Logo Header Antaranews Makassar

Industri Kecil Sulbar Terkendala Modal

Selasa, 14 Desember 2010 09:48 WIB
Image Print

Mamuju (ANTARA News) - Pengembangan industri kecil khususnya kerajinan rumah tangga dengan produk khas daerah di Provinsi Sulawesi Barat terkendala modal.

Pimpinan industri kerajinan rumah tangga Anjoro Sulbar, Salman Iqbal di Mamuju, Selasa, mengatakan, Sulbar memiliki budaya khas yang dapat dikembangkan menjadi kerajinan produk lokal yang memiliki nilai jual cukup tinggi.

Ia mengatakan, sejumlah pelaku industri kecil di Sulbar saat ini sedang mengupayakan mengembangkan kebudayaan lokal yaitu perahu "Sandeq". Sandeq adalah salah satu jenis perahu tradisional Suku Mandar serta kebudayaan lainnya seperti sarung "Sekomenadi".

"Perahu "Sandeq" merupakan salah satu kebudayaan di Sulbar yang memperkenalkan daerah ini sebagai daerah yang masyarakatnya cinta bahari,"katanya.

Menurut dia, sejumlah pelaku industri kecil mengembangkan pembuatan perahu tradisional Sandeq tersebut melalui kerajinan tangan dengan membuat kerajinan sandeq miniatur berupa pajangan dan perhiasan.

Ia mengatakan, kerajian tersebut telah membuka lapangan kerja bagi sejumlah masyarakat di Sulbar yang mampu memproduksi perahu sandeq tersebut.

"Harga jual perahu sandeq hiasan harganya mencapai sekitar Rp50 ribu per perbuah untuk perahu kecil dan Rp250 ribu untuk perahu sandeq yang ukurannya sedikit lebih besar,"katanya.

Namun kata dia, perahu sandeq yang mampu di produksi pelaku usaha industri sangat minim hanya sekitar lima unit perhari, produksinya itu dianggap sangat sedikit karena keterbatasan modal yang dimiliki pelaku usaha industri.

Menurut dia, perahu sandeq yang dihasilkan di Sulbar telah diperkenalkan ke sejumlah negara seperti Jepang. Negara itu berminat memasarkan kerajinan tangan tersebut karena disukai, sehingga usaha tersebut cukup menjanjikan untuk dikembangkan.

Begitu juga, kerajinan tangan lainnya dari hasil kebudayaan lokal masyarakat Sulbar yaitu sarung sekomendi, yang dikembangkan di Kecamatan Kalumpang Kabupaten Mamuju sebagai daerah asal kebudayaan tersebut.

"Pembuatan satu sarung sekomendi ditekun hingga dua minggu lamanya karena pekerjaannya secara manual tanpa teknologi, itu dianggap menjadi penghambat pelaku industri kecil karena produksinya terbatas padahal satu sarung sekomendi ketika dipasarkan harganya menjanjikan sekitar Rp250 ribu perbuah,"katanya.

Oleh karena itu, ia meminta agar kendala modal pengusaha industri kerajinan jadi perhatian pemerintah dengan memberikan bantuan modal agar usaha mereka memiliki tekonologi yang mampu memproduksi kerajinan tangan agar mutu produksi yang dihasilkan lebih baik.

"Selama inii ndustri kecil Sulbar belum pernah mendapatkan bantuan modal, sehingga kondisi yang dialami usaha kecil ini menjadi perhatian pemerintah untuk segera memberikan bantuan modal. (T.KR-MFH/S016)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026