Logo Header Antaranews Makassar

Limbah Pertanian untuk Pakan Ternak di Perbatasan

Selasa, 23 Oktober 2012 14:21 WIB
Image Print

Atambua, NTT (ANTARA News) - Pemerintah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur menerapkan pola penyediaan pangan semi intensif memanfaatkan limbah pertanian untuk dijadikan sebagai stok pangan ternak di daerah batas negara RI-Timor Leste itu.

"Pola ini kami lakukan untuk mengatasi kemungkinan kekurangan stok pangan bagi ternak masyarakat saat memasuki musim kemarau," kata Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Belu, Yeremias Taek di Atambua, Selasa.

Ia mengatakan, kondisi dan pola peternakan yang dilakukan peternak di seluruh wilayah Kabupaten Belu, masih sangat tradisional, dengan memanfaatkan padang sebagai lokasi penyedia pakan ternak.

Namun demikian lanjut dia, hal itu tidak bisa diterapkan pada musim kemarau, di mana padang yang sebelumnya tersedia pakan bagi ternak, menjadi kering. Apalagi luas areal padang yang ada sangat terbatas.

Karena kondisi itulah, kata Yeremias, petani peternak di Kabupaten Belu sangat sulit mendapatkan stok pakan bagi pemenuhan kebutuhan ternak yang dimilikinya.

Pemerintah Kabupaten Belu melalui Dinas Peternakan, telah menerapkan penyediaan pakan dengan pola semi intensif yang memanfaatkan limbah pertanian jenis jagung, kacang-kacangan dan padi yang kemudian dipadukan dengan sejumlah unsur konsentrat yang memadai untuk dijadikan sebagai pakan ternak di musim kemarau.

Menurut dia, hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa limbah pertanian jenis jagung, kacang-kacangan dan padi, memiliki kandungan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan hewan, jika dikelola berimbang dengan campuran konsntrat lainnya.

"Prinsipnya, jika campuran konsentratnya baik, dipadu dengan pemberian kebutuhan air yang baik, maka hewan ternak akan mendapatkan cukup nutrisi untuk perkembangannya," kata Yeremias.

Memang diakui, kekurangan akan pakan bagi hewan ternak untuk pemenuhan kebutuhannya pada setiap musim kemarau, selalu dialami. Karena itu, butuh langkah antisipatif secara bersama dan sinergis antara pemerintah dan masyarakat, untuk menyelamatkan keberadaan hewan ternak di daerah itu, sebagai salah satu sumber penghidupan.

Selain langkah tersebut, upaya lain yang dilakukan untuk tetap menjaga ketersediaan ternak di Kabupaten Belu, sebagai salah satu daerah penghasil ternak di provinsi kepulauan itu dengan memperkuat penyuluh peternakan di lapangan, kendatipun masih sangat terbatas.

Menurut dia, petugas penyuluh peternakan, masih sangat penting untuk terus menjadi penadamping masyarakat dalam setiap kegiatan pengembangan peternakan masyarakat di daerah ini.

Ia mengaku, kondisi penyuluh peternakan saat ini, hanya memenuhi satu orang untuk setiap kecamatan yang ada. Idelanya, setiap kecamatan, harus tersedia minimal lima orang penyuluh peternakan, dengan komposisi, seorang dokter hewan, dua orang paramedis dan dua orang lainnya tenaga administratif.

Namun dengan kondisi yang dimiliki saat ini, lanjut Yeremias, pemerintah melalui Dinas Peternakan tetap berupaya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan di lapangan, agar tujuan untuk mengembalikan Kabupaten Belu sebagai gudang ternak unggul bisa terpenuhi.

Terhadap kondisi populasi ternak yang ada di Kabupaten Belu hingga saat ini, Yeremias mengatakan, sangat tersedia dengan jumlah populasi 117.118 ekor sapi.

Ia berharap, masyarakat peternak yang ada di seluruh wilayah perbatasan RI-Timor Leste tersebut, bisa memanfaatkan semua fasilitas yang disediakan pemerintah, demi menunjang upaya peningkatan kesejahteraan melalui peningkatan ekonomi rumah tangga. (T.KR-YHS/S004)



Pewarta :
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026