Logo Header Antaranews Makassar

Menara Telkomsel Terbanyak, DPRD Terapkan Perda

Sabtu, 7 Mei 2011 01:32 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA News) - DPRD Kota Makassar akan menerapkan Peraturan Derah (Perda) terkait retibusi menara (tower-BTS) dan menara terbanyak di Makassar milik operator selular provider Telkomsel.

"Perda tentang pengendalian menara telekomunikasi sudah rampung tinggal menunggu pengesahan dan akan dibuatkan panitia khusus (Pansus). Nanti bila diberlakukan akan ditarik retribusi," kata anggota Komisi B Bidang Ekomomi dan Keuangan DPRD Kota Makassar, Irwan di Makassar, Sabtu.

Ia menyebutkan, lebih dari 200 menara yang terpasang di Kota akassar sehingga kota terkesan semrawut, sehingga salah satu cara menatanya dibuatkan perda yang tinggal
menunggu pengesahan. Menara terbanyak dimiliki provider PT Telkomsel yang hampir memonopoli sehingga estetika kota pun menjadi tergangu.

"Kayaknya tower Telkomsel terbanyak yang terpasang di pemukiman penduduk dan menyusul provider lainnya. Untuk itu diharapkan perda ini dibuat untuk menarik retribusi agar masuk ke kas daerah. Selain itu, ke depannya diupayakan agar tower yang sudah ada agar dipindahkan di atas gedung misalnya, sebagai salah satu langkah alternatif," katanya.

Selain itu masalah penataan kota, Perda ini diusulkan terkait tuntutan undang undang telekomunikasi dan amanat Undang Undang pajak Nomor 28 Tahun 2009 serta retribusi daerah. Setelah undang undang itu diterbitkan, maka daerah diminta untuk membuat aturan teknis terkait pengaturan menara telekomunikasi dan tidak memonopoli pembangunan infrastukturnya.

"Salah satu Mesjid misalnya di Kompleks perumahan Dosen Unhas Tamalanrea setahu saya, pemasangan Menara milik Telkomsel itu providernya membayar hingga Rp1 miliar ke pihak pengelola mesjid dengan alasan untuk pengembangan ke masyarakat, sementara tidak ada yang masuk ke kas daerah untuk nantinya direalisasikan ke rakyat," ujarnya.

Syamsuddin warga Kelurahan Buakana, Kecamatan Rappocini yang juga berdekatan dengan Tower Telkomsel, mengaku takut kalau-kalau suatu saat tower tersbut rubuh dan menimpa rumahnya, Selain itu tubuhnya mulai merasakan gatal karena alergi diduga bersumber dari gelombang medan elektromagnetik yang dipancarkan BTS tersebut.

"Kami was-was kalau nanti terjadi apa-apa, rubuh misalnya. Badan juga terkadang gatal mungkin alergi tapi tidak tahu penyebabnya apa," akunya.

Medan elektromagnetik di sekitar BTS juga berdampak pada lingkungan hidup. Burung dan lebah menjadi sering mengalami disorientasi atau kehilangan arah sehingga mudah stres karena tidak bisa menemukan arah pulang menuju ke sarang. (T.KR-HK/F003)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026