Logo Header Antaranews Makassar

Sapi Koptan Dicuri 236 Ekor

Selasa, 2 Juni 2009 22:12 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - Sebanyak 236 dari 1.924 ekor sapi bantuan pemerintah Sulawesi Selatan yang dikelola 46 kelompok tani (koptan) pada lima kabupaten, raib dari kandangnya akibat dicuri kawanan rampok yang masih banyak berkeliaran di daerah ini.

Padahal, kata Kepala Dinas Peternakan Sulsel, H. Arifin Daud di Makassar, Selasa, sapi awal yang diserahkan pemerintah tercatat 1.464 ekor atau bertambah 460 ekor setelah dikembang-biakkan koptan tersebut selama dua tahun terakhir.

Kelima kabupaten yang koptannya memperoleh bantuan sapi dan ternaknya dicuri yakni kabupaten Maros 250 ekor untuk 11 koptan. Sapi awal yang dikelola koptan tersebut bertambah 120 ekor sehingga menjadi 370 ekor setelah diternak selama dua tahun, namun 14 ekor diantaranya dirampok.

Kabupaten Takalar mendapat 484 ekor (12 koptan) namun hanya dua koptan yang sapinya bertambah 16 ekor, sisanya 10 koptan kecurian ternaknya yang mencapai 79 ekor sehingga jumlah sapi yang ada dalam
pengawasan koptan tersebut saat ini sisa 421 ekor. Kabupaten Bantaeng mendapat 363 ekor (10 koptan) hanya menambah 32 ekor menjadi 395 ekor, sedangkan yang dicuri mencapai 91 ekor.

Kabupaten Bulukumba pada periode tersebut memperoleh jatah sapi bantuan pemprov Sulsel sebanyak 342 ekor sapi pejantan dan betina untuk dikembang-biakkan. Selama dua tahun diternak, tujuh koptan di daerah itu menghasilkan 281 ekor sehingga sapi di koptan ini mencapai 623 ekor.

"Yang dicuri di daerah ini hanya enam ekor," katanya dan menambahkan, tiga kabupaten yakni Maros, Takalar dan Bantaeng merupakan daerah rawan pencurian ternak sehingga dalam kurun waktu tersebut jumlah sapi yang dirampok tercatat 184 ekor.

Kabupaten Luwu, lanjutnya, mendapat bantuan sapi sebanyak 300 ekor, hanya bertambah 11 ekor menjadi 311 ekor sapi yang dikelola enam koptan di daerah itu, sementara yang dicuri sebanyak 46 ekor.

"Di Luwu lebih banyak sapi yang dicuri dibanding yang lahir hanya 11 ekor. 11 ekor, katanya seraya menambahkan, pencurian ternak sapi masih marak di Sulsel karena pengkandangan sapi dilakukan peternak masih tradisional bahkan membiarkan sapinya berkeliaran pada malam hari tanpa pengawasan.

Menurutnya, sapi bantuan pemerintah terus digulirkan kepada koptan lainnya setelah sapi awal yang diberikan kepada koptan pertama bertambah, telah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani ternak tersebut.

"Bahkan ada anggota koptan yang menyekolahkan anaknya ke Perguruan Tinggi dengan hasil penjualan ternak yang sudah dikembangkan," katanya seraya mengajak pengurus koptan untuk memanfaatkan teknologi peternakan (kawin suntik) dan pengkandangan sapi yang teratur dan aman (di samping disamping rumah, bukan dibawah kolong rumah.

(T.PSO-099/F003)