Logo Header Antaranews Makassar

Manfaatkan Bandara Sultan Hasanuddin Untuk Pariwisata

Kamis, 23 April 2009 07:37 WIB
Image Print

Oleh Syarifuddin May

Makassar (ANTARA Sulsel) - Sektor pariwisata Sulawesi Selatan mulai menggeliat menyusul hadirnya Bandara Sultan Hasanuddin sebagai bandara internasional di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Bandara, selama ini, terbukti sebagai sarana infrastruktur yang menentukan kemajuan dan perkembangan sektor pariwisata suatu daerah.

Sebab itu, kata Ketua PHRI Sulsel Anggiat Sinaga, dengan hadirnya bandara baru di Makassar itu, sektor pariwisata di kawasan itu akan berkembang lebih pesat pada masa datang,

Para pelaku bisnis pariwisata setempat, katanya, harus memanfaatkan peluang ini dengan kerja keras untuk manjaring kunjungan wisatawan mancanegara ke Sulsel pada tahun kunjungan 2009.

Hadirnya bandara baru yang dibangun dengan dana Rp1,2 triliun dan diresmikan tahun lalu itu, kata dia, hendaknya menjadi perhatian pemerintah dan para pelaku industri pariwisata setempat sebagai pintu gerbang di kawasan itu.

Anggiat menyatakan optimistis sektor pariwisata daerah itu semakin membaik meski dihadang krisis ekonomi global.

Sinaga yang baru terpilih memimpin PHRI akhir pekan lalu meminta perhatian serius pemerintah untuk mengembangkan pariwisata daerah sebagai salah satu sektor pemasok devisa dan pundi-pundi kas pemerintah daerah setempat.

Sejak Bandara Sultan Hasanuddin diresmikan tahun lalu, tingkat kunjungan wisatawan asing dan domestik ke Sulsel mengalami peningkatan berarti.

Dinas Kebudayaan dan pariwisata Sulsel menargetkan kunjungan wisman ke provinsi itu pada 2009 sebanyak 40.000 orang, meningkat dari kunjungan pada 2008 sekitar 30.000 orang.

"Kita bisa menarik kunjungan wisman lebih banyak dari tahun lalu dengan mamanfaatKan fasilitas Bandara Sultan Hasanuddin sebagai pintu gerbang di KTI," kata Kadis Budpar Sulsel Malobasang.

Di Bandara Sultan Hasanuddin hingga saat ini baru ada satu maskapai penerbangan internasional, yakni Air Asia, yang melayani rute penerbangan Makassar-Kualalumpur Malaysia dua kali dalam sepekan.

Sebelumnya, dua perusahaan penerbangan asing, Malaysia Air Service (MAS) dan Silk Air Singapura, juga membuka perwakilan di Makassar. Namun kedua perusahaan tersebut angkat kaki karena merugi.

PHRI setempat meminta dukungan Pemprov Sulsel menambah maskapai penerbangan asing dari Makassar, selain Air Asia yang telah beroperasi selama satu tahun.

"Kita berharap dalam tahun ini, ada penambahan maskapai asing yang membuka rute penerbangan langsung ke Makassar," ujar Anggiat yang juga Dirut Hotel Clarion dan Quality Makassar.

Bandara Sultan Hasanuddin termasuk bandara dengan penerbangan cukup sibuk setelah Soekarno-Hatta, dan Ngurah Rai, terutama untuk rute domestik yang menghubungkan wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia.

Bandara Hasanuddin kini juga lebih mudah dijangkau dari pusat kota Makkasar, setelah adanya jalan tol yang pembukaannya bersamaan dengan pembukaan bandara itu.


Wisata unggulan

Sebagai satu dari sepuluh daerah tujuan wisata andalan nasional, sulawesi Selatan memiliki beragam obyek wisata yang diyakini bisa menarik minat wisatawan.

Selain pesta adat rambu tuka (pesta syukuran) dan rambu solo (upacara pemakaman), Tanatoraja juga memiliki obyek wisata langka berupa kuburan baru, rumah adat Tongkonan serta panorama alam pegunungan yang indah serta hasil kerajinan rakyat.

Koordinator nasional Asita untuk KTI Nico B Pasaka mengatakan, sektor jasa pariwisata Sulsel memiliki prospek cukup cerah setelah didukung dengan perubahan status Bandara Sultan Hasanuddin dari bandara domestik menjadi bandara internasional.

Kalau sudah internasional, maka predikat itu harus benar-benar sesuai dengan statusnya dengan penerbangan rute luar negeri, bukan puas dengan padatnya penerbangan domestik, ujar Nico.

Mengembangkan pariwisata, kata dia, bukan hanya tanggungjawab para pelaku bisnis sektor jasa ini. Tugas itu juga ada pada pundak pemerintah serta instansi terkait, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten dan kota.

Pemerintah bertanggungjawab terhadap pembenahan obyek wisata di daerah, sehingga wisatawan punya banyak pilihan untuk melihat obyek wisata di beberapa daerah, termasuk wisata kuliner yang memiliki cita rasa khas.

Inftrastruktur, kata Nico juga menentukan, khususnya transportasi udara maupun darat untuk mencapai lokasi wisata yang ditawarkan suatu daerah.

"Hindari melakukan promosi obyek wisata yang belum siap dan tidak punya daya tarik, sebab bisa berdampak negatif terhadap citra daerah bersangkutan bahkan nama Indonesia di mata wisatawan," ujarnya.

Pemerintah Provinsi Sulsel, kata Nico, hendaknya segera menambah maskapai penerbangan asing masuk ke Makassar, baik untuk tujuan negara tetangga, kawasan Asia mapun Eropa yang menjadi pasar wisata tradisional Sulsel selama ini.

Menurut dia, Eropa hingga saat ini masih menjadi pasar potensial bagi Sulsel disamping wisatawan serumpun dari Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam serta China dan Jepang.

Namun, kata dia, wisatawan asing dari kawasan itu hanya sebagian kecil yang berkunjung ke Sulsel karena mereka sebagian besar telah mengunjungi Bali dan beberapa daerah lainya.

Obyek wisata yang ada di Sulsel, antara lain Pantai Bira Bulukumba, pemandian alam air terjun Bantimurung dengan habitat kupu-kupu khas, Goa Mimpi dan Leang-Leang Maros, festival Danau Tempe Wajo, dan Maudu Lompoa Takalar.

Obyek wisata bahari, antara lain Pulau Taka Bonerate Selayar, yang dikenal sebagai pulau karang (atol) terbaik di dunia, gugusan pulau-pulau Spermonde, pulau Kodingareng, Barang Lompo dan Barang Caddi, Pulau Kayangan, pulau Samalona dan wisata pantai Tanjung Bunga Makassar.

Untuk obyek wisata budaya dan religius ada Makam Syech Yusuf, Makam Sultan Hasanuddin di Gowa, Masjid Jamai' Tua Palopo, Makam Datu' Patimang di Luwu Utara, Museum Raja Bone, rumah adat Wajo, Museum Lagaligo, Makam Raja Tallo, Benteng Roterdam, dan Masjid Al Markaz Al Islamy Makassar.

Beragam jenis obyek wisata yang ada di Sulsel tersebut tidak kalah menarik dibanding dengan yang ada di provinsi lain, kata Nico.
(T.S016/s018)