Menteri KP : Ekonomi biru dongkrak perekonomian melalui investasi & teknologi
Sabtu, 14 Mei 2022 12:37 WIB
Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia bersama Farid Naufal Aslam selaku Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO). (ANTARA/HO)
Jakarta (ANTARA) - Ekonomi biru mampu membuka peluang investasi dan lapangan kerja serta mendongkrak perekonomian Nasional, demikian Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) Indonesia Sakti Wahyu Trenggono dalam pembahasan bersama startup perikanan Aruna pada Jumat (13/5).
"Ekonomi biru mampu membuka peluang investasi dan lapangan kerja serta mendongkrak perekonomian nasional maka dari itu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki tiga fokus program 2021-2024 yakni penangkapan terukur, budidaya yang berorientasi ekspor dan kampung bahari yang berbasis kearifan lokal," kata Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia dalam keterangan pers Aruna pada Sabtu.
Aruna diwakili oleh Farid Naufal Aslam selaku Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) berdialog secara langsung dengan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia dalam rangkaian acara Jabar Harmoni Podcast episode ke 2 yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni ITB Jawa Barat dengan mengusung tema “Mas Treng, Jalesveva Jayamahe?”
Dialog tersebut mengulas tentang konsep Blue Economy (Ekonomi Biru), Wisata Bahari serta Kedaulatan Maritim Indonesia.
Blue Economy sendiri tengah menjadi fokus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini yang menekankan pada keseimbangan 2 aspek pada ekosistem kelautan yaitu ekologi dan ekonomi. Di mana, keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan Indonesia tidak hanya dilihat dari potensi kelautan sebagai sumber komoditas ekonomi saja namun juga menekankan pada menjaga kelestarian lingkungan hidup di ekosistem bahari.
Aruna menyampaikan komitmen untuk menjadikan laut sebagai mata pencaharian yang lebih baik bagi semua orang khususnya nelayan dan masyarakat pesisir. Dengan teknologi yang Aruna kembangkan, Aruna yakin dengan adanya teknologi dapat membantu proses bisnis menjadi lebih efisien dan meringkas mata rantai proses rantai pasokan sambil mencatat transaksi harian dalam hal pengoptimalan data serta implementasi artificial intelligent/AI di masa depan untuk penangkapan ikan berkelanjutan.
"Kami melihat potensi maritim Indonesia sangat besar, Indonesia sebagai negara terbesar ke-2 sebagai penghasil ikan di dunia, potensi seperti ini tentunya harus dipertahankan. Aruna hadir dan berkomitmen untuk membantu para nelayan serta masyarakat pesisir untuk hidup lebih sejahtera.Aruna juga memiliki harapan 5 hingga 10 tahun kedepan menjadi perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan serta dapat mengejar pertumbuhan lebih dari lima kali dengan hanya memenuhi pesanan dari pelanggan yang ada," Farid Naufal Aslam, Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO).
Selain itu, Aruna sependapat dengan KKP bahwa Indonesia kaya akan sumber daya hasil lautnya dimana dari wilayah Indonesia adalah laut sehingga Aruna melihat banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pesisir khususnya nelayan Indonesia.
Aruna juga sangat mengedepankan proses bisnis yang berkelanjutan dengan terus mengedukasi nelayan untuk melindungi ekosistem pesisir berupa penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan serta mencegah penangkapan ikan yang berlebihan.
"Ekonomi biru mampu membuka peluang investasi dan lapangan kerja serta mendongkrak perekonomian nasional maka dari itu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memiliki tiga fokus program 2021-2024 yakni penangkapan terukur, budidaya yang berorientasi ekspor dan kampung bahari yang berbasis kearifan lokal," kata Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia dalam keterangan pers Aruna pada Sabtu.
Aruna diwakili oleh Farid Naufal Aslam selaku Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) berdialog secara langsung dengan Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia dalam rangkaian acara Jabar Harmoni Podcast episode ke 2 yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni ITB Jawa Barat dengan mengusung tema “Mas Treng, Jalesveva Jayamahe?”
Dialog tersebut mengulas tentang konsep Blue Economy (Ekonomi Biru), Wisata Bahari serta Kedaulatan Maritim Indonesia.
Blue Economy sendiri tengah menjadi fokus Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini yang menekankan pada keseimbangan 2 aspek pada ekosistem kelautan yaitu ekologi dan ekonomi. Di mana, keberlanjutan sektor kelautan dan perikanan Indonesia tidak hanya dilihat dari potensi kelautan sebagai sumber komoditas ekonomi saja namun juga menekankan pada menjaga kelestarian lingkungan hidup di ekosistem bahari.
Aruna menyampaikan komitmen untuk menjadikan laut sebagai mata pencaharian yang lebih baik bagi semua orang khususnya nelayan dan masyarakat pesisir. Dengan teknologi yang Aruna kembangkan, Aruna yakin dengan adanya teknologi dapat membantu proses bisnis menjadi lebih efisien dan meringkas mata rantai proses rantai pasokan sambil mencatat transaksi harian dalam hal pengoptimalan data serta implementasi artificial intelligent/AI di masa depan untuk penangkapan ikan berkelanjutan.
"Kami melihat potensi maritim Indonesia sangat besar, Indonesia sebagai negara terbesar ke-2 sebagai penghasil ikan di dunia, potensi seperti ini tentunya harus dipertahankan. Aruna hadir dan berkomitmen untuk membantu para nelayan serta masyarakat pesisir untuk hidup lebih sejahtera.Aruna juga memiliki harapan 5 hingga 10 tahun kedepan menjadi perusahaan yang berfokus pada keberlanjutan serta dapat mengejar pertumbuhan lebih dari lima kali dengan hanya memenuhi pesanan dari pelanggan yang ada," Farid Naufal Aslam, Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO).
Selain itu, Aruna sependapat dengan KKP bahwa Indonesia kaya akan sumber daya hasil lautnya dimana dari wilayah Indonesia adalah laut sehingga Aruna melihat banyak potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pesisir khususnya nelayan Indonesia.
Aruna juga sangat mengedepankan proses bisnis yang berkelanjutan dengan terus mengedukasi nelayan untuk melindungi ekosistem pesisir berupa penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan serta mencegah penangkapan ikan yang berlebihan.
Pewarta : Ida Nurcahyani
Editor : Anwar Maga
Copyright © ANTARA 2026
Terkait
Komoditas ekspor Sulsel jangkau 63 negara, didominasi perikanan dan pertanian
24 April 2026 21:29 WIB
Jenazah laki-laki korban pesawat ATR terindentifikasi bernama Deden Maulana
22 January 2026 5:41 WIB
Lewat program KKP, Gubernur usulkan revitalisasi 200 hektare tambak rakyat di Sulbar
07 November 2025 5:04 WIB
Terpopuler - Ekonomi
Lihat Juga
Belanja pemerintah pusat di Sulsel pada triwulan I 2026 mencapai Rp4,7 triliun
06 May 2026 14:22 WIB