Ketua Komisi B DPRD Sulsel Yusa Rasyid Ali di Makassar, Jumat, usai melakukan kunjungan komisi di Desa Pattalassang mengatakan, peternak setempat mencurigai ada kepentingan pedagang karena rata-rata sapi tersebut terpaksa dipotong dan dijual murah menjelang Idul Fitri lalu.
"Kemungkinan keracunan ataukah diracuni, supaya peternak langsung potong dan jual murah, mungkin ada yang lakukan untuk kepentingan dagang. Ini perlu diselidiki. Semua aparat harus saling mendukung," katanya.
Saat menjelang lebaran, lanjut dia, peternak di di dusun Tassili, Bontolebang, Burung-burung, Suwangi, Sangnging-sangnging, dan Marannu terpaksa memotong sapinya karena tidak mau makan, dan kondisinya sangat lemah.
Karena takut mati, para peternak yang umumnya kategori pra sejahtera memotong sapinya untuk dijual kepada pedagang dengan harga murah Rp1,5 juta sampai Rp2 juta per ekor.
Harga tersebut sangat berbeda apabila peternak menjual sapinya sebelum dipotong dengan harga antara Rp5 juta sampai Rp6 juta per ekor.
Yusa meyakini ada motif tertentu dibalik keanehan yang terjadi pada sapi di Pattalassang sebelum lebaran, karena tidak ada indikasi sapi tersebut terkenan virus antraks maupun penyakin lainnya.
Menurup politisi Demokrat ini, sampel darah dan rongga dari sapi yang dipotong telah diuji di laboratorium hewan di Maros namun tidak ditemukan indikasi penyakin hewan termasuk antraks.
Atas kejadian tersebut, ia meminta kepada peternak di Pattalassang untuk tidak lagi mengikat atau melepas sapinya di sekitar rumah atau kebun, tetapi membuatkan kandang.
Kepada aparat kepolisian dan instansi terkait, Yusa meminta agar melakukan pengusutan tuntas, agar kejadian tersebut tidak menjalar ke kecamatan atau kabupaten lain.
Kunjungan komisi B DPRD Sulsel didampingi Kadis Peternakan Gowa, Ahmad S, dan Kepala Desa Pattassang, Jamaluddin. (T.KR-AAT/S016)