Keluarga di Makassar berharap korban penembakan ditemukan

id korban penembakan,kelompok kriminal bersenjata,nduga papua

Keluarga di Makassar berharap korban penembakan ditemukan

Keluarga menunjukkan fotocopy KTP Muh Akbar Ali dan foto Hardi Ali korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) Papua, di rumahnya di Jalan Perumnas Sudiang, Makassar Sulawesi Selatan. (Foto ANTARA/Darwin Fatir/18)

Makassar (Antaranews Sulsel) - Keluarga korban masih berharap TNI/Polri dapat menemukan anak mereka setelah penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, Minggu (2/12).

"Sampai saat ini belum ada informasi apakah anak kami masih hidup atau sudah meninggal," kata Gazali, ayah Muh Ali Akbar, di Perumnas Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu.

Lima korban yang masih dinyatakan hilang, tiga korban di antaranya warga Makassar, yakni Muh Ali Akbar, Hardi Ali, dan Petrus Ramli. Dua lainnya, yakni Simon Tandi dan Riki Simanjuntak.

Data dari Penerangan Kodam XVII Cendrawasih jumlah korban 28 orang, tujuh di antaranya selamat, 16 telah ditemukan meninggal dunia, dan lima belum diketahui keberadaannya.

Gazali mengemukakan bahwa pihak keluarga sangat berharap aparat keamanan menemukan anaknya, baik dalam keadaan hidup maupun meninggal dunia.

Salah satu korban penembakan, Fais Syaputra, jenazahnya sudah dipulangkan dan telah dimakamakan di pekuburan umum Sudiang.

"Almarhum Fais bersama anak saya dan dua temannya berangkat bersama-sama 3 minggu lalu. Sejak keberangkatan mereka belum ada komunikasi sampai sekarang. Kami sangat berharap mereka ditemukan," kaanya yang didampingi istrinya, Dewi.

Ia menjelaskan bahwa Ali adalah anak keempat dari lima bersaudara. Anaknya itu dikenal mudah bergaul dan berkomunikasi dengan siapa saja.

Kepergiannya ke Papua karena diajak rekannya untuk bekerja di sana.

Sejak berangkat ke Papua, kata Angel (adik kandung korban Petrus Ramli), ada firasat ketika melihat kakaknya terakhir kali.

"Barusan ini dia (Petrus Ramli) peluk saya, biasanya tidak begitu, langsung saja pergi," katanya.



                                 FIrasat

Sementara itu, Fadillah Aulia Lukman (istri korban penembakan, Fais Syaputra) ketika ditemui di Perumnas Sudiang Jalan Takalar, Kecamatan Biringkanaya, menceritakan awal keberangkatan suaminya yang tidak mau foto bersamanya.

"Dia bilang tidak usah foto-foto berdua sebelum berangkat. Almarhum juga mau hapus tatonya kalau nanti sudah pulang ke Makassar," kata Fadillah.

Ia mengatakan bahwa suaminya berangkat bersama Ali dan Hardi serta Ramli.

Fais Syaputra diketahui memiliki hubungan keluarga dengan Petrus Ramli yang membawanya bekerja ke Papua. Almarhum telah d makamkan pada hari Sabtu (8/12) di TPU Sudiang.

Sebelumnya, sebanyak 16 peti jenazah korban penembakan di Papua tiba di Pangkalan Udara (Lanud) Sultan Hasanuddin, Jumat (7/12), dengan pesawat Hercules.

Sebanyak 14 Peti jenazah diturunkan di Lanud setempat, sementara dua peti jenazah diterbangkan ke Jakarta. Selanjutnya, dibawa pihak keluarga ke Medan.

Untuk korban warga Sulsel sebanyak sembilan orang masing-masing almarhum Muh Agus asal Kabupaten Gowa, almarhum Fais Syaputra asal Makassar, keduanya sudah dimakamkan.

Selanjutnya, almarhum Alipanus, Carly Fattin, Agustinus, Anugerah, Dino Kondo, Danil Karre, dan Marcus Allo asal Kabupaten Tana Toraja, Sulsel.

Tiga korban lainnya asal Palu, Sulawesi Tengah, masing-masing Yusafat, Yusran, dan Aris Usi.

Korban dari provinsi lain, yakni almarhum Samuel Pakiding asal Balikpapan (Kaltim) dan almarhum Emanuel Beli Naikteas (Nusa Tenggara Timur).

Dua peti jenazah masing-masing almarhum Jegri Simare Mare dan alamrhum Efrandi Hutagaol asal Medan, Sumatera Utara, sudah diambil pihak keluarga untuk dimakamkan.

Para korban tersebut bekerja untuk menyelesaikan pembangunan jembatan di lokasi kejadian.
 
Keluarga menunjukkan Muh Akbar Ali dan Hardi Ali korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata ( KKB) Papua, di kediamannya di Jalan Perumnas Sudiang, Makassar Sulawesi Selatan. (Foto ANTARA/Darwin Fatir/18)
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar