PNUP Makassar komitmen ciptakan lulusan siap kerja

id politeknik negeri ujung pandang,asisah aziz,humas,lulusan siap kerja

Politeknik Negeri Ujung Pandang (Istimewa)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP) Makassar berkomiten menciptakan atau melahirkan lulusan yang siap kerja.

Humas PNUP Asisah Azis di Makassar, Selasa, mengatakan para mahasiswa sejak awal kuliah memang sudah diarahkan untuk porsi praktek sebanyak 70 persen dan sisanya 30 teori sehingga per kelas itu maksimal 25 mahasiswa berhubung satu alat untuk satu mahasiswa.

"Selama ini PNUP konsisten dan komitmen melahirkan lulusan yang siap terserap di dunia kerja," katanya.

Ia menjelaskan, untuk kampus tersebut memang sudah memiliki unit Carier Centre yang mana telah bekerjasama dengan perusahaan baik skala nasional hingga internasional.

"Mahasiswa PNUP rata-rata belum di wisuda sudah direkrut bekerja di perusahaan," jelasnya.

Menristekdikti Mohamad Nasir pada Rapat Koordinasi Forum Direktur Politeknik Se-Indonesia (FDPNI) di Kota Batu, Malang, Jawa Timur, 12 Maret 2018 mengatakan kebutuhan dunia industri yang menuntut kompetensi lulusan politeknik harus di match dengan learning outcome yang ada di politeknik.

Beberapa cara yang ditempuh pemerintah bersama-sama dengan politeknik diantaranya adalah dengan merancang program "Multi Entry Multi Outcome" (MEMO) bagi mahasiswa politeknik.

"Nantinya, mahasiswa dapat memilih berbagai altetnatif perkuliahan yang memungkinkan mereka untuk langsung bekerja di industri dengan tetap dapat kembali lagi ke kampus (kuliah)," tuturnya.

MEMO kata dia, diharapkan dapat mempercepat kebutuhan industri dan memutus mata rantai kemiskinan. Jadi lulusan politeknik akan selalu siap kerja bukan siap training.

"Tahun pertama misalnya, (mahasiswa) dapat sertifikat KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) level 3, terus mau bekerja, kembali lagi dia (ke kampus) itu bisa melanjutkan ke tahun kedua. Tidak ada DO (drop out), istilahnya zero DO," jelas Nasir.

Terkait penilaian akreditas, Menteri Nasir menyebutkan banyak politeknik yang sebenarnya berkualitas namun belum mendapat akreditasi yang baik.

Adapun instrumen yang digunakan BAN PT adalah instrumen pada akademik. Sementara politeknik aspek akademiknya hanya 30 persen, 70 persennya adalah praktek. Untuk itu harus ada instrumen khusus untuk penilaian politeknik.
Pewarta :
Editor: Amirullah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar