Logo Header Antaranews Makassar

Faktor Struktural dan Kultural Penyebab Ketimpangan Sosial

Rabu, 8 Januari 2014 20:12 WIB
Image Print
"Sifat kuda lepas kandang pada ekonomi elite disinyalir Koentjaraningrat, disebutnya mentalitas suka menerabas, yaitu semangat mumpung untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara apapun," katanya

Jeneponto, Sulsel (ANTARA Sulsel) - Ketua Program Studi S3 Sosiologi Universitas Negeri Makassar Prof Dr Andi Agustang MSi mengatakan ketimpangan sosial di Indonesia disebabkan faktor struktural dan kultural yang mewarnai kehidupan ekonomi elite dan kehidupan ekonomi golongan masyarakat bawah.

Andi mengemukakan hal itu pada orasi ilmiah berjudul "Transformasi Sosio-Kultural Masyarakat Indonesia ke Arah Kepentingan Pembangunan" pada wisuda STIE-STKIP Yapti Jeneponto, Rabu.

Dia menjelaskan, faktor kultural diibaratkan sebagai tenaga listrik, dengan indikator, tidak berorientasi ke depan, tidak ada "growth philosophy" karena tidak suka menabung untuk peningkatan investasi, kurang ulet dan cepat menyerah, suka berpaling ke akhirat dan tidak menganggap penting dunia yang sedang dijalaniny dan kurang respon terhadap permintaan.

"Lemahnya aspek kultural ini, disebabkan pengaruh ajaran fatalistik atau paham Jabariah, Imam Al-Gazali. Ajaran ini, dalam penetrasinya ke masyarakat, berbaur dengan ajaran Hindu dan Budha yang telah terdidik keluhuran budi pekerti pada masyarakat. Pembauran itu kemudian melahirkan sikap keluhuran budi (ketinggian perasaan), selanjutnya disinyalir sebagai penyebab lemahnya nilai kerja pada masyarakat Indonesia," katanya.

Dia mengatakan dalam masyarakat Bugis Makassar misalnya Manre Te Manre yang penting mangkumpulu atau dalam bahasa Makassar Nganre tan Nganre yang penting Asserre demikian pula di Jawa dikenal falsafah mangan ora mangan watan kumpul.

"Faktor struktural diibaratkan sebagai `jaringan listrik`, yakni berupa lemahnya akses ekonomi bagi golongan masyarakat bawah terhadap unsur kemajuan seperti: modal, teknologi, manajemen pemasaran, informasi dan sebagainya. Di Indonesia, tenaga listrik yang dihasilkan adalah lemah dan jaringan listrikpun terputus-putus, akibatnya sering terjadi hubungan pendek. Kondisi seperti ini saya sebut dengan istilah mobil kurang tenaga, sehingga sulit untuk bisa menanjak," katanya.

Sebaliknya pada ekonomi elite, ujar dia, menampilkan wujud lain, yakni kuda lepas kandang, kKuda lepas kandanglah manabrak segala yang merintangi jalannya. Demikian pula perangi ekonomi elite banyak melanggar norma, baik norma masyarakat, agama maupun peraturan/perundangan negara.

"Sifat kuda lepas kandang pada ekonomi elite disinyalir Koentjaraningrat, disebutnya mentalitas suka menerabas, yaitu semangat mumpung untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara apapun," katanya. Biqwanto



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026