Logo Header Antaranews Makassar

Kemenkomdigi ingatkan pentingnya nalar kritis di tengah arus teknologi

Jumat, 22 Mei 2026 10:17 WIB
Image Print
Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar Junda Maulana, pada bimbingan teknis (bimtek) literasi informasi sebagai dukungan terhadap program Sulbar Mandarras, di Mamuju, Kamis (21/5). ANTARA/HO-Diskominfo Sulbar

Mamuju (ANTARA) - Pandu Literasi Digital Kementerian Komunikasi Digital (Kemenkomdigi) Shalahuddin mengingatkan pentingnya nalar kritis di tengah arus teknologi informasi seperti saat ini.

"Dibutuhkan nalar kritis di tengah pesatnya arus teknologi informasi seperti saat ini," kata Shalahuddin saat bimbingan teknis (bimtek) literasi informasi sebagai dukungan terhadap program Sulbar Mandarras di Mamuju, Kamis.

Bimbingan teknis literasi informasi tersebut diikuti 150 peserta, terdiri dari pustakawan, tenaga perpustakaan, guru dan pegiat literasi di Sulbar.

Shalahuddin yang membawakan materi bertajuk Digitalitas dan Literasi Digital menyoroti perubahan besar yang terjadi akibat perkembangan teknologi digital dalam kehidupan masyarakat.

"Hari ini hampir semua orang sudah daring (online), tapi belum tentu semua orang paham apa yang mereka akses di internet dan bagaimana teknologi mempengaruhi sekaligus mengubah prilakunya," ujar Shalahuddin.

Digitalitasi, menurut Shalahuddin, telah melahirkan cara hidup dan interaksi sosial baru, cara berpikir masyarakat berubah, begitu pula cara mempercayai sesuatu dan cara berinteraksi.

"Masalahnya, hidup kita sudah digital, tapi cara kita memahami dunia masih cara lama,” katanya.

Ia juga memaparkan sejumlah persoalan domestik yang muncul di era digital, mulai dari kesenjangan teknologi, perbedaan antara citizen dan netizen hingga kesenjangan sosial.

Selain itu, fenomena digital juga memunculkan pergeseran otoritas yang bahkan menantang struktur otoritas mapan.

Shalahuddin menilai perkembangan teknologi turut memberi tekanan psikologis terhadap masyarakat, termasuk pada aspek mental dan identitas, serta mempengaruhi cara dan kemampuan berpikir masyarakat.

Menurutnya, masyarakat kini lebih cepat bosan dan konten edukasi harus bersaing dengan hiburan digital yang lebih mudah viral.

"Selama ini kita sering menganggap literasi informasi digital cukup dengan pelatihan cara menggunakan aplikasi atau cara aman di internet. Padahal, yang lebih penting adalah memahami cara berpikir dan bagaimana dunia digital mengontrol kehidupan kita," jelas Shalahuddin.

Dalam menjaga nalar publik, Shalahuddin menilai dibutuhkan peran bersama dari berbagai pihak.

Menurutnya, guru berperan merawat cara berpikir generasi di ruang kelas, pegiat literasi membangun nalar kritis di akar rumput, sementara pustakawan berfungsi menjernihkan sumber informasi publik.

Ia juga menekankan pentingnya membangun resiliensi digital melalui penguatan identitas dan nalar kritis, kemampuan memilah serta memverifikasi informasi, keamanan digital, hingga dukungan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi.

"Kita tidak bisa menghentikan perkembangan teknologi. Tapi kita bisa memastikan manusia tetap memegang kendali," ujarnya.

Menurut Shalahuddin, literasi digital sejatinya bukan hanya soal kemampuan menggunakan teknologi, melainkan kemampuan tetap menjadi manusia yang memiliki arah di tengah derasnya perkembangan teknologi.

Sementara, Sekretaris Daerah Provinsi Sulbar Junda Maulana menegaskan pentingnya literasi informasi di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial saat ini.

Menurutnya, informasi dapat menjadi pendukung pembangunan, namun juga bisa menjadi penghambat apabila tidak dikelola dengan baik.

"Ketika berita yang diterima itu baik dan kita informasikan kembali secara benar, maka itu akan berdampak baik. Tapi kalau buruk dan disebarkan tanpa dianalisis, maka dampaknya juga buruk," kata Junda Maulana.

Ia menjelaskan, literasi informasi merupakan kemampuan seseorang untuk mengetahui kapan membutuhkan informasi, bagaimana memperoleh informasi, mengelolanya, hingga menyebarkannya secara tepat.

"Kadang tanpa literasi informasi, kita mudah sekali terpengaruh dengan informasi yang diterima. Apalagi di media sosial, banyak orang menerima informasi tanpa mencerna dan menganalisis, lalu langsung membagikannya kembali," ujarnya.

Junda Maulana mengibaratkan pentingnya literasi informasi seperti kompas dalam perjalanan di tengah samudera.

"Tanpa informasi yang baik dan kemampuan mengelolanya, ibarat mengarungi samudera tanpa kompas. Kita bisa tersesat," kata Junda Maulana.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026