Logo Header Antaranews Makassar

Ambon Lengang Rayakan Tahun Baru Islam

Jumat, 18 Desember 2009 09:38 WIB
Image Print

Ambon (ANTARA Sulsel) - Kota Ambon dan sekitarnya, Provinsi Maluku terlihat lengang saat merayakan Tahun Baru Islam (1 Muharram 1431 Hijriyah), Jumat.

ANTARA melaporkan, lengangnya kota Ambon ini turut dipengaruhi cuaca panas sehingga masyarakat lebih memilih diam di rumah, kecuali umat Islam saat mengikuti sholat Jumat di mesjid - mesjid di permukiman.

Aktifitas lalu lintas yang biasanya macet di kawasan Mardika hingga desa Batumerah, kecamatan Sirimau tidak terlihat.

Bahkan, ojek di pangkalan Batumerah yang biasanya puluhan unit antri sambil menunggu penumpang hanya terlihat belasan unit.

Begitupun angkutan kota (angkot) trayek Batumerah yang menjadi rebutan para penumpang terlihat para kondektur antri sehingga ngantuk karena sepinya pengguna jasa transportasi tersebut.

Objek wisata pantai seperti Natsepa di Desa Suli dan Liang, Kecamatan Salahutu, Pulau Ambon juga sepi pengunjung.

Pemandangan serupa juga terlihat di pantai Namalatu, Desa Latuhalat, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.

Masyarakat, terutama yang beragama Kristen memanfaatkan waktu liburan ini untuk mengecat dan membersihkan rumah. Sedangkan ibu - ibu menyiapkan kain jendela, pintu serta aneka makanan maupun minuman karena perayaan natal tinggal enam hari.

Para PNS yang kampung halamannya di Pulau Haruku, Saparua, Nusalut dan Seram dengan tenggat waktu perjalanan memanfaatkan jasa kapal cepat, kapal motor penyeberangan (Kmp) dan speedboat berkisar 1,5 hingga dua jam juga mudik sejak Kamis (17/12) sehingga menambah lengangnya ibu kota provinsi Maluku.

Sedangkan Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Maluku memprogramkan karnaval budaya bernuansa Islami mengitari pusat kota Ambon pada Jumat sore.

"Sedikitnya 3.000 peserta yang sebagian besar adalah siswa taman kanak - kanak akan memeriahkan karnaval tersebut," kata Ketua PHBI Maluku, Husein Toisutta.

Husein Toisutta berbesar hati karena kegiatan ini turut didukung Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) setempat untuk terlibat guna mengawasi anak- anak.

"Kami pun telah menyurati Badan Pekerja Harian (BPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Keuskupan Amboina dan Angkatan Muda GPM untuk "mengawal" pelaksanaan karnaval sebagaimana kebersamaan dalam pawai malam takbiran maupun Natal," kata Husein.

PHBI Maluku, lanjutnya, bertekad menjaga jalinan keharmonisan antarumat beragama sebagai warisan leluhur yang dibingkai budaya "pela dan gandong".

"Jadi kebersamaan dengan BPH Sinode GPM , Keuskupan Amboina, Walubi dan Parisada Hindu Dharma tetap dipelihara agar Maluku tetap berada kondisi damai," ujar Husein Toisutta.

(T.L005/A011)