Sabtu, 23 September 2017

GAPKI : Indonesia Harus Tetap Produsen Sawit Terbesar Dunia

id gapki, sawit, pbb, joko supriyono
GAPKI : Indonesia Harus Tetap Produsen Sawit Terbesar Dunia
Ketua Umum GAPKI Joko Supriyono (kiri) menyerahkan cinderamata kepada Global Head UNDP Andrew Bovarnick di sela Pertemuan tingkat tinggi yang digagas UNDP di Markas PBB New York, Amerika Serikat, Rabu waktu setempat (6/9). (FOTO/Gapki)
Makassar (Antara Sulsel) - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan di tengah tuntutan akan keberlanjutan, Indonesia tetap harus menjaga posisinya sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia.

"Tentu saja produsen minyak sawit terbesar dan paling berkelanjutan," kata Joko saat menjadi pembicara pada Pertemuan tingkat tinggi yang digagas UNDP di Markas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) New York, Amerika Serikat, Rabu waktu setempat melalui rilis yang diterima di Makassar.

Di forum ini, pemerintah dan dunia usaha satu suara menegaskan posisi Indonesia terkait pengembangan sektor kelapa sawit yang berkelanjutan dan menjadi "milestone" bagi sektor kelapa sawit Indonesia.

Joko menegaskan dunia usaha di Indonesia sangat berkomitmen untuk mencapai tata kelola perkebunan kelapa sawit yang ramah lingkungan. Saat ini, dunia usaha dan pemerintah bahu-membahu bagaimana meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit khususnya bagi petani (smallholders).

"Alih-alih melakukan ekspansi lahan, kami berfokus pada upaya meningkatkan produktivitas tanaman," ujarnya.

Selain Joko, Deputi Bidang Pangan dan Pertanian Kementerian Perekonomian Musdalifah Mahmud juga berbicara dalam forum tersebut.

"Penguatan ISPO (Indonesian Palm Oil Plantation) adalah komitmen nyata dari pemerintah dan dunia usaha di Indonesia untuk membangun sektor perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan," kata Musdalifah.

Poin yang akan dicapai dalam forum dunia yang dihadiri sekitar 300 delegasi dari berbagai negara tersebut, bagaimana dunia bisa menyeimbangkan kebutuhan produksi dengan tetap menjaga keberlanjutan lingkungan.

Musdalifah berharap, pertengahan tahun depan, poin-poin terkait penguatan ISPO bisa dipenuhi. ISPO adalah standar keberlanjutan yang bersifat wajib bagi perkebunan kelapa sawit Indonesia.

"Penguatan ISPO adalah momentum untuk meningkatkan standar keberlanjutan sektor kelapa sawit Indonesia sampai pada tingkat yang bisa diterima dunia," kata Musdalifah.


UNDP Nilai ISPO Sangat Berharga


Paparan Joko Supriyono mendapat sambutan yang positif dari para audiense termasuk dari UNDP (Badan PBB untuk Program Pembangunan).

"Kita tahu bagaimana sektor kelapa sawit mendapat sorotan terkait isu deforestasi hingga kebakaran lahan. Kita sudah mendengar bagaimana pemerintah dan dunia usaha di Indonesia berkomitmen untuk menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan lingkungan," kata Andrew Bovarnick, Global Head UNDP, yang menjadi pemandu diskusi.

Andrew juga menilai ISPO adalah instrumen yang sangat berharga untuk mencapai keberlanjutan sektor perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Selain sektor perkebunan kelapa sawit di Indonsia, pertemuan tingkat tinggi UNDP ini juga membahas isu keberlanjutan di Liberia, Paraguay, dan Brasil.

Selain dari Indonesia, dalam forum UNDP ini, juga hadir sebagai pembicara antara lain Menteri Pertanian Liberia Seklau E. Wiles, Wakil Menteri Pertanian bidang Peternakan Paraguay Marcos Medina, dan Presiden Sociedade Rural Brasil Marcelo Vieira.

Editor: Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga