Logo Header Antaranews Makassar

Murid SD di NTT ditemukan tewas karena tak bisa beli buku, ini tanggapan warga Makassar

Jumat, 6 Februari 2026 07:46 WIB
Image Print
Sepucuk surat yang diduga milik korban. (ANTARA/HO-medsos)

Makassar (ANTARA) - Seorang murid kelas IV Sekolah Dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), berinisial YBR (10), ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkih yang berada di kebun milik neneknya pada Kamis (29/1/2026).

Polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi korban.
Surat tersebut ditulis dalam bahasa daerah Bajawa dan berisi ungkapan kekecewaan YBR terhadap ibunya, serta pesan perpisahan. Polisi masih mendalami isi surat dan motif dibalik peristiwa ini.

Kasus ini menuai beragam tanggapan dari masyarakat. Esse Yusuf, seorang ibu rumah tangga di Makassar menilai kejadian ini sangat menyedihkan dan mencerminkan beratnya perjuangan anak-anak yang ingin bersekolah namun terkendala kondisi ekonomi keluarga.

“Sebagai orang tua, seharusnya kita bertanggung jawab atas kebutuhan anak, termasuk pendidikan. Apalagi jika anak memiliki keinginan kuat untuk bersekolah. Ke depan, orang tua dan guru harus lebih memperhatikan anak-anak, dan pemerintah juga perlu memberi perhatian khusus bagi anak dari keluarga kurang mampu,” ujarnya kepada ANTARA baru-baru ini.

Pendapat serupa disampaikan oleh Laboran Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar, Muhammad Nur Iksan. Ia menekankan pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak dalam menghadapi kesulitan ekonomi.

“Kalau kondisi ekonomi sedang sulit, sebaiknya orang tua menjelaskan dengan baik kepada anak. Jika saya jadi orang tua, saya akan memberi ruang kepada anak-anak saya untuk berkomunikasi secara terbuka,” katanya.

Sementara itu, Agung Prasetyo, salah satu civitas akademika Universitas Hasanuddin, menyoroti peran pemerintah yang dinilainya masih kurang dalam menunjang pendidikan di wilayah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).

“Peran pemerintah masih lemah dalam hal penganggaran kebutuhan pendidikan, seperti buku tulis dan perlengkapan sekolah. Masih banyak anak di wilayah 3T yang belum mendapat fasilitas tersebut,” tuturnya.

Peristiwa ini diharapkan menjadi perhatian bersama agar kesejahteraan dan pendidikan anak-anak, khususnya di daerah 3T, semakin diperhatikan oleh semua pihak.



Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026