ACT merajut asa mualaf Sulsel hingga ke pelosok

id ACT, kampung muallaf Makula

ACT  merajut asa mualaf Sulsel hingga ke pelosok

Pembinaan syariat Islam yang dilakukan ACT Sulsel di Kampung Makula Kabupaten Pinrang. ANTARA Foto/HO/Humas ACT Sulsel

Makassar (ANTARA) - Aksi Cepat Tanggap (ACT) sebagai organisasi kemanusiaan bukan hanya menebar kebaikan, tetapi turut merajut asa warga pelosok tanah air melalui program-program pembinaan yang gencar digalakkan, khususnya bagi mualaf di Sulawesi Selatan.

Hingga saat ini, Jumat (16/08) pembinaan di berbagai kampung mualaf di Sulawesi Selatan masih terus berlangsung, seperti di tiga tempat berbeda, yakni Kabupaten Gowa, Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Pinrang.

Langkah ACT menjamah saudara sebangsa dan se-tanah air hingga ke pelosok itu menjadi tantangan sekaligus misi mulia agar mampu mengukir penghidupan yang layak dan adil demi masa depan yang lebih maju. Salah satunya di kampung mualaf Makula, Desa Masakada, Kecamatan Lembang Kabupaten Pinrang Sulsel.

Mencari tahu dan menyampaikan keadaan riil kampung mualaf Makula dengan kondisi masyarakat yang tergolong primitif menjadi cambuk bagi ACT dan terkhusus untuk Head of Program ACT Sulawesi Selatan, Nur Ali Akbar, agar segera dan terus melakukan pembinaan keislaman yang baik dan benar

Kondisinya sangat mencengangkan, mereka (warga Makula) Islam dan mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi keyakinan yang dianutnya masih tergolong animisme. Sangat polos sekali dan mudah dipengaruhi oleh pengetahuan keislaman yang tidak benar.

"Bahkan berwudhu dan jumlah rakaat dalam sholat saja mereka masih belum mengerti, sungguh sangat perlu pendampingan dan pembinaan," ungkap Ali.

Selain itu, keberadaan tempat pemukiman atau rumah warga yang tersebar di daerah itu menjadi tantangan tersendiri bagi tim ACT untuk menjangkau penduduk Makula. Jarak dari rumah ke rumah terbilang jauh sehingga mengharuskan ACT terlebih dahulu melakukan alokasi untuk 78 Kepala Keluarga di sana.



Terpencil

Hal ini diperparah dengan medan yang sangat sulit untuk menjangkau lokasi kampung Makula. Keadaan akses yang terjal tidak memungkinkan untuk dilalui berbagai moda transportasi. Harus berjalan kaki sekitar setengah jam untuk sampai ke kampung itu.

"Tidak mudah untuk sampai di sana, medan yang terjal dan cadas mesti kami taklukkan. Beberapa relawan bahkan ada yang jatuh dari kendaraan karena sulitnya jalan yang dilalui," katanya.

Meski begitu, tidak lantas menggugurkan semangat para relawan ACT memberikan sentuhan ilmu, pendidikan serta pemahaman yang baik dan benar agar penduduk setempat bisa berIslam secara istiqamah.

Terhitung sejak Januari hingga saat ini atau sekitar delapan bulan lamanya, pembinaan di Kampung Makula telah terlaksana. Mereka diajar sholat, baca-tulis Al Qur'an, adzan dan segala kegiatan berkenaan dengan perbaikan kualitas keagamaannya.

Bukan itu saja, ACT menyambung asa warga mualaf Makula lewat regenerasi agar kemandirian warga bisa bangkit dengan mencetak anak-anak dengan pengetahuan mumpuni dalam bidang agama untuk menghidupkan kampungnya di masa mendatang.
 
Pembinaan syariat Islam yang dilakukan ACT Sulsel di Kampung Makula Kabupaten Pinrang. ANTARA Foto/HO/Humas ACT Sulsel


"Kita mengambil beberapa anak-anak dari sana untuk disekolahkan ke pesantren, biayanya gratis dari pihak pesantren yang ada di Kabupaten Pinrang sendiri. Ini membuat mereka sadar bahwa apa yang terjadi pada warga Makula tidak boleh menimpa generasi mendatang," ujar Ali.




Pembinaan dan pendampingan

Sementara Kepala Cabang ACT Sulawesi Selatan, Faizal Agunisman, menyatakan kondisi Makula termasuk sangat terbelakang dibanding kampung Mualaf lain yang sebelumnya telah disasar.

Pengetahuan yang masih sangat minim mengharuskan para relawan lebih intens melakukan pembinaan dan pendampingan secara bergilir dari masing-masing relawan ACT di setiap kabupaten.

"Memang yang paling lama di Makula, sangat minim pengetahuan. Tiap minggu kami kirim relawan untuk memberikan pengetahuan di sana," katanya.

Pembekalan dan pendampingan, kata Faizal, harus terus dilakukan hingga masyarakat Makula dianggap telah mampu secara mandiri menjalankan aktivitas ibadah sehari-hari sesuai syariat Islam. Sembasi melihat potensi yang ada di sana, seperti pengembangan SDM dan pembangunan infrastruktur.

Usai memperoleh pendampingan dari ACT Sulsel, kampung Makula mulai mendapat perhatian dari beberapa pihak seperti PLN. Mediasi yang dilakukan ACT Sulsel berhasil menjawab salah satu masalah yang ada di kampung itu terkait penerangan.

"Alhamdulillah kita sudah hubungi PLN dan sudah mulai memproses listrik masuk desa di perkampungan Makula. Bahkan PLN menyiapkan seorang da'i untuk memberikan tambahan ilmu dan ceramah setiap dua kali sebulan bagi warga," katanya.

Meski demikian, diharapkan penduduk Makula bisa diberdayakan agar tidak selalu tergantung dengan bantuan dari pihak lain. Hanya saja tetap membutuhkan campur tangan pemerintah untuk membangun infrastruktur agar potensi perkebunan bisa meningkatkan perekonomian warga. Terlebih berkebun menjadi mata pencaharian penduduk setempat.




Lembaga kemanusiaan global

Tanggal 21 April 2005, Aksi Cepat Tanggap (ACT) secara resmi diluncurkan secara hukum sebagai yayasan yang bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan.


Untuk memperluas karya, ACT mengembangkan aktivitasnya, mulai dari kegiatan tanggap darurat, kemudian mengembangkan kegiatannya ke program pemulihan pascabencana, pemberdayaan dan pengembangan masyarakat, serta program berbasis spiritual seperti Qurban, Zakat dan Wakaf.

ACT didukung oleh donatur publik dari masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap permasalahan kemanusiaan dan juga partisipasi perusahaan melalui program kemitraan dan Corporate Social Responsibility (CSR).

Sebagai bagian dari akuntabilitas keuangannya ACT secara rutin memberikan laporan keuangan tahunan yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik kepada donatur dan pemangku kepentingan lainnya, serta mempublikasikannya melalui media massa.

Sejak tahun 2012 ACT mentransformasi dirinya menjadi sebuah lembaga kemanusiaan global, dengan jangkauan aktivitas yang lebih luas. Pada skala lokal, ACT mengembangkan jejaring ke semua provinsi baik dalam bentuk jaringan relawan dalam wadah MRI (Masyarakat Relawan Indonesia) maupun dalam bentuk jaringan kantor cabang ACT.

Jangkauan aktivitas program sekarang sudah sampai ke 30 provinsi dan 100 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.*

Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar