Warga Makassar krisis air bersih PDAM

id pdam makassar,krisis air,kemarau,biringkanaya

Sejumlah warga bergantian mengisi air bantuan bencana kekeringan di Desa Kawengen, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Selasa (18/9). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/18.

Makassar (Antaranews Sulsel) - Warga Kota Makassar yang berada di wilayah utara mengalami krisis air bersih baik yang disuplai oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Makassar maupun air sumur.

Hal itu dikemukakan warga Kelurahan Untia, Kecamatan Biringkanayya Makassar yang diwakili Daeng Romo di Makassar, Selasa.

Menurut dia, kelangkaan air bersih sudah dirasakan warga dipemukiman nelayan ini sejak awal 2000-an setiap musim kemarau, sehingga untuk memenuhi kebutuhan air bersih dirinya terpaksa harus membeli air yang ditebus dengan harga yang cukup mahal.

Ia mengaku membeli air satu setengah kubik seharga Rp90 ribu untuk memenuhi kebutuhan mandi dan lainnya. Bukan hanya itu warga juga harus rela mengantri untuk mendapatkan air PDAM.

Pemandangan itu terlihat dari ratusan jeregen kosong yang menanti datangnya mobil tangki PDAM dijejer dipinggiran jalan salodong setiap pagi.

Sementara itu, lanjut Daeng Romo, mobil tangki PDAM pun hanya melayani kebutuhan air warga per blok di pemukiman nelayan ini secara bergantian. "Krisis air bersih bukan hanya diderita warga pada saat musim kemarau, namun juga tetap dirasakan oleh warga pada musim hujan," ujarnya.

Berkaitan dengan hal tersebut Daeng Romo berharap pemerintah segera turun tangan untuk mengatasi krisis air di kelurahan untia dan segera mempercepat penyelesaian bak penampungan air, sehingga krisis airyang selalu melanda warga Makassar tidak lagi terjadi.

Hal serupa dikemukakan warga di Kelurahan Capoa, Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. Menurut warga di lokasi itu, Syamsiah setiap minggu terpaksa ke rumah sepupunya di selatan Kota Makassar untuk mencuci pakaian. "Jadi cucian ditumpuk dulu selama sepekan, nanti akhir pekan baru ke rumah keluarga mencuci," katanya.
 
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar