Rabu, 20 September 2017

4.000 PNS Balaikota Punya Tabungan Bank Sampah

id bank sampah, pns, balaikota makassar, haidil adha
4.000 PNS Balaikota Punya Tabungan Bank Sampah
Ilustrasi-Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomato (kiri) memberikan beras secara simbolis kepada warga dalam program sampah ditukar beras di UPTD Bank Sampah Pusat jalan Toddopuli raya, Makassar (ANTARA FOTO/Darwin Fatir)
"Setiap hari ada aktivitas menabung sampah dari setiap unit kerja...
Makassar (Antara Sulsel) - Sebanyak 4.000 orang pegawai negeri sipil (PNS) yang berkantor di Balaikota Makassar mampu mengelola sampahnya menjadi uang dengan cara menabungnya di Bank Sampah.

"Setiap hari ada aktivitas menabung sampah dari setiap unit kerja. Biasanya sekali dalam tiga atau empat hari per unit kerja datang menabung dan rata-rata PNS di sini punya tabungan semua," ujar Kepala Bagian Perlengkapan Makassar Haidhil Adha di Makassar, Selasa.

Ia mengatakan, sampah yang dikelola di bank sampah Balaikota ini umumnya adalah kertas dan surat kabar yang menjadi bagian dari alat tulis kantor (ATK).

Setiap orang atau kelompok dalam unit kerja yang menyetorkan sampahnya itu dihitung per kilogramnya dan harga untuk satu kilogram sampah bervariasi mulai dari Rp700 hingga Rp4.000 per kilogram.

Besaran nilai rupiah untuk sampah disesuaikan dengan jenisnya seperti sampah potongan kertas dan surat kabar yang hanya senilai Rp700 perkilogram.

Berbeda dengan sampah yang memiliki nilai jual tinggi seperti aluminium ataupun sampah plastik seperti botol bekas ataupun gelas plastik air mineral yang harganya relatif lebih mahal.

"Ada sampah yang murah ada sampah mahal. Yang murah itu kalau kertas, sekilonya Rp700 dan yang paling mahal itu aluminium Rp400 sekilonya," katanya.

Adapun aset yang dikelola perbulan melalui bank sampah ini sekitar Rp20 juta. Sedangkan sampah yang terkumpul dan dibawa ke induk bank sampah sekitar 10 ton.

Haidil mengaku, setiap pegawai yang memiliki tabungan dan saldo bisa dicairkan dalam bentuk apa saja, baik secara tunai, ditukar dengan beras, sabun cuci, detergen maupun permen atau es krim.

Bahkan Wakil Wali Kota Makassar Syamsu Rizal MI apabila memiliki waktu luang, memantau langsung proses penimbangan sampah di unit bank sampah balaikota dan menimbang sendiri sampahnya.

"Menjadi seorang pemimpin adalah memberikan contoh kepada masyarakatnya dan sebagai pelayan masyarakat, contoh itu yang coba saya tunjukkan kepada masyarakat," katanya.

Deng Ical -- sapaan akrab wawali mengatakan, program bank sampah di Makassar sudah lama digalakkan dan baru pada 2016 progres pelaksanaannya semakin sempurna.

Editor: Daniel

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga