
Kasus laka lantas di Sulsel, tertinggi Kota Makassar

Makassar (ANTARA) - Peristiwa kecelakaan lalu lintas (Laka Lantas) hingga April 2026, Kota Makassar berada di posisi pertama dengan jumlah kasus tertinggi sebanyak 1.508 kejadian tersebar di enam kecamatan yang masuk zona rawan.
"Jika kita mengacu pada titik black spotnya (titik rawan) Kota Makassar, Itu memiliki enam titik black spot. Daerah (kecamatan) Panakkukang, Biringkanaya, Tamalanrea, Tamalate, Rappocini dan Manggala," kata Direktur Ditlantas Polda Sulsel Kombes Pol Pria Budi di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin.
Menurutnya, penyebab laka lantas tersebut karena kurangnya pemahaman maupun kesadaran masyarakat tidak mematuhi rambu-rambu lalu lintas yang terpasang serta melawan arus lalu lintas, termasuk tidak mengenakan helm.
"Banyak dari masyarakat kita salah satunya melanggar arus, itu yang paling tinggi terjadi di Makassar. Tetapi, kami sudah melakukan upaya-upaya pre-emptive, preventive, pembinaan, pencegahan maupun represif di wilayah tersebut," tuturnya seusai diskusi Forum Keselamatan Transportasi di Kantor Jasa Raharja Sulsel.
Guna menekan tindakan pelanggaran, pihaknya terus melaksanakan berbagai upaya seperti edukasi sampai pada penegakan hukum. Sistem tilang elektronik (ETLE) diterapkan pada 14 titik kamera statis wilayah Kota Makassar dan Kabupaten Gowa, termasuk perangkat ETLE handheld digunakan petugas Polantas.
Data dari Jasa Raharja, kasus laka lantas di Kota Makassar tercatat dari 1.508 kejadian pada enam titik rawan tersebut, sebanyak 74 orang meninggal dunia (MD), dan korban Luka-luka (LL) berjumlah 1.908 orang.
Rinciannya, di Kecamatan Biringkanaya, sebanyak 390 kejadian, 17 orang meninggal dunia (MD) dan 458 orang luka-luka (LL). Disusul, Kecamatan Panakukang, 282 kejadian, 15 orang MD dan 347 LL. Kecamatan Tamalanrea 249 kejadian, 12 orang MD, dan 303 LL.
Kecamatan Tamalate, 242 kejadian, 10 orang MD, dan 323 LL. Kecamatan Manggala, 173 kejadian, 10 orang MD, dan 235 LL. Kecamatan Rappocini, 172 kejadian laka lantas, 1 MD dan 215 LL.
Sedangkan jumlah laka lantas di posisi kedua Kabupaten Gowa, titik rawan di Kecamatan Somba opu, tercatat ada 181 kejadian laka lantas, 11 orang MD, 237 LL. Disusul Kabupaten Maros, di Kecamatan Turikale, 173 kejadian, 11 orang MD dan 262 LL.
Selanjutnya, Kabupaten Jeneponto, titik rawan di Kecamatan Binamu, 167 kejadian, 6 orang MD dan 231 LL. Kabupaten Bulukumba, di Kecamatan Gantarang, 146 kejadian, 12 orang MD dan 212 LL.
Tercatat pada 10 titik rawan di empat kabupaten kota Provinsi Sulsel, total sebanyak 2.179 kejadian. Rinciannya, jumlah korban luka-luka 2.850 orang, dan korban jiwa atau meninggal dunia mencapai 118 orang.
Santunan yang telah disalurkan PT Jasa Raharja, untuk para korban tersebut, yaitu meninggal dunia sebesar Rp14,70 miliar, Luka-luka Rp16,59 miliar serta cacat tetap dan lainnya senilai Rp165 juta.
Sebelumnya, data Dirlantas Polda Sulsel merilis kasus laka lantas sepanjang tahun 2025 menunjukkan tren penurunan. Dari 24 kabupaten kota se-Sulsel total ada 7.144 kasus pada 2025, dan pada 2024 tercatat 7.884 kasus atau turun 740 kasus. Namun korban meninggal dunia mencapai 807 orang pada 2025.
Direktur Utama PT Jasa Raharja Muhammad Awaluddin seusai mengikuti diskusi Forum Forum Keselamatan Tranportasi menyatakan, diperlukan upaya pencegahan dengan menghadirkan stakeholder terkait, termasuk penanganan peristiwa kecelakaan. Sebab, itu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri.
"Harus memang dilakukan secara kolaborasi dengan lintas sektor. Dan wujud dari pelaksanaan itu adalah diskusi kami tadi mengarah bagaimana kemudian kepada hal-hal yang konkrit dan berdampak serta terukur," katanya.
Pewarta : M Darwin Fatir
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
