Makassar (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kota Makassar akan melakukan Active Case Finding melalui TB atau skrining tuberkulosis pada 16 Januari hingga 22 Februari di 15 kecamatan kota Makassar dengan target 100 orang per Puskesmas.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Makassar, dr Nani di Makassar, Kamis mengatakan, skrining TB dengan rontgen keliling menargetkan sekitar 100 orang per puskesmas.
“Kegiatan ini baru dilaksanakan di 25 kabupaten/kota dengan beban TB tertinggi di Indonesia,” kata dr Nani.
DPRD Kota Makassar memiliki target beban TB sebanyak 6.677 temuan kasus pada tahun 2022. Target beban TB tersebut mengalami penurunan dibandingkan tahun 2021 yaitu sebanyak 6.685 kasus.
Tren positif ditunjukkan oleh kinerja Dinas Kesehatan Kota Makassar karena dari target tersebut, Makassar berhasil mencapai target 89 persen atau 5.724 kasus pada tahun 2022 dibandingkan tahun sebelumnya hanya menemukan 4.109 kasus TB atau 62 persen dari target.
“Jangkauan kita sudah mencapai 5.724 atau 89 persen dari target beban TB, angka ini kemungkinan besar akan bertambah setelah kita melakukan screening,” ujarnya.
Selain itu, hasil ini masih bisa ditingkatkan karena masih ada laporan dari beberapa rumah sakit yang belum terkumpul.
Dokter Nani menyatakan Kementerian Kesehatan menargetkan lebih dari 100.000 penemuan kasus dari 25 kabupaten/kota dengan beban TB tertinggi. Hal ini dilakukan dengan skrining mobile xray/roentgen, disertai dengan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada kontak serumah penderita TB yang diintegrasikan dengan skrining penyakit pernafasan lainnya.
Tuberkulosis merupakan salah satu penyakit menular yang mudah menular melalui droplet/percikan dahak yang mengandung kuman Mycobacterium tuberculosis di udara.
“Penemuan kasus TBC secara cepat dan pengobatan yang tepat tentu sangat penting untuk dapat memutus mata rantai penularan secepatnya,” ujarnya.
Satu kasus TB yang terkonfirmasi diperkirakan menulari sedikitnya 10 orang yang kontak erat dengannya, jadi jika satu kasus ditemukan dan diobati, berarti setidaknya kita telah mencegah sedikitnya 10 orang tertular.
Sesuai dengan slogan programnya yaitu TOSS TB (Temukan Obat Temukan Obatnya), jika kita menemukan sebanyak-banyaknya, obati semua yang ditemukan sampai sembuh, diharapkan dapat mempercepat pencapaian Eliminasi Tuberkulosis yang ditargetkan pada tahun 2030 mendatang.
Penanggung Jawab TB Kemenkes Sulsel, dr Andi Julia Junus mengatakan, penemuan kasus terbanyak untuk pengendalian TB adalah Kota Makassar.
“Skrining ini berbasis pasien, kami ajak keluarga untuk skrining, pemeriksaan gejala dan foto thoraks, jika diduga positif kecurigaan bakteriologis,” ujarnya.
Oleh karena itu, akan disebut skrining TB sampai pengumpulan data ditutup pada bulan Februari. Diharapkan penjaringan temuan kasus TB dapat ditingkatkan guna mencapai eliminasi TB pada tahun 2030.*