Sawit mengubah kehidupan warga transmigran Rio Pakava Donggala

id sawit,transmigran ,rio pakava,donggala,astra agro lestari

Foto udara kawasan perkebunan kelapa sawit di Batanghari, Jambi, Rabu (28/11/2018). Komisi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) menyatakan, hingga September 2018 sebanyak 413 pelaku usaha kelapa sawit, termasuk koperasi petani swadaya dengan total luas lahan sebesar 2,439 juta hektare telah mendapatkan sertifikat ISPO sebagai bentuk komitmen nasional untuk penerapan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan, ramah lingkungan, sesuai peraturan, dan dengan tata kelola baik. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Palu (Antaranews Sulsel) - Keberhasilan warga 14 desa di Kecamatan Rio Pakava, Kabupaten Donggala, dalam bercocok tanam sawit tidak lepas dari ketahanan warga menghadapi lika-liku hidup dan pembangunan di kecamatan terluas dan terpencil di Sulawesi Tengah itu.

Tahun 1991 saat kawasan seluas 17.014,14 kilometer persegi itu ditetapkan sebagai daerah transmigrasi yang dihuni oleh sebagian besar warga asal Jawa, Bali dan Bugis, Rio Pakava hanyalah sebuah kawasan lahan rawa.

"Di sini dulu rawa-rawa semua mas. Kalau mau menyeberang ke desa lainnya atau ke Kota Donggala dan Palu, kami harus berenang atau naik perahu dulu ke Pasangkayu, Provinsi Sulawesi Barat," kata I Ketut Putra Widarsa saat sejumlah jurnalis berkunjung ke rumahnya di Desa Polanto Jaya, Kecamatan Rio Pakava, Selasa (19/2) sore.

Saat itu, kata Widarsa, kondisi perekonomian warga di kecamatan yang dulunya bernama Lalundu tersebut sangat memprihatinkan. Hasil bercocok tanam yang dilakukan hanya cukup untuk makan dan minum.

Bahkan Widarsa mengaku bahwa ia dan warga lainnya sudah putus asa hidup di daerah tersebut dan berniat meninggalkan kawasan yang rawan banjir tersebut karena sulitnya memperoleh uang di sana. Namun beberapa warga lainnya menahan dan menyatakan agar bersabar.

Awalnya, kata Widarsa, hampir semua warga menggantungkan hidup dengan usaha bercocok tanam kakao, jeruk, langsat, durian dan sawah. Saat itu sawit masih terdengar asing di telinga mereka.

"Waktu itu belum ada sawit. Kami menanam kakao. Ada juga yang bersawah tapi semua rugi. Pohon kakao mati dan sawah gagal panen karena tanahnya berair sekali. Tanahnya lembek sekali kalau diinjak," cerita Widarsa yang telah belasan tahun bertani sawit.

Bahkan saking lembeknya tekstur tanah saat itu, warga dapat mengetahui keberadaan seseorang dari jarak beberapa ratus meter dari rumah panggung mereka. Sebab saat berjalan di atas permukaan tanah tersebut , tanah di sekitarnya juga akan ikut bergoyang termasuk rumah-rumah panggung juga ikut bergoyang.

"Makanya kalau rumah dulu goyang-goyang seperti gempa berarti ada orang berjalan di sekitar sini," lanjut Widarsa.


Mengenal sawit

Widarsa dan ribuan warga baru mulai mengenal sawit pada 1997. Kala itu PT. Mamuang, anak perusahaan Astra Agro Lestari Group mengajak warga di sana agar beralih menanam sawit karena pohon sawit sangat cocok ditanam di sana.

Perusahaan yang mengembangkan ribuan hektare kebun inti sawit ini kemudian membangun sistem drainase sehingga tanah-tanah yang berawa bisa mengering dan cocok ditanami sawit serta tanaman lainnya bahkan untuk pembangunan rumah permanen dan jalan raya.

Sejak awal tahun 2000-an setelah betul-betul merasa yakin, barulah Widarsa dan warga lainnya mulai menamam sawit dan ternyata keputusan yang mereka ambil itu tidak salah karena kini mereka telah menikmati hasilnya.

