
Gerindra Waspadai Kecurangan di TPS

Makassar (ANTARA Sulsel) - Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerinda) Suhardi mengingatkan kadernya dan para saksi untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya kecurangan di TPS pada Pilpres 8 Juli 2009.
Suhardi mengingatkan hal itu di depan sekitar 300 simpatisan dan pendukung pasangan Mega-Prabowo pada acara pemantapan tim Pasopati (Prabowo Subianto Pilihan Hati) di Makassar, Kamis.
"Kita tidak ingin terjadi kecurangan untuk memenangkan salah satu pasangan pada pilpres mendatang dengan menghalalkan berbagai cara, seperti pada saat pemilu legislatif lalu," kata Suhardi.
Pada pemilu lalu, katanya, surat suara sudah ada yang telah dicentang sebelum pemilihan untuk memenangkan salah satu partai peserta pemilu. "Kita tak ingin hal seperti itu terulang kembali pada pilpres mendatang," katanya.
Menurut dia, kalau berlangsung secara demokratis dan jujur, maka pasangan Mega-Prabowo akan tampil sebagai pemenang pada pilpres medatang.
Prabowo yang mendampingi Megawati Soekarnoputri sebagai cawapres pada pilpres, kata Suhardi, tidak menyiapkan spanduk, stiker maupun baju seperti pasangan capres dan cawapres lainnya. Meski tanpa hal itu, tetap yakin duet Mega-Prabowo akan tampil sebagai pemenang, katanya.
Suhardi yang hadir bersama Anggota dewan Penasihat Gerindra Permadi mengatakan, saat ini Indonesia termasuk negara terbesar perusak hutan di dunia, hanya dalam waktu enam tahun sekitar 35 juta hektare hutan Indonesia rusak.
Negara yang kaya dengan sumber daya alam berupa gas, minyak dan air untuk memakmuran rakyat, tetapi semuanya justru membuat rakyat miskin karena sebagian dikuasai oleh pihak asing yang merupakan para neolib.
"Air adalah milik negara untuk kepentingan rakyat banyak termasuk untuk irigasi, tetapi sekarang justru rakyat membeli air dari perusahaan yang dikelola oleh perusahaan asing mencapai Rp2.300 triliun setiap tahun " kata Suhardi.
Sementara untuk kebutuhan gas mencapai Rp365 triliun setiap tahun, padahal gas alam Indonesia cukup melimpah tetapi semuanya dikuasai oleh pihak asing.
Sementara itu, Permadi mengatakan, Indonesia yang pernah menjadi negara cukup disegani di dunia, kini menjadi negara yang mudah di dikte negara lain.
"Indonesia tak mampu berbuat jika berhadapan dengan negara lain karena tidak memiliki kemampuan pertahanan dan keamanan yang handal, seingga dengan mudah negara lain memasuki wilayah NKRI," katanya.
Tindakan Tentara Diraja Malaysia yang sering memasuki wilayah NKRI di Ambalat dan melakukan provokasi hanya didiamkan oleh pemerintah. "Bahkan ancaman negara lain sudah didepan mata, tetapi presidennya hanya tesenyum, tanpa ada sikap tegas," katanya.
Jika hal ini terus berlangsung tanpa ada tindakan tegas dari presiden, maka Ambalat akan sama nasibnya dengan Pulau Ligitan dan Sipadan, katanya.
(T.S016/S023)
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
