Logo Header Antaranews Makassar

Penurunan harga emas perhiasan picu deflasi di Sulsel

Senin, 4 Mei 2026 17:33 WIB
Image Print
Petugas BSI menawarkan program cicil emas dalam kegiatan BSI Fest Ramadhan 2026 di Makassar, Jumat (13/3/2026). ANTARA/Muh Hasanuddin.

Makassar (ANTARA) - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat tingkat perekonomian provinsi itu pada awal April 2026 terjadi deflasi 0,03 persen secara bulanan atau month to month (mtm) karena turunnya harga emas perhiasan.

Kepala BPS Sulsel Aryanto di Makassar, Senin, mengatakan deflasi Sulsel terjadi karena kontribusi kelompok pada sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya.

"Secara nasional umumnya itu inflasi dan di Sulsel deflasi 0,03 persen dan itu disumbang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ujarnya.

Aryanto menerangkan penurunan harga beberapa komoditi seperti emas perhiasan, ikan benggol, ikan sisik, telur ayam, pepaya, ikan bandeng, angkutan antarkota, cabai rawit, daging ayam ras dan ikan teri.

Sementara 10 komoditas lainnya yang menjadi penyeimbang deflasi atau inflasi dengan kenaikan harganya seperti tomat, angkutan udara, minyak goreng, bawang merah, cabai merah, ikan gabus, tempe, telepon selular, kopi bubuk dan laptop.

Aryanto menambahkan penyumbang utama deflasi bulan April 2026 secara bulanan adalah kelompok pengeluaran perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 1,66 persen terhadap inflasi.

"Adapun komoditas penyumbang deflasi adalah emas perhiasan, ikan benggol, ikan sisik, telur ayam, pepaya yang masing-masing sebesar 0,14 persen, 0,05 0,05, 0,04 dan 0,03 persen," katanya.

Sementara untuk tahunan atau year on year (yoy) April 2026 tingkat inflasi disebabkan oleh andil kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,41 persen dengan komoditas penyumbang utama pada kelompok ini emas perhiasan.

"Inflasi tertinggi terjadi di Sidenreng Rappang (Sidrap) sebesar 3,94 persen dengan IHK sebesar 109,81 dan terendah terjadi di Kota Parepare sebesar 2,18 persen dengan IHK sebesar 112,39," ucapnya.




Pewarta :
Editor: Riski Maruto
COPYRIGHT © ANTARA 2026