Makassar (ANTARA) - Perwakilan Direktorat Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan RI menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah di Sulawesi Selatan (Sulsel) tetap berkomitmen dalam mencegah stunting pada 1.000 hari pertama kehidupan.
"Masih ada lima daerah yang datanya masih diproses seperti Takalar, Sinjai, Maros, Sidrap dan Luwu," ujar Julina Lijanto, Perwakilan Direktorat Pelayanan Keluarga Kemenkes RI di Makassar, pada Selasa (14/7).
Ia mengatakan hal itu, terkait Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang merilis bahwa kasus stunting paling banyak ditemukan di Kabupaten Jeneponto dengan 37 kasus selama 2024 dari 19 daerah di Sulawesi Selatan.
Berdasarkan SSGI, prevalensi stunting 19,8 di Indonesia pada 2024 dan ditargetkan bisa menurun menjadi 18,8 persen di 2025. Hingga bisa mencapai target penurunan prevalensi stunting menjadi 14,2 persen di 2029.
"Angka stunting Sulsel masih tinggi, karena masih termasuk dari 15 daerah penyebaran stunting," ujarnya.
Prevalensi stunting di Sulsel pada 2024 terjadi penurunan dari 27,4 persen menjadi 23,3 persen.
Selain Jeneponto, SSGI juga merilis Kabupaten Enrekang menjadi daerah dengan stunting terbanyak kedua di Sulsel dengan angka kasus 34 dan termasuk kategori sangat tinggi.
Julina mengemukakan bahwa angka stunting di Indonesia masih terbilang sangat tinggi dibanding negara-negara yang ada di Asia Tenggara. Sehingga perlu upaya kolaboratif dan keberlanjutan dalam menangani stunting.
Maka dari itu, dia berharap komitmen pemerintah daerah di Sulsel dalam upaya mencegah stunting di 1000 hari pertama kehidupan. Namun melakukan intervensi sejak remaja melalui pemberian TTD.
"Pemicu stunting juga bersumber dari pola asuh dan permasalahan makanan, seperti banyak mengkonsumsi makanan dengan pabrikan tinggi gula garam dan lemak. Sementara masalah gizi ini perlu segera diatasi," katanya.
Kementerian Kesehatan menekankan penanganan stunting tidak hanya dimulai dari calon ibu, tetapi juga dimulai dari remaja dengan pemberian tablet tambah darah, kemudian pada calon pengantin, bayi dan balita serta ibu hamil.
"Penanganan stunting penting dimulai dari sebelum dan setelah menikah. Khususnya pencegahan stunting sejak masa remaja, misalnya para remaja terindikasi anemia karena kurang mengonsumsi tablet tambah darah (TTD)," katanya.
Julina hadir di Makassar dalam lokakarya “Komitmen untuk Gizi: Dari Bukti Menuju Dampak, Mewujudkan Program Gizi yang Terarah, Terintegrasi, dan Berkelanjutan”. Kegiatan ini digelar oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bekerja sama UNICEF.
Lokakarya ini menjadi forum strategis dalam membangun komitmen lintas sektor terhadap isu-isu gizi di Sulawesi Selatan, dengan fokus utama pada percepatan penurunan stunting dan peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.

