Logo Header Antaranews Makassar

DLHK Sulbar edukasi generasi muda menghadapi perubahan iklim

Sabtu, 23 Mei 2026 04:43 WIB
Image Print
Kepala DLHK Sulbar Zulkifli Manggazali. ANTARA/HO-Diskominfo Sulbar

Mamuju (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Sulawesi Barat bekerja sama Yayasan Sulawesi Cipta Forum melaksanakan sekolah lapang iklim tahun 2026, sebagai upaya mengedukasi generasi muda dalam menghadapi perubahan iklim.

"Kegiatan yang dilaksanakan di berbagai lokasi ProKlim, khususnya di Kabupaten Mamuju dan Majene ini, bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya generasi muda dalam menghadapi serta mengendalikan dampak perubahan iklim," kata Kepala DLHK Sulbar Zulkifli Manggazali, di Mamuju, Jumat.

Kegiatan itu, kata Zulkifli, juga sejalan dengan arah kebijakan Pemprov Sulbar dalam mendorong pembangunan daerah yang berkelanjutan, memperkuat ketahanan lingkungan, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang adaptif terhadap tantangan perubahan iklim dan kebencanaan.

Ia menekankan, pentingnya edukasi sejak dini kepada generasi muda agar memiliki pemahaman yang lebih baik terkait perubahan iklim dan kesiapsiagaan bencana.

Melalui kegiatan ini para peserta, katanya, tidak hanya mendapatkan materi terkait perubahan cuaca dan iklim, tetapi juga pembelajaran tentang adaptasi perubahan iklim, pengelolaan sampah, praktik pemilahan sampah hingga materi kebencanaan.

"Selain menjadi sarana transfer pengetahuan, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang diskusi dan berbagi pengalaman antar-peserta serta narasumber dalam membangun kesadaran lingkungan dan budaya tanggap iklim di kalangan pelajar," jelasnya.

Zulkifli berharap, melalui kegiatan sekolah lapang iklim dapat mendorong lahirnya generasi muda yang peduli lingkungan, tangguh menghadapi perubahan iklim, serta aktif dalam mendukung upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di Sulbar.

Perubahan iklim merupakan tantangan global yang saat ini telah memberikan dampak nyata terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

"Peningkatan suhu bumi, cuaca ekstrem, hingga berbagai bencana lingkungan menjadi bukti bahwa upaya mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus terus diperkuat," jelas Zulkifli.

Pemerintah katanya, telah menetapkan berbagai kebijakan untuk menghadapi perubahan iklim, salah satunya melalui Program Komunitas Untuk Iklim (ProKlim) yang mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam meningkatkan ketahanan terhadap dampak perubahan iklim sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca.

Hampir setiap hari lanjutnya, kejadian bencana alam di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari banjir, longsor, angin kencang, hujan ekstrem hingga gempa dan gunung meletus.

"Tentu kita memahami bahwa kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja, tetapi ada faktor pemicu yang salah satunya dipengaruhi oleh perubahan iklim ekstrem," kata Zulkifli.

Sementara, Ketua Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah Amiruddin menilai, sekolah lapang iklim merupakan langkah strategis dan investasi jangka panjang dalam membangun generasi yang sadar iklim.

"Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan biasa, tetapi menjadi upaya membangun generasi yang sadar iklim. Kami berharap peserta dapat belajar secara langsung, interaktif, dan praktis di lapangan," kata Aminuddin.



Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026