Unhas kembangkan kultur jaringan spesies anggrek alam
Jumat, 10 April 2015 16:53 WIB
Makassar (ANTARA Sulsel) - Laboratorium Bio Sains dan Bioteknologi Reproduksi Tanaman Universitas Hasanuddin (Unhas) dan "Teaching Industry" Unhas mengembangkan kultur jaringan berbagai spesies anggrek alam Indonesia.
"Beberapa spesies yang kami kembangkan secara kultur jaringan diantaranya adalah anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek macan (Grammatophyllum scriptum), anggrek kribo (Dendrobium spectabile), dan jenis anggrek lain yang umumnya dijumpai tumbuh liar di alam," kata Kepala Laboratorium Bio Sains dan Bioteknologi Reproduksi Tanaman Unhas Dr. Rinaldi Sjahril di Makassar, Jumat.
Pengembangan kultur jaringan anggrek alam atau yang disebut dengan anggrek spesies ini, kata Rinaldi, salah satunya bertujuan untuk mengkonservasi plasma nutfah anggrek-anggrek spesies Indonesia.
"Anggrek alam ini penting sebagai sumber plasma nutfah untuk pemuliaan tanaman anggrek," ujarnya.
Selain untuk kepentingan konservasi, anggrek-anggrek ini juga digunakan sebagai bahan penelitian dosen dan mahasiswa. Sementara "Teaching Industry," lanjutnya, juga menyediakan bibit botolan anggrek-anggrek ini secara komersil.
Upaya untuk mengumpulkan dan mengkonservasi anggrek-anggrek spesies ini, kata Rinaldi, telah dilakukan sejak tahun 2009. Berawal dari kerja sama penelitian antara Unhas dan Univesitas Gadjah Mada (UGM) untuk melakukan eksplorasi anggrek spesies di Kabupaten Enrekang, kemudian terus berlanjut hingga saat ini.
Konservasi anggrek-anggrek spesies ini, kata Rinaldi, juga telah dilakukan dengan menanam anggrek spesies di Fasilitas Hutan Pendidikan Unhas di Bengo-Bengo, Kabupaten Maros. Anggrek-anggrek ini juga ditempatkan di pepohonan di areal pintu satu Unhas.
Pihaknya, kata dia, juga melatih masyarakat di beberapa kabupaten di Sulsel, khususnya pada wilayah yang rentan perburuan anggrek alam di hutan, agar masyarakat dapat melakukan kultur jaringan secara sederhana.
Dengan kultur jaringan sederhana, jelasnya, masyarakat dapat menumbuhkan tanaman anggrek dari biji, sehingga mereka dapat mengembangkan tanaman anggrek tanpa merusak anggrek alam di hutan.
"Pelatihan tersebut telah kami lakukan di Kabupaten Enrekang, Bantaeng dan Gowa yang potensial untuk mengembangkan anggrek. Harapannya masyarakat dapat memenuhi kebutuhan ekonominya dengan menjual anggrek, tetapi kelestarian anggrek alam juga tetap terjaga," pungkasnya. Agus Setiawan
"Beberapa spesies yang kami kembangkan secara kultur jaringan diantaranya adalah anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek macan (Grammatophyllum scriptum), anggrek kribo (Dendrobium spectabile), dan jenis anggrek lain yang umumnya dijumpai tumbuh liar di alam," kata Kepala Laboratorium Bio Sains dan Bioteknologi Reproduksi Tanaman Unhas Dr. Rinaldi Sjahril di Makassar, Jumat.
Pengembangan kultur jaringan anggrek alam atau yang disebut dengan anggrek spesies ini, kata Rinaldi, salah satunya bertujuan untuk mengkonservasi plasma nutfah anggrek-anggrek spesies Indonesia.
"Anggrek alam ini penting sebagai sumber plasma nutfah untuk pemuliaan tanaman anggrek," ujarnya.
Selain untuk kepentingan konservasi, anggrek-anggrek ini juga digunakan sebagai bahan penelitian dosen dan mahasiswa. Sementara "Teaching Industry," lanjutnya, juga menyediakan bibit botolan anggrek-anggrek ini secara komersil.
Upaya untuk mengumpulkan dan mengkonservasi anggrek-anggrek spesies ini, kata Rinaldi, telah dilakukan sejak tahun 2009. Berawal dari kerja sama penelitian antara Unhas dan Univesitas Gadjah Mada (UGM) untuk melakukan eksplorasi anggrek spesies di Kabupaten Enrekang, kemudian terus berlanjut hingga saat ini.
Konservasi anggrek-anggrek spesies ini, kata Rinaldi, juga telah dilakukan dengan menanam anggrek spesies di Fasilitas Hutan Pendidikan Unhas di Bengo-Bengo, Kabupaten Maros. Anggrek-anggrek ini juga ditempatkan di pepohonan di areal pintu satu Unhas.
Pihaknya, kata dia, juga melatih masyarakat di beberapa kabupaten di Sulsel, khususnya pada wilayah yang rentan perburuan anggrek alam di hutan, agar masyarakat dapat melakukan kultur jaringan secara sederhana.
Dengan kultur jaringan sederhana, jelasnya, masyarakat dapat menumbuhkan tanaman anggrek dari biji, sehingga mereka dapat mengembangkan tanaman anggrek tanpa merusak anggrek alam di hutan.
"Pelatihan tersebut telah kami lakukan di Kabupaten Enrekang, Bantaeng dan Gowa yang potensial untuk mengembangkan anggrek. Harapannya masyarakat dapat memenuhi kebutuhan ekonominya dengan menjual anggrek, tetapi kelestarian anggrek alam juga tetap terjaga," pungkasnya. Agus Setiawan
Pewarta : Nurhaya J Panga
Editor :
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Dinas ESDM Sulsel membutuhkan fasilitas laboratorium guna tingkatkan PAD
01 February 2025 7:42 WIB, 2025
BPOM Mamuju uji sampel minuman kemasan yang diduga sebabkan keracunan
06 January 2025 21:54 WIB, 2025
BBPOM Makassar menguatkan jejaring laboratorium mendukung program MBG
27 December 2024 19:59 WIB, 2024
Sekdaprov Sulsel mengapresiasi tawaran BBPOM bentuk forum laboratorium
02 November 2024 15:38 WIB, 2024
Dokter larang orang minum kopi dan teh sebelum tes darah di laboratorium
27 September 2024 11:36 WIB, 2024
Terpopuler - Daerah
Lihat Juga
Pemkab Gowa targetkan konversi 150 ton sampah jadi energi terbarukan lewat PSEL
04 April 2026 20:54 WIB
Gubernur Sulsel: Tantangan terbesar program imunisasi adalah mindset orang tua
02 April 2026 21:18 WIB
Pemkot Makassar dan Telkomsel berpeluang kolaborasi program digitalisasi sekolah
02 April 2026 19:49 WIB