
Kopi di Semarang jaga tradisi sejak 1915

Semarang (ANTARA) - Bangunan tua di Jalan Wotgandul Barat, Semarang, itu tampak seperti potongan waktu yang menolak usang. Dindingnya menyimpan aroma sejarah, sementara mesin dan tradisi di dalamnya terus bekerja melampaui satu abad perubahan.
Di tempat inilah bekas pabrik kopi legendaris Koffie Branderij Margo Redjo, yang berdiri sejak 1915, tetap hadir dan menjelma sebagai Dharma Boutique Roastery, sebuah usaha kopi keluarga yang setia merawat warisan rasa lintas generasi.
Didirikan pertama kali di Bandung pada masa kolonial Belanda, pabrik kopi tersebut kemudian dipindahkan ke Semarang pada 1926. Sejak saat itu, denyutnya tak pernah benar-benar berhenti, menjadikannya salah satu jejak industri kopi tertua yang masih bertahan dan terus beroperasi hingga hari ini.
"1915 itu kan di Bandung didirikan.Walaupun kakek saya itu kelahiran Semarang atau di rumah ini juga. Nah, tapi tahun 1926 beliau memindahkan usaha termasuk mesin-mesinnya itu ke Semarang, ke tempat lahirnya beliau sebetulnya di Jalan Wotgandul Barat ini, " kata Pemilik Dharma Boutique Roastery, Hidayat Basuki Dharma Wiyono, kepada ANTARA, Kamis (19/3).
Ia mengatakan nama usaha yang digunakan saat ini merupakan identitas baru yang ia pilih sendiri, menggantikan nama lama yang tidak lagi digunakan akibat persoalan pembajakan merek.
“Nama lama pernah dibajak dan tidak kami gunakan lagi. Akhirnya saya pilih nama baru dari nama saya sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan kata “boutique” mencerminkan pendekatan usaha yang berupaya menyajikan kopi sesuai dengan selera penikmat, dengan tetap mengedepankan kualitas.
Komitmen pada kopi lokal dan kualitas
Dharma menegaskan seluruh kopi yang dijual merupakan kopi asli Indonesia yang berasal dari berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Papua, dengan jumlah sekitar 50 jenis biji kopi.
“Kami tidak menjual kopi impor. Semua dari Indonesia,” ujarnya.
Menurut dia, keputusan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap petani kopi dalam negeri sekaligus upaya memaksimalkan potensi kopi lokal yang dinilai tidak kalah dengan kopi luar negeri.
“Kalau soal rasa, kopi kita tidak kalah. Kami ingin hasilnya kembali ke petani Indonesia,” katanya.
Ia menilai perkembangan industri kopi saat ini semakin pesat, didorong oleh kemajuan distribusi serta keterlibatan generasi muda yang memiliki latar belakang pendidikan di bidang pertanian.
“Sekarang banyak anak muda yang terjun dengan ilmu. Jadi pengolahan kopi lebih berkembang,” ujarnya.
Beragam metode pengolahan kopi, seperti proses basah, kering, hingga fermentasi dengan variasi waktu, turut menghasilkan karakter rasa yang semakin beragam.
“Sekarang satu jenis kopi bisa punya banyak rasa tergantung prosesnya,” katanya.
Tradisi, edukasi, dan pengalaman menikmati kopi
Di tengah perkembangan industri kopi modern, Dharma Boutique Roastery tetap mempertahankan metode sangrai manual menggunakan mesin berusia sekitar 100 tahun yang masih digunakan hingga kini dengan tambahan motor penggerak.
“Kami masih pakai cara manual. Hasilnya tidak kalah, tapi sekarang lebih berbasis ilmu,” ujar Dharma.
Ia menambahkan, pihaknya tidak mengutamakan harga murah, melainkan kualitas produk yang dihasilkan.
“Kami tidak menjual murah, tapi juga tidak menaikkan harga semaunya. Harga sesuai kualitas,” katanya.
Pengunjung dapat duduk di meja dan kursi kayu sederhana sambil menikmati suasana yang tenang, jauh dari kesan kafe modern yang serba ramai.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kopi tertua di Semarang jaga tradisi kopi lokal dan warisan sejak 1915
Pewarta : Farika Nur Khotimah
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