"Kalau dulu, pak. Orang yang punya sepeda motor itu masih bisa dihitung dengan jari tangan. Hanya satu dua orang saja. Sekarang satu orang satu motor. Saya juga sudah bisa sekolahkan anak-anak hingga kuliah dari hasil sawit ini," jelas Widarsa.

Hal yang sama diceritakan Mansur, petani sekaligus ketua kelompok petani sawit di Desa Karya Mukti, Kecamatan Rio Pakava.

Awalnya Mansur enggan untuk beralih menanam sawit meski pihak perusahaan telah melakukan berbagai cara untuk membujuk dan meyakinkannya sebab saat itu sawit di matanya tidak punya nilai apa-apa.

"Waktu itu saya anggap sawit itu apa juga. Tidak ada gunanya kalau saya tanam. Namun karena pihak PT. Mamuang selalu mengajak dan meyakinkan saya, saya dan teman-teman warga di sini memutuskan mencoba mentanam sawit dan ternyata pohonnya cocok ditanam di sini," ucap Mansur.

Kini Mansur memiliki 25 hektare lahan sawit yang hasil bersihnya setiap bulan rata-rata Rp25 juta. Bahkan Mansur telah mempekejakan beberapa orang di lahan sawit miliknya sebagai buruh lepas. Mereka dipekerjakan untuk menjaga dan merawat agar pohon-pohon sawit di sana bebas dari serangan hama.

Bila masa panen tiba, warga yang dipekerjakan untuk memanen buah sawit juga semakin banyak sehingga pengangguran di 14 desa di kecamatan tersebut boleh dikata tidak ada.

"Alhamdulillah dari hasil menanam sawit ini saya sudah bangun lima gedung sarang walet," ujar Mansur bersyukur.


Mobil mewah

Cerita yang sama juga disampaikan I Ketut Sumatera, petani sawit dari Desa Polando Jaya yang kini hidup berkecukupan berkat hasil kebun sawit.

Menurut Sumatera, tidak sedikit warga di daerah tersebut yang kini mampu membeli mobil mewah, membangun rumah mewah, dan menyekolahkan anak-anaknya hingga bangku kuliah.

"Saya sendiri sudah punya satu mobil pribadi, satu mobil truk pengangkut buah sawit. Keuntungan yang bisa saya dapat sekitat Rp20 juta setiap bulan," ucap Sumatera.

Community Development Officer (CDO) PT. Mamuang Teguh Ali menjelaskan bentuk kerja sama yang dibangun PT. Mamuang dengan para petani di Kecamatan Rio Pakava yaitu membeli buah sawit milik mereka.

PT. Mamuang tidak pernah menolak buah sawit yang mereka jual kecuali kualitasnya tidak memenuhi kriteria seperti busuk.

"Kami juga membentuk kelompok tani sawit yang beranggotakan petani sawit di sana. Melalui 11 kelompok tani sawit yang ada mereka kita beri pelatihan seputar sawit seperti cara meningkatkan produksi buah sawit dan menjaga agar pohoh sawit tidak terserang hama," jelas Teguh.

Selain itu pihak perusahaan juga selalu memberi pendampingan kepada para petani dan mencarikan solusi terhadap setiap permasalahan yang dialami petani berkaitan dengan sawit.

"Perusahaan juga sudah membangun infrastruktur jalan di sini. Bayangkan saat pemerintah Kabupaten Donggala belum sanggup mambangun jalan dari Rio Pakava menuju Donggala, kami sudah membangunkan mereka jalan lewat Pasangkayu," kata Teguh.

Selain PT. Mamuang, sejumlah anak perusahaan Astra Agro Lestari Group yang menjalin kemitraan dengan petani sawit di Kecamatan Rio Pakava adalah PT. Letawa, PT. Pasangkayu dan PT. Lestari Tani Teladan.

Perusahaan-perusahaan ini tak hanya bergerak di perkebunan tetapi juga pabrik pengolahan minyak sawit yang produksinya dikapalkan langsung ke berbagai negara dan kota di Indonesia melalui pelabuhan klhusus di Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Perusahaan-perusahaan ini juga mengeluarkan dana miliaran rupiah setiap tahun untuk kegiatan sosial kemasyarakatan dengan fokus utama yakni sektor pendidikan, kesehatan dan lingkungan hidup.
Pewarta :
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar