Logo Header Antaranews Makassar

Banpol Wajo Tewas Dianiaya

Jumat, 18 September 2009 17:25 WIB
Image Print

Makassar (ANTARA Sulsel) - Seorang anggota Bantuan Polisi (Banpol) di Wilayah Sengkang, Sulawesi Selatan, dianiaya oleh anggota Polres Wajo hingga tewas.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, Pakkasse (59), diduga tewas dianiaya saat polisi sedang menginterogasinya di ruangan penyelidikan kantor Polisi Resor (Polres) Wajo, usai buka puasa, Kamis (17/9) sekitar pukul 18.30 Wita.

Penangkapan dan pemeriksaan tersebut terkait kecurigaan polisi terhadap korban yang dianggap sebagai anggota jaringan pencuri motor (Curanmor) di Wilayah Sengkang.

Sementara keluarga korban yang curiga dan keberatan dengan perlakuan tersebut, akhirnya jenazah anggota Banpol yang telah mengabdi selama 20 tahun lebih ini dilarikan ke Instalasi Kedokteran Forensik Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Mappa Oudang Makassar untuk dioutopsi.

Sebelumnya korban dibawa ke Rumah Sakit Umum (RSU) Sengkang. Ditemukan luka memar dileher kiri belakang dan punggung sebelah kanan.

Salah satu anak korban, Anto (30), Jumat, di Makassar, mengugkapkan, jika keluarganya tidak terima perlakuan polisi terhadap ayahnya. Mereka menduga Pakkasse dianiaya dengan benda keras hingga mati lantaran dituduh sebagai jaringan curanmor.

Anto menceritakan, kasus ini berawal saat Banpol senior ini bermaksud melerai pertengkaran antara polisi dengan seorang anak yang dituduh ingin mencuri motor Yamaha di Pasar Sentral Sengkang (17/9) sekitar pukul 17.00 Wita sore.

Karena polisi tersebut tidak mengenal korban, akhirnya sejumlah polisi di pasar tersebut langsung melumpuhkannya dengan tangan kosong dan membawanya ke Polres Wajo untuk diperiksa.

"Saat saya mau jenguk ayah saya, petugas melarang saya masuk untuk menemuinya. Akhirnya saya minta izin kepada salah satu anggota perwira, tapi saya temukan bapakku sudah tidak bernyawa lagi dikursi rungan penyidik," ungkap Anto

Menurutnya, saat mengetahui ayahnya ditangkap, dirinya bermaksud akan menemuinya, namun sejumlah polisi melarangnya masuk. Setelah mendapat izin dari anggota perwira ia pun diperbolehkan menemui ayahnya.

Saat didalam ruangan penyidik, dia melihat ayahnya sudah tergeletak di atas bangku panjang penyidik dalam keadaan sudah tidak bernyawa dan telinganya mengeluarkan darah.

"Polisi bilang ia hanya pingsan dan menyuruhku segera membawanya ke rumah sakit sebelum meninggal," jelasnya.

Anto dan beberapa keluarganya yakin jika kematian ayah lima anak ini akibat penganiayaan dengan benda tumpul, yang diduga adalah gagang pistol dan diketahui selama ini korban tidak memiliki penyakit dan berencana akan memperkarakan kasus ini dipengadilan.

"Kami menduga dilakukan oleh salah seorang polisi berpangkat Briptu. Pelaku itu memang terbilang polisi baru di Polres Wajo, jadi tidak mengenal Takkasse, padahal dia cukup dikenal di jajaran polres Wajo," ujarnya.

(T.PSO-101/F003)