Penelitian Arkeologi Eksploitasi Gua-gua Prasejarah Di Kawasan Kars Bontocani;

id balai arkeologi

Fakhri S.S. (Foti Istimewa)

Fase Hunian dan Lapisan Budaya dari Pleistosen Akhir hingga Holosen Di Dataran Tinggi Sulawesi Selatan
Oleh Fakhri*


Pada tahun 2009 untuk pertama kalinya Balai Arkeologi Sulawesi Selatan (Sulsel) melakukan penelitian di kawasan ini dan menemukan beberapa situs berdasarkan beberapa informasi dari warga sekitar. Penggalian pertama kali dilakukan di Leang Batti hingga beberapa tahap dan menemukan sebuah lapisan budaya yang kaya dengan tinggalan arkeologi. Bukti arkeologi di antaranya adalah artefak batu yang terdiri dari tatal dan batu inti sebagai sisa penyerpihan, alat serpih berupa penyerut dengan teknologi yang masih sangat kasar, palu batu, peralatan tulang, sisa-sisa makanan dari fragmen tulang binatang dan tembikar yang ditemukan pada lapisan atas. Selain itu gambar cadas berupa gambar tangan dan binatang anoa juga ditemukan di dinding gua.

Selain Leang Batti, situs lain yang memperlihatkan bentuk-bentuk gambar cadas bervariatif adalah Leang Uhalie. Situs ini terletak di sebelah barat daya dengan jarak 6,5 km dari Leang Batti. Bentuk dan teknik pembuatan gambar cadas pada kedua situs tersebut sama dengan gambar cadas yang ditemukan di gua-gua di dataran rendah Sulsel dari hunian Pleitosen akhir. Gambar tersebut juga menunjukkan indikasi adanya potensi hunian Pleistosen akhir di Kawasan Bontocani.

Beberapa peneliti beranggapan Sulsel sebagai lokus penelitian ini adalah pulau terluas di Zona Wallacea dan diduga kuat menjadi salah satu rute jalur migrasi manusia modern awal (homo sapiens) dari daratan Sunda (Sundaland) menyeberangi laut dalam, sebelum akhirnya tiba di daratan Australia Utara pada sekitar 65.000 tahun silam. Bukti tertua kehadiran mereka di Pulau Sulawesi saat ini masih sekitar 40.000 hingga 18.000 tahun silam dengan bukti arkeologi berupa alat batu (peralatan sehari hari) yang telah melalui analisa C14, yang  memperkenalkan tradisi gambar cadas di dinding-dinding gua Kawasan Kars Maros-Pangkep, Sulsel. Bukti tersebut dari hasil pertanggalan beberapa sampel gambar binatang dan cap tangan menggunakan metode Uranium Series di beberapa gua-gua yang umumnya berada di wilayah dataran rendah Sulsel. Bukti ini juga hasil pertanggalan lukisan gua di Maros (satu kawasan dengan Bontocani) menunjukkan angka plus minus 39.000 tahun yang lalu.

Penelitian pada tahun 2014 hingga 2017, dengan memperluas areal suvei di bagian barat daya dan menemukan puluhan gua-gua di lokasi tersebut. Penggalian kemudian dilakukan Situs Balang Metti 1 pada tahun 2015 dan 2016 dan juga di Situs Cappalombo 1 pada tahun 2017. Penggalian di Situs Ballang Metti 1 ditemukan sebuah rangka manusia dan lapisan budaya yang kaya dengan peralatan mikrolit, serpih buangan, batu inti, tembikar serta sisa makanan berupa tulang binatang dan cangkang kerang. Penggalian di Situs Cappalombo 1 juga menemukan rangka manusia dan artefak batu yang terdiri alat serpih berupa lancipan maros, mikrolit dan bilah berpunggung, serpih-serpih buangan, fragmen tulang binatang dan tembikar. Penggalian pada kedua situs ini juga menunjukkan adanya lapisan budaya teknologi Toalian dari lapisan hunian holosen di dataran rendah Sulawesi Selatan.

Uraian hasil penelitian sampai saat ini menunjukkan lapisan budaya gua-gua prasejarah di dataran rendah Sulsel dari fase Pleistosen akhir hingga Holosen. Bukti arkeologi pada lapisan budaya tersebut menunjukkan pola interaksi penghuni gua di dataran rendah Sulawesi dengan lingkungan sekitar serta pola tingkah laku dalam menciptakan sebuah seni yang menjadi simbol identitas mereka di Zona Wallacea. Pada fase hunian Holosen, mereka berhasil mengembangkan teknologi alat batu yang lebih kompleks untuk peralatan berburu. Pertanyaannya kemudian adalah apakah penghuni gua-gua ini hanya mengeksploitasi dataran rendah saja? Bagaimana dengan Kawasan Kars Bontocani yang ada di dataran tinggi, kaya dengan potensi gua-gua hunian.

