
Nilai Ekspor Sulsel Naik 50 Persen

Makassar (ANTARA News) - Nilai ekspor Sulawesi Selatan meningkat 50,03 persen pada 2010 dengan total volume sebesar 612,973.915 ton dan total nilai ekspor lebih dari 2,016 miliar dolar AS.
Jumlah ini melampaui target Sulsel yang mengharapkan peningkatan ekspor sebesar 15-20 persen per tahun.
"Semua ekspor kita naik dari 1,3 miliar dolar AS pada 2009 menjadi 2,016 miliar dolar atau naik sekitar 50 persen. Itu tandanya kita punya ekonomi bergerak kuat," kata Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo di Makassar, Kamis.
Dia mengatakan jenis komoditas ekspornya juga semakin bervariasi. Seperti hari ini ada permintaan ekspor kancing baju lagi dari Korea Selatan.
Peningkatan ekspor tersebut diukur dari 10 negara tujuan ekspor terbesar Sulsel yaitu Jepang, Amerika Serikat, Malaysia, Brazil, China, Singapura, Jerman, Belanda, Vietnam dan Korea.
"Komoditas ekspor seperti kakao butter, kopi arabika dan nikel membaik. Kita sangat yakin akselerasi ekonomi pada tingkat dasar pertanian dapat terus dilanjutkan,"ujarnya.
"Tinggal membutuhkan kreasi dan dinamisasi untuk meningkatkan kualitas hasil produksi," sambungnya.
Rumput laut, lanjutnya, juga mengalami kenaikan signifikan hingga lebih dari 169 persen dan akan didorong terus untuk lebih ditingkatkan.
Namun, jika dilihat dari sisi pembelian harga nilai ekspor ke Korea dan Brazil mengalami penurunan. Ia memperkirakan penurunan ini dipengaruhi daya tawar dan perkembangan kemampuan produksi negara tujuan.
"Untuk itu, saya ke sana Korea sekaligus untuk, menjajaki perbaikan hubungan dengan para pengusaha di sana," jelasnya.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Achmad Habib menambahkan, sejumlah komoditas ekspor yang mengalami penurunan dari sisi pembelian harga ke negara tujuan Brazil adalah biji kakao dan bubuk kakao sebesar 35,84 persen.
"Kita akan dorong terus untuk mengekspor dalam bentuk kakao olahan agar lebih bernilai tambah dengan dukungan tiga industri di Sulsel," jelasnya yang menambahkan ekspor kakao Sulsel 2010 mencapai 170 ribu ton termasuk bubuk dan butter.
Sementara untuk Korea, penurunannya mencapai 19,64 persen pada komoditas dedak gandum, ulat sutera dan kancing.
Sejumlah tantangan yang dihadapi Sulsel saat ini adalah labelisasi halal produk khusus makanan konsumsi untuk diekspor ke negara-negara timur tengah dan persaingan harga komoditas dengan negara tetangga terkait jarak distribusi.(T.KR-RY/B008)
Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
