Pertunjukan Teater Karaeng Pattingalloang pukau pengunjung Trans Studio

id Karaeng Pattingalloang, Trans Studio, sosok panutan, Makassar

suasana pementasan teater Karaeng Pattingalloang di Trans Studio Theme Park Makassar Rabu (10/4/2019). ANTARA Foto/ Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Pertunjukan Teater Karaeng Pattingalloang yang sarat dengan petuah kuno namun selaras dengan era kekinian, memukau sedikitnya seratus pengunjung Trans Studio Theme Park Makassar di wahana teater.
 
"Pertunjukan teater Karaéng Pattingalloang juga adalah bentuk tanggung jawab pengelolaan kepada masyarakat untuk mengobati kerinduan akan kisah-kisah inspiratif dan heroik dari Sulawesi Selatan," kata General Manager Trans Studio Theme Park Makassar Luisito Hari Krisanto di Makassar, Rabu.

Oleh karena itu, lanjut dia, pihaknya bekerja sama dengan Teater Makassar dan Dewan Kesenian Makassar (DKM) menggelar pertunjukan teater berjudul Karaéng Pattingalloang.

Dia mengatakan, pertunjukan tentang Raja Tallo sekaligus Mangkubumi Kerajaan Gowa pada masa Raja Gowa ke-15 itu berlangsung pada 10-12 April 2019 pukul 14.00 WITA di Trans City Theatre, Trans Studio Theme Park Makassar.

Menurut dia, pertunjukan ini merupakan bagian dari 'Campaign Awareness' yang telah dijalankan sejak 2017. Akkarena ri Trans Studio sebagai upaya memperkenalkan kembali budaya Sulawesi Selatan kepada generasi muda yang kini mulai terkikis zaman dan teknologi.

"Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk tidak hanya memberikan suguhan hiburan semata kepada masyarakat tapi bagaimana cerita dan legenda yang ada di Sulawesi Selatan in bisa kita angkat kisahnya agar anak-anak kita, para generasi penerus bisa mengetahui dan memiliki awareness serta dapat memahami nilai-nilai luhur yang bisa mereka teladani dari kisah Karaéng Pattingalloang,” ujarnya.

Drama Karaéng Pattingalloang ditulis oleh Fahmi Syariff tahun 1992, dan dipentaskan di Aula RRI Makassar pada tahun itu pula dalam Pertemuan Sastrawan Nusantara sebagai pementasan pertamanya.
Pementasan kedua di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah dalam Festival Teater Indonesia di Solo, pementasan ketiga dalam Ulang Tahun Dewan Kesenian Jakarta di Teater Tertutup Taman Ismail Marzuki. Atas undangan Panitia Festival International “Istiqlal’, drama Karaéng Pattingalloang kembali dipentaskan sebagai pementasan keempat di tahun 1995 dalam versi religius dengan subjudul Malam Lebaran di Mangara’bombang. Kesemua pementasan tersebut di atas disutradarai oleh Jacob Marala,
suasana pementasan teater Karaeng Pattingalloang di Trans Studio Theme Park Makassar Rabu (10/4/2019). ANTARA Foto/ HO/Humas TSTFPM


Kini, drama Karaéng Pattingalloang yang telah dinikmati oleh puluhan ribu penonton secara nasional, kembali ditampilkan di Trans Studio Theme Park Makassar dengan menerapkan konsep teater tradisional Kondobuleng, konsep teater yang menembus ruang dan waktu.

Menanggapi kegiatan seni itu, Fahmi sangat mengapresiasi pengelola wahana permainan dan hiburan ini karena telah memberikan ruang untuk seniman berekspresi. Dia juga menyampaikan rasa terima kasih pada seluruh kru teater yang terlibat.  

Dia mengatakan, pertunjukan teater ini mengapresiasi kebudayaan milik Sulawesi Selatan dalam perpaduan lima jenis kesenian oleh Teater Makassar, Dewan Kesenian Makassar dan Trans Studio Theme Park Makassar.

Teater ini menceritakan Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo pada awalnya terlibat dalam kancah peperangan. Tetapi setelah perdamaian tercapai, keduanya menjadi kerajaan kembar Gowa-Tallo.

Salah satu raja Tallo yang terkenal adalah Karaéng Pattingalloang, pada masa pemerintahan Agustus 1600 – 15 September 1654, bernama asli I Manngada’cinna Daéng Sitaba.

Kepopuleran Karaeng Pattingalloang ini sebagai seorang negarawan dan cendekiawan yang cerdas bukan saja di Kerajaan Gowa dan Tallo, melainkan sampai di luar kerajaan.

Karaeng Pattingalloang mengarang beberapa buku tentang ketatanegaraan, soal-soal perseroan, dan hukum-hukum pelayaran yang digunakan dalam pelayaran internasional.

Selain itu dia menguasai pula astronomi dan mahir dalam berbagai bahasa asing, yaitu bahasa Arab, Portugis, Inggris, Spanyol, dan Denmark.
 
Keluarbiasaan Karaéng Pattingalloang tersebut menyebabkan bendaharawan Kerajaan Tallo yang bernama Daéng Matêrru’ bermaksud menganugerahkan nama-sandang Cikal Kemakmuran setelah mengucapkan Sumpah Setia Kebulatan Tekad.

Semua rencana itu dipersiapkannya dengan matang. Pertama, dia merangkul Angkatan Muda yang wakilnya telah menduduki jabatan penting di Dewan Baté Salapanga, semacam DPR sekarang. Kedua, dalam acara tersebut Tumakkanjannannganga alias panglima kerajaan beserta Tumailalang Lolo yang bertugas menyampaikan keadaan masyarakat kepada raja, tidak diundangnya.

Dia hanya mengundang Penasihat Kerajaan yang sudah tua tetapi bijak serta Tumailalang Towa yang ingatannya sudah sangat lemah. Ketiga, dan ini yang paling diandalkannya, kerja sama dengan Kr. Tunipattolo Dg. Marompa, kemanakan Kr. Pattingalloang yang bencong, melalui Dg. Talékang, istrinya yang bendaharawan Persiwakarung untuk memengaruhi Dg. Ngani, istri Kr. Pattingalloang yang ketua Persiwakarung.

Namun usaha Materru' dapat digagalkan oleh Karaeng Pattingalloang yang dikenal ksatria dan tidak gila kehormatan. Dengan prinsip yang dipegang teguh yakni "Orang yang berhasil dalam bidang tugasnya, tidak usaha diberi penghargaan dan mengharap penghargaan," ujarnya .


 
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar