Logo Header Antaranews Makassar

Mereka Ciptakan Nuansa Ramadhan di Belanda

Minggu, 6 September 2009 03:00 WIB
Image Print

Oleh Rahma Saiyed

Belanda (ANTARA Sulsel) - Tak ada suara bedug maghrib, tak ada kegaduhan para pembangun sahur, atau tak dijumpai segerombol manusia yang hendak atau usai melaksanakan shalat tarawih di masjid.

Begitulah suasana Ramadhan di Belanda. Bagi sebagian warga Indonesia yang berada di negeri kincir angin itu, nuansa Ramadhan baru akan terasa ketika mereka berada dalam masjid.

"Saya jadi teringat di Indonesia dan tidak sadar air mata saya keluar ketika mendengarkan sang imam sedang membacakan beberapa surah dalam shalat berjamaah tadi," jelas kata Diana Chaidir, mahasiswa Indonesia di Rotterdam.

Dia baru saja mengikuti buka puasa bersama dan shalat berjamaah di Masjid Indonesia Stichting Rotterdam (ISR), Belanda.

Hal senada dikatakan Mukhlis, warga Indonesia. Menurut dia, kegiatan Ramadhan di Mesjid Al-Hikmah atau yang biasa disebut Masjid Indonesia, Den Haag, mengobati rasa kerinduannya terhadap kepada bulan puasa di Indonesia.

Berbuka puasa bersama dengan sejumlah masyarakat Indonesia maupun warga asing lainnya merupakan keasyikan yang sangat disyukuri. Sebab di masjid Indonesia itu, berbagai kegiatan bernuansa keagamaan dapat di jumpai, seperti pengajian, tadarus maupun berbuka puasa bersama yang rutin di lakukan setiap Sabtu dan Minggu.

Biasanya, pada akhir pekan tersebut, masjid itu dipadati warga Muslim yang menunaikan shalat tarawih, seperti warga Maroko, Turki, Somalia, maupun Indonesia.

"Tiba-tiba saya menangis dan tak henti-hentinya memuji kebesaran Allah saat melihat mesjid ini dipadati jamaah dari berbagai golongan, ras, warna kulit, dan negara. Cukup dengan satu komando dari imam shalat, 'Allahu Akbar', semua jamaah patuh, melakukan gerakan yang sama," ujar Ikhsan.

Berpuasa di Belanda, tentu sangat berbeda ketika berada di Indonesia.

Di Belanda, restoran dan jajanan makanan terlihat di mana-mana. Di sana, banyak dijumpai orang sedang menikmati makanannya.

Keadaan itu menjadi godaan berat bagi Muslim yang sedang berpuasa selama 16 jam. Belum lagi pemandangan tingkah orang-orang Barat yang semaunya berciuman di tempat umum.

"Rasa haus dan lapar sebenarnya tidak begitu terasa karena cuaca di sini cukup dingin," kata Ikhsan, yang mengaku telah menetap di Belanda selama tujuh tahun lebih.


Ciptakan nuansa

Membuat makanan khas pembuka puasa, seperti kolak pisang, cendol, dan jenis makanan ringan lainnya, merupakan kegiatan sebagian warga Indonesia di Belanda agar mereka tetap bisa merasakan indahnya bulan Ramadhan, meskipun tidak bersama dengan keluarga.

Seorang mahasiswa Indonesia, Mutia Razali, menuturkan, ia berusaha untuk mengajak sejumlah kawannya untuk menggunakan mukena ketika mereka menuju ke masjid, yang jaraknya sekitar setengah jam dari lokasi asrama mahasiswa "Institute for Housing and Urban Development Studies" (IHS), Rotterdam.

Pemandangan itu, katanya, merupakan hal aneh bagi masyarakat Belanda. Sepanjang perjalanan menuju ke masjid dengan menggunakan mukena, menjadikan sebagian masyarakat Belanda melihat ke arah mereka.

"Kita tidak perduli pandangan dan kata mereka," ujar mahasiswa asal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu.

Saat hendak sahur pun, mereka berusaha saling membangunkan dengan bantuan sebuah alat.

Demikian pula halnya dengan sekelompok mahasiswa lainnya di Wageningen. Ada di antara mereka yang berusaha untuk menikmati kebersamaan Ramadhan dengan berbuka puasa bersama di alam terbuka, pinggir danau dengan menu khas makanan Indonesia, seperti ikan bakar lengkap dengan sambal rica-rica dan pallu butung (khas Makassar).

Di masjid Indonesia, Den Haag, sebelum dan sesudah berbuka puasa bersama, jamaah bisa mengikuti acara pengajian, baik dalam bahasa Belanda maupun Indonesia.

Pada umumnya, sebagian anak-anak Indonesia yang telah lama bermukim di Belanda lebih memilih untuk mengikuti pengajian yang disampaikan dalam bahasa Belanda.

Mereka itu kebanyakan anggota remaja masjid atau Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa (PPME) cabang Den Haag, dan Muslim Belanda lainnya.

Sementara pengajian yang disampaikan dalam bahasa Indonesia, lebih didominasi kaum ibu dan bapak-bapak.

Kegiatan serupa dapat pula dijumpai di Amsterdam. Menurut Amar Ma'ruf, seorang pelajar Indonesia, selama Ramadhan ini, ia lebih banyak melibatkan dirinya dalam berbagai kegiatan bersama "Vereniging van Islamitische Jongeren in Europa Al-Ikhlas Amsterdam" atau Persatuan Pemuda Muslim se-Eropa Al-Ikhlas Amsterdam.

"Di organisasi ini, saya lebih fokus pada kegiatan pendidikan khusus bagi anak dan remaja. Beberapa kegiatan yang kami lakukan bersama, di antaranya mengaji, diskusi keislaman, nasyid, bermain peran, dan pementasan Ramadhan," kata dia dan mengakui bahwa nuansa Ramadhan di negeri yang penduduknya mayoritas non Muslim itu nyaris tidak terasa.

(T.K-RS/s018)