
Antropolog : Jangan Terperangkap Dalam Sekat Agama-Etnik

Kupang (ANTARA Sulsel) - Antropolog Budaya Gregor Neonbasu SVD, PhD menyayangkan perilaku para elit yang mempengaruhi "mindset" atau cara berpikir masyarakat ke dalam perangkap sekat agama dan isu etnik menghadapi Pilkada NTT putaran kedua pada 15 Mei 2013.
"Kita tidak boleh terperangkap dalam sekat agama dan isu etnik, meskipun secara tradisional telah membimbing paradigma pembangunan di NTT selama ini. Kini, kita sudah berada pada dinamika pembangunan yang bercitra lain dari suasana kehidupan sebelumnya," kata antropolog dari Universitas Katolik Widya Mandiri Kupang itu di Kupang, Senin.
Rohaniawan Katolik yang juga Ketua Komisi Sosial Budaya Dewan Riset Daerah NTT mengemukakan pandangannya tersebut, setelah beredarnya berbagai isu tentang agama dan etnik lewat layanan pesan singkat (SMS) menjelang Pilkada NTT putaran kedua yang akan berlangsung pada 15 Mei 2013.
Dalam Pilkada NTT putaran kedua nanti, akan bertarung pasangan pejabat kini Frans Lebu Raya-Benni A Lytelnoni yang diusung PDI Perjuangan dengan koalisi partai politiknya serta pasangan Esthon L Foenay-Paul Edmundus Tallo yang diusung Partai Gerindra bersama koalisi partai politiknya.
Frans Lebu Raya dan Esthon L Foenay masih menjabat Gubernur dan Wakil Gubernur NTT periode 2008-2013 hingga Juni mendatang, namun saat ini mereka berdua harus saling berhadapan untuk terus melangkah menuju kursi NTT-1.
Neonbasu mengatakan konstelasi pergaulan masyarakat setiap hari tak lepas dari warna kehidupan para parpol, sehingga udara kampanye pun turut memberi warna bagi retak dan tetap melekatnya paradigma kehidupan keluarga-keluarga di desa-desa.
Ia menambahkan udara bergandengan tangan yang segar-bugar sebagaimana dipromosi para leluhur semenjak dulu, yang telah lama tumbuh dan berkembang secara asri dalam perspektif desa-desa, kini telah diracuni udara demokrasi yang berjalan miring.
"Nampaknya aura demokrasi kini tidak bersahabat lagi dengan prinsip bergandengan tangan secara tulus dan bening. Bergandengan tangan telah disanding dengan sebuah sudut pandang kemunafikan untuk tidak menyamakan presepsi," ucapnya, menegaskan.
Menurut dia, fondasi pemikiran yang sekarang harus dibangun adalah siapapun yang bakal menang dalam Pilkada NTT putaran kedua, harus bisa diapresiasi sebagai "citra pilihan" yang diinginkan semua warga NTT.
Namun, muncul pertanyaan "apakah benar bahwa yang bakal menang dalam pilgub putaran kedua, sungguh-sungguh itulah pilihan masyarakat NTT? Sejenak kita mencari hening, untuk bisa mengkaji pertanyaan di atas dengan lebih menukik ke dalam hati masyarakat NTT,".
"Dari lubuk hati masyarakat, terkuak rasa rindu yang mendalam untuk mendapat seorang pemimpin NTT ke depan yang baik, pemimpin yang selalu mencintai rakyatnya, pemimpin yang selalu mendahulukan kepentingan warga masyarakat, serta pemimpin yang tidak terpenjara pada kepentingan segelintir orang," tuturnya.
Selain itu, pemimpin yang tidak terperangkap pada kebijakan balas budi, pemimpin yang selalu berada di tengah masyarakat, pemimpin yang tiada henti mencari hening untuk melakukan terobosan bagi perbaikan dinamika pembangunan NTT, karena dengan cara tersebut mereka dapat membangun tembok demokrasi di dalam hati warga masyarakat.
"Ini merupakan kreativitas politik yang turut membentuk citra dan paradigma kehidupan berdemokrasi. Yang harus diwaspadai adalah hukum alam tentang tanam dan panen. Ini sederhana saja, yang menanam, akan pantas memanen oleh karena yang bekerja dengan keringat dan air mata akan memanen dengan penuh suka cita," papar Neonbasu.
Ia menambahkan hukum alam tersebut juga berbunyi, "tanamlah hal yang baik maka akan memanen yang baik pula! Memang, buah yang baik berasal dari tanaman pohon yang baik, dan tidak pernah yang tidak baik berasal dari tanaman yang baik dan terpuji..."
"Namun, panen mungkin saja gagal apabila iklim tidak memberi curah hujan yang mencukupi ketika seorang petani selesai menanam bibit. Titik netral dalam hukum alam berkenaan dengan dua hal utama tanam dan panen, harus dimaknai dari perspektif lain," katanya sambil mempersandingkan ordo logis (kebenaran intelek) dan ordo realis (kebenaran yang nyata dalam barang-barang yang nyata).
Menurut dia, masyarakat hendaknya diantar dengan penuh tanggungjawab untuk sedapat mungkin mampu memahami dan dapat membedakan, apa yang baik dan benar dalam pikiran, lalu seberapa jauh semua yang ada dalam kepala telah dialami atau hadir nyata dalam kehidupan bermasyarakat setiap hari.
"Masyarakat kita terlilit utang budi. Apakah itu karena kekuatan kata-kata janji, atau rayuan mammon, atau kekuatan kekerabatan, atau kekuatan macam-macam lainnya yang secara kasat mata dapat disulap menjadi sesuatu yang luhur, terpuji dan terpandang," ujarnya.
Ia mengatakan akar demokrasi itu terletak pada perhatian yang tulus untuk tidak bermain dengan kepentingan masyarakat, tetapi menjadikan masyarakat sebagai sentrum usaha dan karya.
"Yang perlu dijaga, iklim kesadaran akan kebersamaan sebagai warga NTT yang multikultural berkenaan dengan etnik dan pluralistik berkaitan dengan agama. Tentu amat tidak bersabahat jika kedua hal itu diangkat menjadi ujung tombak dalam kampanye untuk menghadapi Pemilu Gubernur NTT putaran kedua," demikian Gregor Neonbasu.
Editor : Chandra Hamdani
Pewarta : Laurensius Molan
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
