Tabungan pelajar Sulsel capai rp20 miliar

id tabungan pelajar ,tabungan simpel,ojk sulampua,muhammad yusuf

Foto arsip - Murid SD Katolik Santo Yakobus memperlihatkan buku tabungan SimPel Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Sulawesi Mandiri saat diresmikan di Makassar, Rabu (17/2/16). (ANTARA FOTO/Dewi Fajriani)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional VI Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) mengatakan jumlah tabungan simpanan pelajar (simpel) khususnya di wilayah Sulawesi Selatan hingga Desember 2017 mencapai Rp20,02 miliar.

Kepala Bagian Kemitraan dan Pengembangan Ekonomi Keuangan Daerah OJK Sulampua Muhammad Yusuf di Makassar, Selasa, mengatakan total tabungan pelajar di daerah itu berasal dari 188.255 rekening dari berbagai bank.

"Jadi untuk total tabungan simpel hingga Desember 2017 itu telah mencapai Rp20,02 miliar (Rp999,2 juta dari bank syariah). Nilai ini memang jauh lebih tinggi mengikuti pertumbuhan jumlah rekening yang juga semakin besar," katanya.

Pada Oktober 2017, kata dia, jumlah rekening simpel telah tercatat sebanyak 178.118 rekening dengan tabungan sebesar Rp19,54 miliar , Artinya ada peningkatan 10 ribuan rekening baru pada periode November dan Desember 2017.

Peningkatan jumlah rekening itu sekaligus ikut meningkatkan jumlah saldo atau tabungan dari para pelajar di provinsi tersebut.

Pihaknya juga ikut memberikan apresiasi terhadap respon masyarakat terhadap pentingnya menabung sejak dini atau saat masih status pelajar.

Jumlah bank peserta tabungan SimPel di Sulsel yang cukup banyak yakni mencapai 25 bank, baik bank umum reguler maupun bank syariah, juga menjadi faktor dan turut berpartisipasi dan berkomitmen dalam memngembangkan tabungan simpel ke depan.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida mengatakan optimistis dapat mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4 persen dengan dukungan sektor jasa keuangan yang begitu kondusif.

"Kami yakin sektor jasa keuangan mampu mendukung pencapaian target 5,4 persen. Hal ini didukung oleh solidnya indikator sektor jasa keuangan baik dari sisi pemodalan dan likuiditas, maupun tingkat risiko yang terkendali," ujarnya.

Ia menjelaskan, saat ini merupakan momentum yang tepat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah kondisi ekonomi dan sektor jasa keuangan yang kondusif.

Alasannya dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2017 di kisaran 5-5,1 persen, nilai tukar rupiah yang stabil, inflasi yang rendah (3,61 persen yoy), keseimbangan eksternal yang membaik ditandai oleh surplus neraca perdagangan USD11,8 miliar.

Termasuk defisit APBN yang terkendali sebesar 2,42 persen terhadap PDB, dan kecenderungan suku bunga yang terus menurun. Sepanjang tahun 2017, suku bunga deposito telah turun 65 bps dan suku bunga kredit turun 77 bps.
Pewarta :
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar