
Walikota : Pemboman Gereja Murni Kriminal Bukan Karena Politik

Makassar (Antara News) - Wali Kota Makassar Ilham Arief Sirajuddin menyatakan, teror bom molotov yang terjadi di sejumlah rumah ibadah khususnya gereja bukan karena faktor politik tetapi murni tindak kriminal, apalagi memanfaatkan momen pascapemilihan Gubernur Sulawesi Selatan.
"Kita sengaja dibuat sibuk dengan aksi kriminal ini dan ini bukan faktor politik tetapi memanfaatkan momentum pilkada. Jadi, saya tegaskan ini perbuatan kriminal murni dan polisi harus menindaknya," tegasnya di Makassar, Jumat.
Ia mengatakan, teror bom molotov yang terjadi selama dua pekan terakhir ini sudah menjadi ancaman dan permasalahan sosial. Sebab, teror ini dapat memicu konflik yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Maka dari itu, dirinya meminta kepada aparat kepolisian untuk segera menangkap pelaku pemboman rumah ibadah karena ini sudah merupakan ancaman yang bisa merusak toleransi antarumat beragama.
Menurut Ketua Demokrat Sulawesi Selatan ini, serangkaian teror bom molotov ini sengaja dimanfaatkan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab dan mengaitkannya dengan hasil Pilkada Sulsel.
Karena itu, dirinya meminta kepada masyarakat khususnya warga Makassar untuk turut serta dalam menciptakan suasana kondusif dengan terus mawas diri serta mengintensifkan siskamling.
Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Irjen Pol Mudji Waluyo memerintahkan jajarannya untuk segera menjaga rumah-rumah ibadah agar tidak menjadi sasaran pelemparan bom molotov.
"Saya sudah perintahkan jajaran untuk segera menjaga sejumlah rumah-rumah ibadah karena rangkaian aksi pelemparan bom molotov selama beberapa pekan ini terjadi," ujarnya di Makassar, Kamis.
Ia mengatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan TNI dan pemerintah setempat untuk membahas mengenai adanya aksi-aksi oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memecah-belah kesatuan masyarakat.
Selain melakukan koordinasi, pihaknya juga memerintahkan jajarannya serta masyarakat untuk segera mengefektifkan siskamling agar aksi-aksi brutal dari oknum yang tidak bertanggung jawab itu bisa diminimalisasi.
"Jadi yang jelas, kita akan memberikan pengamanan masing-masing gereja oleh anggota kepolisian, dibantu pengurus gereja dan babinsa," ujarnya.
Selain memerintahkan jajaran untuk menjaga sejumlah rumah ibadah, mantan Kapolda Maluku ini juga telah membentuk tim khusus untuk melakukan penyelidikan dan pengejaran terhadap para pelaku pelempar bom molotov di sejumlah gereja di Makassar.
Bukan cuma itu, komitmen dan persatuan menjaga kerukunan umat beragama dapat dituangkan dalam nota kesepahaman dengan melibatkan media sebagai corong informasi masyarakat.
"Segera dibuatkan instruksi Wali Kota sebab payung hukumnya sudah jelas, ini demi menjaga agar Makassar aman dan damai bukan hanya teror tetapi kejahatan lainnya," katanya.
Ia menyebutkan, dengan adanya teror bom molotov ini, pihak kepolisian telah menerjunkan pengamanan di setiap rumah ibadah untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
"Setiap gereja sudah diterjunkan dua orang polisi berseragam dan petugas intelijen disebar untuk mencegah adanya aksi teror susulan," katanya.
Teror bom sebelumnya terjadi di dua Gereja Kristen Indonesia (GKI) yakni GKI jalan Samiun nomor 17 dan Gereja Toraja Klasis Makassar Jemaat Panakukang di jalan Pettarani II nomor 3, pada Kamis 14 Februari 2013 dini hari sekitar pukul 04.00 Wita.
Kejadian serupa juga terjadi pada 10 Februari 2013 di Gereja Toraja Tiatiara, Kecamatan Tamalate, dan Gereja Toraja Mamasa Jemaat Jordan, Kecamatan Panakkukang.
Mantan Wakil Presiden HM Jusuf Kalla menambahkan, Siskamling perlu diefektifkan mengingat jumlah kejahatan semakin meningkat. Tidak hanya itu, semua rumah ibadah bukan hanya gereja, tetapi rumah ibadah lainnya seperti Masjid, Pura, Kelenteng dan Vihara mesti dijaga aparat. (Editor : ES Syafei)
Pewarta : Muh Hasanuddin
Editor:
COPYRIGHT © ANTARA 2026