Salah satu data terbaru yang menarik dari beberapa temuan ekskavasi di situs sekitar kawasan karst ini adalah ditemukannya rangka manusia (Hakim, 2017; Fakhri, 2017) yang berasosiasi dengan temuan arkeologi dengan ciri teknologi masa Plestosen akhir dan kesinambungan masa Holosen dalam satu wilayah budaya. Dengan latar belakang permasalahan penelitian tersebut, dianggap perlunya satu penelitian yang komprehensif dan menyeluruh untuk mengkaji wilayah budaya kars Bontocani dan sebagian besar wilayah dataran tinggi lain di Sulsel.

Untuk itu pihaknya akan melakukan penelitian selanjutnya yang rencana mulai dari 16 Oktober sampai 14 November 2018, dengan output yang diharapkan antara lain:

1. Laporan hasil penelitian yang dilengkapi dengan hasil pertanggalan selama masa hunian di Situs Gua-gua Prasejarah Kawasan Kars Bontocani;
2. Terbitnya sebuah Berita Penelitian Arkeologi tentang Penelitian Gua-gua Prasejarah Kawasan Kars Bontocani;
3. Peta sebaran gua-gua Prasejarah serta nilai pentingnya di Kawasan Kars Bontocani;
4. Artikel penelitian yang akan diterbitkan di beberapa jurnal Nasional terutama yang terakreditasi;
5. Dokumentasi video kegiatan penelitian selama proses kegiatan berlangsung untuk persiapan publikasi Online;
6. Buku Pengayaan tentang budaya prasejarah Kawasan Kars Bontocani, di Kabupaten Bone untuk kalangan pelajar tingkat menengah;
7. Beberapa alat peraga artefak batu untuk kalangan pelajar dari hasil penelitian eksperimen teknologi alat Batu di Kawasan Bontocani.

Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk dapat menjawab ras dari rangka manusia yang ditemukan pada penggalian penelitian sebelumnya. Hal ini dilakukan guna menjawab manusia pendukung kebudayaan plestosen akhir atau holosen awal di Sulawesi. Tujuan lain yang akan dicapai adalah usaha untuk menjawab dan menjelaskan tentang manusia Toala di Sulawesi. Dengan pencapaian tujuan penelitian ini diharapkan akan terbangun proses penelitian yang sesuai dengan Nawa Cita yang menyinggung tentang pertemuan budaya antar komunitas, masyarakat, etnik dan ras. Selain itu, diharapkan pula pengembangan dari penelitian ini adalah terbangunnya akses fasilitas infrastruktur pada wilayah “pedalaman” yang masih jarang tersentuh.

Penelitian difokuskan dengan metode pengumpulan data survei dan ekskavasi. Survei direncanakan akan menyisir gugusan kawasan karst di sekitar tiga perbukitan gamping Bontocani sampai ke wilayah selatan. Data survei diharapkan dapat menambah referensi ploting situs di sekitar kawasan budaya. Salah satu tujuan dilakukannya survei adalah untuk mengidentifikasi dan memetakan situs dengan pola dan karakter yang sama sesuai dengan permasalahan penelitian yang diajukan. Selain survei, langkah pengumpulan data lain yang dilakukan adalah dengan ekskavasi.

Satu hal penting yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah studi eksperimental tentang artefak batu yang dihasilkan oleh budaya penghuni situs-situs di Kawasan Kars Bontocani. Studi eksperimental ini akan dilakukan dengan mencari sumber bahan artefak batu yang ditemukan dalam penggalian melalui survei dan studi peta geologi. Dari studi sumber tersebut akan dilakukan uji pembuatan artefak batu untuk kemudian dijadikan sebagai alat peraga arkeologi yang diharapkan dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah, utamanya sekolah yang ada di sekitar wilayah situs.

Adapun analisis yang akan dilakukan antara lain adalah analisis residu pada temuan artefak batu dan temuan artefak lainnya. Analisis pada temuan artefak batu dengan melakukan identifikasi bentuk dan pola penggunaan batu yang ditemukan di situs yang diekskavasi.
Penelitian ini dianggap dapat menjadi jembatan penghubung untuk menjelaskan jejak proses budaya yang terjadi di Sulawesi, khususnya pada hunian manusia prasejarah di Sulawesi.

*) Penulis adalah Peneliti Bidang Prasejarah Balai Arkeologi Sulawesi Selatan.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar