Geliat Islam di Xinjiang

id artikel-uighur,Geliat Islam di Xinjiang,Urumqi

Geliat Islam di Xinjiang

Bangunan masjid megah berdiri di tengah pusat perbelanjaan Xinjiang International Grand Bazaar di Urumqi, Daerah Otonomi Xinjiang, yang padat pengunjung, Kamis (3/1/2019). (FOTO/M Irfan Ilmie)

Bandar udara internasional Diwopu di Kota Urumqi, baru beberapa hari yang lalu dibuka kembali setelah sempat mengalami penutupan akibat hujan salju dalam intensitas tinggi di wilayah barat China. Landasan pacu dan landas langsir satu-satunya bandara internasional di Ibu Kota Daerah Otonomi Xinjiang itu sudah bisa didarati dan dilalui berbagai jenis pesawat dengan aman.  

                                                  "Hubbul wathan minal iman"

Seorang guru melafalkan tulisan kapur di papan yang ditirukan oleh beberapa murid di salah satu ruang kelas di kampus Institut Islam Xinjiang (XII). Potongan hadits Nabi SAW yang berarti "mencintai negara merupakan sebagian dari iman" itu dibaca berulang-ulang oleh para pelajar putra berusia 20 tahun ke atas yang semuanya mengenakan kopiah tradisional mereka benbentuk persegi dengan empat sudut lengkung.

Hadits lain dan ayat Alquran tentang persatuan dan rasa saling mengenal antara satu dengan yang lain dibaca keras-keras oleh para pelajar dengan bimbingan seorang guru saat ANTARA dan empat awak kantor berita asing lainnya memasuki ruang kelas dengan dipandu Imam Abdur Raqib sebagai tokoh umat Islam Xinjiang.

Selesai pelajaran di kelas, mereka bergegas menuju masjid yang berdiri tidak jauh dari gedung perkuliahan di dalam kompleks XII di Kota Urumqi itu. Di dalam bangunan yang sebagian atapnya berselimutkan salju itu, ternyata sudah ada jamaah lainnya.

Setelah suara azan dikumandangkan diikuti dengan ikamah, Imam Raqib pun melangkah ke mihrab untuk memimpin jamaah shalat Ashar pada Kamis (3/1). Cara jamaah menyibakkan diri dengan memberikan jalan bagi imam yang hendak melangkah dari pintu masjid menuju mihrab sama persis dengan tradisi para santri di pesantren-pesantren salaf di Pulau Jawa.

Bedanya, di pesantren salaf di Jawa, para santri rela membeberkan sajadahnya agar diinjak sang kiai saat berjalan menuju pengimaman demi mendapatkan berkah, di Xinjiang para penuntut ilmu tidak membawa sajadah karena karpet di masjid sangat tebal, sama dengan masjid-masjid lainnya di daratan Tiongkok sehingga makmum bersajadah itu tidak lazim.

Di masjid itu tidak ada doa atau wirid seusai shalat, kecuali hanya duduk beberapa menit sebelum bubar. Namun secara umum tata cara shalat di Xinjiang tidak beda jauh dengan di Indonesia karena mayoritas dari mereka juga beraliran Sunni. "Kami di sini berpatokan pada Alquran dan Hadits Nabi. Untuk mazhab, kebanyakan dari kami menganut Abu Hanifah (Imam Hanafi)," kata Raqib.

Sampai saat ini di kampus XII terdapat 238 pelajar yang kebanyakan berasal dari dalam wilayah Xinjiang sendiri untuk belajar agama Islam dengan rentang waktu antara enam bulan hingga enam tahun, tergantung strata. XII memiliki delapan cabang di Xinjiang dengan jumlah pelajar secara keseluruhan sebanyak 1.200 orang. Sebagai satu-satunya lembaga yang mencetak para imam dan pemuka agama Islam di Xinjiang, XII mendapatkan akreditasi dari pemerintah.

Kebanyakan para pelajar XII yang berasal dari berbagai daerah perbatasan dengan Kazakhstan, Kirgizstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Pakistan itu mendapatkan bantuan pembiayaan sekolah, akomodasi, dan uang jajan dari pemerintah China.
 

