Takalar (ANTARA) - Sebanyak 3.059 Koperasi Merah Putih di Provinsi Sulawesi Selatan resmi beroperasi setelah Presiden Prabowo Subianto meresmikan 80 ribu Koperasi Desa Merah Putih di seluruh Indonesia secara serentak.
"Di Sulsel telah tuntas mendirikan 3.059 koperasi desa lengkap dengan akta resmi. Kabupaten Takalar jadi pilot project (proyek percontohan) digitalisasi untuk Sulsel. Ini menjadi contoh implementasi sesuai harapan Bapak Presiden agar ekonomi kita berputar langsung di desa," kata Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman di Takalar, Senin.
Ia menjelaskan saat menghadiri peresmian Koperasi Merah Putih di Desa Aeng Batu-Batu, Kabupaten Takalar, koperasi desa ini dilengkapi fasilitas digitalisasi dan siap mengintegrasikan sembilan layanan ekonomi berbasis masyarakat.
Pemerintah provinsi dan kabupaten serta kota mengharapkan koperasi berbasis digital dapat menjadi motor penggerak ekonomi di desa.
Andi Sudirman menitipkan pesan penting bagi masyarakat agar berbelanja di koperasi desa.
Pemerintah menetapkan lokasi proyek percontohan digitalisasi koperasi desa di Kabupaten Takalar yang dapat mengintegrasikan sembilan layanan ekonomi berbasis masyarakat tersebut.
Koperasi Merah Putih Aeng Batu-Batu di Takalar dilengkapi sejumlah unit usaha penting, seperti gerai layanan simpan pinjam syariah, produk UMKM, bahan pokok, klinik, apotek, pangkalan elpiji, penjualan sarana produksi pertanian, gudang pupuk, agen pos, agen mandiri hingga kafe.
Bupati Takalar M Firdaus Daeng Manye menyampaikan Koperasi Desa Merah Putih ini memiliki sembilan unit usaha aktif sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
"Ada klinik, apotek, sembako, gas, bank syariah, alsintan (alat dan mesin pertanian) dan alat tulis. Ini sudah digital, pakai EDC, bisa QRIS dan semua tercatat otomatis sistem," katanya.
Ia menjelaskan koperasi tersebut juga menggunakan sistem digitalisasi manajemen stok maupun pengaturan keuangan sehingga setiap transaksi dapat dipantau secara langsung dan nyata.
"Dengan sistem ini, ketua koperasi harus bisa kelola unit usahanya dengan transparan dan profesional. Dan tidak boleh ada lagi koperasi seperti zaman dulu (Koperasi Unit Desa) yang tidak jelas pengelolaan keuangannya," kata dia.
Dengan menyasar 5.000 penduduk atau sekitar seribuan kepala keluarga, dia mengharapkan, Koperasi Desa Merah Putih mampu menciptakan perputaran ekonomi antara Rp1 miliar hingga Rp2 miliar per tahun.
"Misalnya saja, dari gas elpiji saja, bila 500 rumah tangga membeli dengan margin Rp3 ribu, maka potensi omzetnya itu bisa mencapai Rp15 juta per bulan," katanya.
Saat ditanya pendanaan awal koperasi ini berdiri hingga beroperasi, Firdaus mengemukakan, sementara ini didanai oleh dana desa internal, sedangkan ke depan akan diperkuat melalui dukungan pinjaman dari alokasi dana desa antara Rp500 juta hingga Rp1 miliar.

