada 24 kabupaten/kota di Sulsel, hingga saat ini sekitar 25.000 ekor sapi pejantan dan betina jenis brahman dari Australia, Bali dan NTB. Anak sapi tersebut kemudian diberikan lagi kepada kelompok peternak baru untuk dipelihara dan dikembangkan.

Melalui upaya tersebut, ujarnya, Sulawesi Selatan yang mencanangkan satu juta ekor sapi pada tahun 2013 dapat diwujudkan sebab populasi ternak tersebut saat ini sudah mencapai 704.000 ekor.

(T.PK-HK/F003)