                                                                      Calon Imam

Fasilitas di dalam kampus pun memadai, termasuk sarana dan prasarana beribadah serta terlindunginya berbagai kegiatan keagamaan. "Kami belajar Alquran, ilmu Hadis, dan fikih, selain juga belajar Bahasa Arab," kata Abdul Aziz (23), pelajar XII asal Kota Hotan, yang memperkenalkan diri kepada Antara dengan menggunakan Bahasa Arab.

Di kampus tersebut, dia juga diwajibkan belajar Bahasa Mandarin sebagai bahasa nasional China. Sebelum menimba ilmu di Ibu Kota, Aziz sama sekali tidak mengerti Bahasa Mandarin. "Saya datang ke sini atas keinginan sendiri dengan harapan pemerintah nanti bisa memberikan pekerjaan kepada saya sesuai dengan bidang yang saya tekuni," tuturnya dalam bahasa Mandarin. Nur Ahmadi yang sepantaran dengan Aziz mengaku tidak mengeluarkan uang sepeser pun selama belajar dan tinggal di asrama kampus.

Sama dengan temannya, Nur juga berharap pemerintah setempat memberikannya pekerjaan yang tidak jauh dari lingkungan masjid sebagai satu-satunya tempat yang dilegalkan untuk kegiatan keislaman sebagaimana tertuang dalam Kebijakan dan Implementasi Perlindungan Kebebasan Umat Beragama di China yang berlaku per 3 April 2018. Regulasi yang dikeluarkan lembaga yang mengurusi masalah keagamaan di bawah Dewan Pemerintahan China menekankan bahwa semua rumah ibadah harus terdaftar di pemerintah setempat.

Pemerintah setempat sudah memberikan ketentuan mengenai pembangunan rumah-rumah ibadah yang tidak boleh didirikan di lembaga pendidikan, kecuali lembaga pendidikan berbasis agama.

Dalam catatan lembaga tersebut, jumlah rumah ibadah di China sebanyak 143.500 unit yang terdiri dari 35.000 masjid, 33.500 kuil Buddha, 9.000 kuil Taoisme, 6.000 gereja Katholik, dan 60.000 gereja Protestan. Jumlah umat beragama di China, menurut lembaga tersebut, mencapai 200 juta jiwa atau sekitar tujuh persen dari total populasi 1,5 miliar jiwa. Meskipun masjid mendominasi rumah ibadah di China, pemeluk agama Islam hanya 20 juta jiwa dengan jumlah imam 58.000 orang. Jumlah itu masih kalah dengan pemeluk Protestan di China yang mencapai 38 juta.

Perhatian terhadap perkembangan Islam juga diberikan oleh pemerintah China dengan menerbitkan Alquran dalam berbagai bahasa yang digunakan masyarakat setempat, seperti Mandarin, Uighur, Kazakh, dan Kirgiz. Belum lagi referensi keislaman lain yang telah mencapai 1,76 juta salinan, sebagaimana data Dewan Pemerintahan China Urusan Keagamaan itu. Di Xinjiang sendiri terdapat 24.000 unit masjid. Seluruhnya berada di dalam pengawasan pemerintah China.

Sama halnya dengan masjid-masjid lainnya di China yang kebanyakan dibangun pada masa Dinasti Ming yang memerintah China selama 276 tahun, mulai 1368 hingga 1644 Masehi. Sebagian besar masjid di China yang sampai saat ini berdiri sudah mengalami beberapa kali pemugaran, baik berskala besar maupun kecil, dengan semua pembiayaannya ditanggung oleh pemerintah setempat.

                                                                     
                                                                                  Wisata Religi

Masjid Etigar di Kota Kashgar merupakan salah satu masjid tertua di Xinjiang. Masjid yang dibangun pada 1486 Masehi itu tidak hanya menjadi sarana ibadah bagi etnis Muslim Uighur, melainkan juga objek wisata karena lokasinya berada di tengah kota. Sejak pertama kali dibangun sampai saat ini Masjid Etigar sudah mengalami tujuh kali pemugaran, yang terakhir dilakukan pada 2011-2012 dengan biaya pemerintah sebesar 11 juta RMB.
Pewarta :
Editor: Laode Masrafi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar