
Laskar Merah Putih Makassar Boikot Aset Malaysia

Makassar (ANTARA News) - Puluhan warga Makassar yang tergabung dalam Laskar Merah Putih, Senin, memboikot sejumlah aset milik perusahaan asing asal Malaysia.
Di antara aset-aset perusahaan Malaysia yang diboikot para pengunjung rasa itu adalah Bank CIMB Niaga dan Bank Internasional Indonesia (BII) di Jalan Ahmad Yani serta Kajaolalido Makassar.
Massa pengunjung rasa meminta para karyawan perusahaan-perusahaan milik Malaysia itu agar keluar dari kantor mereka.
Beberapa karyawan dan pimpinan kedua bank tersebut ikut dalam kerumunan massa yang menentang aksi pelecahan dan penghinaan Malaysia terhadap pemerintahan dan rakyat Indonesia.
Pimpinan Harian Bank CIMB Niaga Makassar, Rahmat Haris, menegaskan ia dan karyawan lainnya akan tetap mendukung dan setia pada langkah Indonesia.
"Semangat dan nasionalisme kami tidak usah diragukan karena sebagai warga negara Indonesia, kami akan selalu setia membela kehormatan bangsa kami," tegasnya kepada pengunjuk rasa.
Usai berunjuk rasa di kedua bank itu, para demonstran kemudian bergerak ke Kabupaten Gowa untuk mencabut nama Jalan Perdana Menteri Malaysia Tun Abdul Razak sebagai bentuk perlawanan mereka.
Ketua Umum Laskar Merah Putih Provinsi Sulawesi Selatan Andi Nur Alim menegaskan, aksi protes balasan yang dilakukan Pemerintahan Diraja Malaysia merupakan penghinaan terhadap Bangsa Indonesia.
Karena itu, ia meminta Pemerintah Indonesia agar segera duduk bersama dengan DPR RI untuk memberikan payung hukum kepada para prajurit TNI, khususnya di perbatasan NKRI dengan Malaysia.
Dengan payung hukum itu, TNI dapat mengambil tidakan tegas terhadap "pihak asing" yang mencoba melanggar perbatasan demi keutuhan kedaulatan dan kehormatan NKRI.
Andi mengatakan, pihaknya juga mendesak Pemerintahan RI agar sesegera mungkin menyelesaikan sengketa perbatasan dengan Malaysia.
Kepada seluruh elit politik, ia mengimbau mereka agar menahan diri, tidak saling menghujat maupun saling menyalahkan karena kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan segala-galanya.
Gelombang demonstrasi anti-Malaysia pecah di berbagai kota di Indonesia sebagai ungkapan kemarahan atas pelanggaran polisi Diraja Malaysia terhadap perairan RI 13 Agustus lalu.
Pekan lalu sekitar 600 orang demonstran menggelar aksinya di depan Kedubes Malaysia di Jakarta.
Mereka mengutuk panangkapan dan penahanan polisi diraja Malaysia terhadap tiga petugas Departemen Kelautan dan Perikanan RI yang bertugas mengamankan perairan Tanjung Berakit milik RI dari pencurian ikan oleh tujuh nelayan Malaysia 13 Agustus lalu.
Aksi demonstrasi tersebut diwarnai dengan pembakaran bendera Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak mengatakan dia tidak melihat aksi para demonstran itu mewakili sikap pemerintah RI karena hubungan kedua negara "sangat baik".
Pemimpin Malaysia itu mengatakan, Dubes RI di Kuala Lumpur Da'i Bachtiar telah pun diminta untuk memberitahu pihak terkait di Indonesia agar memperketak pengamanan terhadap Kedubes Malaysia di Jakarta agar insiden yang sama tidak terjadi lagi.
Terkait dengan desakan berbagai pihak, termasuk anggota DPR-RI, agar Pemerintah Malaysia meminta maaf atas insiden 13 Agustus yang dipandang mereka sebagai penghinaan atas kedaulatan NKRI, Menlu Datuk Seri Anifah Aman justru menolak meminta maaf.
Sebaliknya, Menlu Malaysia ini justru mengecam aksi unjuk rasa di berbagai daerah di Indonesia dan mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya yang hendak ke Indonesia.
Kendati pecah gelombang aksi anti-Malaysia di Indonesia, Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menilai Indonesia tetap "sahabat" negaranya.(T.KR-MH/R013)
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
