BP2LHK Kota Makassar siap jadi PUI pengelolaan kawasan Wallacea

id BP2LHK Makassar,Pusat Unggulan Iptek (PUI),pengelolaan Kawasan Wallacea,Makassar

BP2LHK Kota Makassar siap jadi PUI pengelolaan kawasan Wallacea

Taman Wisata Alam Bantimurung merupakan salah satu kawasan karst di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang juga menjadi objek wisata alam. ANTARA/Suriani Mappong

Makassar (ANTARA) - Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Makassar, Sulawesi Selatan, Misto mengatakan, pihaknya tengah menyiapkan diri menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) pengelolaan kawasan Wallacea.

"Untuk mendukung itu, kami telah melakukan focus discussion group (FGD) membahas tentang 3 roadmap PUI untuk pengelolaan kawasan Wallacea," kata Misto di Makassar, Senin.

Ketiga roadmap untuk pengelolaan kawasan Wallacea itu meliputi konservasi Eboni sebagai jenis flora endemik, konservasi tarsius sebagai jenis fauna endemik dan pengelolaan kawasan karst Maros-Pangkep.

Menurut dia, ketiga hal itu menjadi fokus riset BP2LHK yang kemudian dicoba disempurnakan dengan mendapatkan masukan dari para pihak melalui FGD. Pihak yang terlibat dalam memberikan masukan dan saran itu diantaranya pemerhati lingkungan, mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.

Khusus terkait konservasi tarsius sebagai jenis flora endemik, berdasarkan peraturan menteri ternyata satwa ini tidak termasuk satwa yang dilindungi, sehingga berbagai jenis satwa ini dari berbagai sisi menjadi semakin besar peluang dalam pengembangannya seperti menciptakan taman wisata tarsius.

Diakui terdapat berbagai species tarsius namun yang dijadikan fokus adalah species tarsius fuscus, karena itu diharapkan tersedianya data dan informasi mengenai konservasi T Fuscus, termasuk peta jalan untuk penelitian dan pengembangan fauna tersebut.

Sedang terkait konservasi eboni diharapkan sinergitas, efektivitas, efisiensi dan terintegrasi dalam melakukan konservasi tumbuhan eboni.

Eboni merupakan salah satu di antara 300 genus diospyros yang tersebar di seluruh dunia dan satu diantara 6 genus yang tersebar di wilayah Wallacea dan saat ini keberadaannya terancam punah diakibatkan eksploitasi yang tinggi, karena harganya mencapai 37 juta/m3 sangat mahal dibanding harga kayu komersial lainnya.

Sementara pengelolaan karst di sepanjang Kabupaten Maros hingga Kabupaten Pangkep, Sulsel telah dibuatkan roadmap pengelolaan karst hingga 25 tahun ke depan.

Kawasan Karst yang merupakan bentang alam yang terbentuk akibat pelarutan air pada batu gamping ini pengelolaannya dengan tiga model pendekatan. Pertama, model pengelolaan ekosistem kawasan karst Maros-Pangkep sesuai dengan fungsi ekologi dan ekonominya, adanya pengelolaan zonasi kawasan karst yang meliputi blok perlindungan dan blok pemanfaatan.

Pendekatan kedua dengan model konservasi dan pemulihan konservasi dan pemulihan ekosistem kawasan karst outputnya dapat diperoleh teknologi konservasi dan pemulihan ekosistem kawasan karst yang telah mengalami kerusakan.

Sedang ketiga dengan model pemanfaatan keanekaragaman hayati pada kawasan karst Maros-Pangkep secara lestari bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar melalui teridentifikasinya jenis tanaman obat produk obat herbal yang dihasilkan dari kawasan karst Maros-Pangkep.

Roadmap pengelolaan kawasan Karst Maros-Pangkep ini diharapkan dapat memberikan arah pelaksanaan kegiatan penelitian karst bisa lebih terarah, sehingga dapat memberikan output yang jelas bagi pemerintah dan masyarakat.

Kurangnya atau tumpang tindihnya kegiatan penelitian di lapangan, maka dibutuhkan adanya sinergitas dengan para stakeholder terkait seperti lembaga penelitian, universitas, lembaga konservasi dan perusahaan/industri yang memanfaatkan kawasan karst, sehingga dapat mengurangi pemborosan waktu,tenaga dan anggaran.
 
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar