Menelusur Sejarah Irigasi "Ajatappareng" Sulsel

id balai arkeologi1

Syahruddin Mansyur SS, MHum. (Foto Istimewa)

Oleh Syahruddin Mansyur*)

Penelitian Balai Arkeologi Sulawesi Selatan (Balar SulSel) adalah lembaga penelitian di bawah naungan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkedudukan di Makassar. Wilayah kerja Balar Sulsel meliputi Provinsi Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Provinsi Sulawesi Barat. Balar Sulsel rencananya akan melaksanakan penelitian bertajuk “Irigasi Ajatappareng: Menelusuri Jejak Sejarah Pertanian di Sulawesi Selatan”. Penelitian ini akan dikoordinir oleh Syahruddin Mansyur, SS, MHum (Peneliti Arkeologi Sejarah Balai Arkeologi Sulsel), yang dilaksanakan akan mulai 16 Oktober sampai dengan 12 November 2018 dengan lokus penelitian difokuskan di wilayah Kabupaten Pinrang dan Sidrap.

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk memberi gambaran tentang sejarah pertanian di wilayah Ajatappareng. Penelitian ini juga akan mengidentifikasi situs-situs arkeologi yang dapat menggambarkan jejak sejarah pertanian di wilayah Ajatappareng; memberikan gambaran kronologi perkembangan sistem irigasi persawahan Bendungan Benteng di wilayah Ajatappareng; serta menggambarkan organisasi sosial pengelolaan irigasi persawahan di wilayah Ajatappareng.

Isu tentang sejarah awal pertanian di Sulawesi Selatan sebenarnya telah banyak dikaji baik melalui penelitian arkeologi maupun sumber-sumber teks (lontara’). Penelitian-penelitian tersebut telah membahas tentang pertanian di Sulawesi Selatan yang dihubungkan dengan tradisi bercocok tanam dan tradisi megalitik yang dikenal sejak masa prasejarah.

Salah satu tinggalan arkeologi yang umum dijumpai adalah lumpang batu yang dianggap memiliki hubungan dengan sistem pertanian di Sulsel. Tradisi megalitik ini tergambar dari proses pengolahan pertanian yang diawali dengan berbagai upacara ritual. Sementara itu, khusus tentang tanaman padi, bukti awal keberadaan padi di Sulawesi Selatan berupa temuan biji padi di salah satu gua di Maros yang memiliki penanggalan AD 500. Penelitian tersebut memberi informasi tentang awal mula pertanian padi di Sulawesi Selatan khususnya padi ladang.

Dalam periode berikutnya, temuan phytolith (sekam padi) dan temuan-temuan arkeologi lain yang ditemukan di Situs Allakanangnge (Kabupaten Wajo) memberi petunjuk bahwa budaya agraris melalui budidaya tanaman padi mulai tampak di Suldrl sejak abad ke-13. Hal ini seiring respon masyarakat terhadap ketersediaan barang dagangan terutama tekstil dan keramik. Sementara itu, sumber-sumber teks (Lontara) menyiratkan bahwa masyarakat Bugis mulai menanam padi secara intensif sejak tahun 1.400 Masehi. Sumber-sumber teks lainnya juga telah memberi informasi awal tentang adanya sistem pengairan dalam tradisi pertanian padi sawah di Sulsel.

Pengenalan sistem irigasi ini tampaknya terjadi karena adanya hubungan antara kerajaan-kerajaan di Sulsel dengan pihak-pihak luar. Salah satunya adalah kronik Tallo yang menyebutkan tentang pembuatan bendungan untuk irigasi oleh Karaeng Matoaya, Putra Tumenanga ri Makoayang, pada pertengahan abad ke-17. Dalam sumber berbeda, Putra Karaeng Matoaya yaitu Daeng Mangemba bergelar Tumatea ri Banten. Hal ini sekaligus memberi informasi bahwa Kerajaan Tallo telah memiliki hubungan dengan Kesultanan Banten yang dikenal memiliki sistem irigasi persawahan sejak abad ke-17. Sisa-sisa peninggalan irigasi persawahan berupa struktur bangunan pengairan Kesultanan Banten masih dapat diidentifikasi di Lembah Tirtayasa.

Penelusuran awal tentang irigasi di wilayah Ajatappareng memberi informasi bahwa bangunan irigasi (Bendungan Benteng) yang ada di bekas wilayah Kerajaan Sawitto (salah satu dari Konfederasi Ajatappareng) merupakan bendungan yang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1930-an. Dan saat ini, sistem irigasi tersebut mendistribusikan air yang bersumber dari Sungai Saddang yang berada di sebelah utara ke beberapa wilayah di sebelah selatan yaitu Kabupaten Pinrang dan Kabupaten Sidrap.

Hal menarik untuk ditelusuri terkait sejarah pertanian di wilayah ini adalah aspek kronologinya, apakah sistem irigasi tersebut (baik kanal-kanal irigasi maupun organisasi sosial pengelolanya) telah ada sebelum pembangunan Bendungan Benteng oleh Belanda pada tahun 1930-an. Pertanyaan ini menarik dikemukakan jika dihubungkan dengan sumber historis yang menyebut bahwa intensifikasi pertanian di wilayah Ajatappareng telah menghasilkan surplus produksi beras yang terus meningkat sejak abad ke-15.

Meskipun ekstensifikasi pertanian mungkin terjadi dalam masa-masa tersebut, namun upaya menyiasati lingkungan melalui perbaikan sistem pengadaan air untuk lahan persawahan tetap menjadi faktor penting yang dapat memacu peningkatan produksi pertanian.

Wilayah Kabupaten Pinrang yang berada di pesisir barat Sulsel dikenal merupakan pusat kerajaan kuno yaitu Kerajaan Suppa yang mengalami masa keemasan sekitar abad ke-15 hingga abad ke-16. Sebagai kerajaan pesisir, wilayah ini sangat terbuka dengan kontak dunia luar yang kemungkinan telah membawa perubahan dan mengenalkan perbaikan sistem irigasi mengingat potensi wilayah ini sebagai pusat produksi pertanian padi sawah.


Untuk itu kegiatan penelitian tersebut diharapkan memberi kontribusi akademis maupun praktis, berupa:
1. Sebagai pijakan awal dalam pemahaman tentang sejarah pertanian khususnya sistem irigasi di wilayah Ajatappareng;
2. Dapat menjadi pijakan awal dalam memberi gambaran utuh tentang sejarah pertanian pada skala yang lebih luas di wilayah Sulsel.
3. Bagi pemerintah, baik pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sulsel maupun pemerintah kabupaten yang meliputi Kabupaten Pinrang dan Sidrap, diharapkan melalui hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar pijakan untuk penyusunan konsep kebijakan pelestarian cagar budaya, baik tanggible maupun intangible tentang aspek sejarah dan budaya pertanian di daerah ini.
4. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam rangka konseptualisasi “Museum Tani” di Sulawesi Selatan.
5. Bagi dunia pendidikan, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan informasi dalam kaitannya dengan kurikulum muatan lokal untuk menjelaskan nilai-nilai penting terkait budaya pertanian, yang akan memberi kontribusi besar dalam upaya peningkatan pendidikan karakter di kalangan generasi muda. (*)


*) Penulis adalah Peneliti Arkeologi Sejarah Balai Arkeologi Provinsi Sulsel
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar