RSKD Dadi menuju layanan paripurna

id rsud dadi,menuju pelayanan paripurna,pelayanan paripurna,makassar,rskd dadi,pemrov sulsel

RSKD Dadi (Foto/Pemprov Sulsel)

"Biasanya untuk berubah, manusia mau melihat dulu. Saya harus memberi contoh dulu, kita bekerja dulu tidak memikirkan uang. Lama-lama mereka ikut, yang salah jika saya bicara tapi tidak berubah, kita malah bisa kehilangan kepercayaan, manakala kita t
Makassar, (Antaranews Sulsel) - Stigma Rumah Sakit Umum (RSU) Dadi yang sebelumnya tidak terlepas sebagai rumah sakit pemerintah tertua di Makassar dengan pelayanan yang belum optimal, kini pelan tapi pasti stigma itu mulai tertanggalkan dibenak masyarakat.

Pengikisan stigma itu berawal dari perubahan pelayanan yang terus membaik di RSKD Dadi Makassar. Wajah Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Provinsi Sulsel Dadi dengan label (Stroke Center) mulai mengalami perubahan yang signifikan pasca kehadiran Pelaksana Tugas(Plt) RSKD Dadi, Dr Arman Bausat Sp.B, Sp.OT (K) Spine sejak 4 April 2018.

Menurut Arman, hal yang paling mendasar ialah memperbaiki pelayanan kepada masyarakat dengan fokus di tiga hal utama, yakni perbaikan infrastruktur, Sumber Daya Manusia (SDM), dan manegemen rumah sakit.

"Saya perbaiki dulu semua, harus diubah dan intinya memperbaiki pelayanan. Perbaiki diri dulu baru promosi," ungkap Amran.

Menurut dia, perbaikan SDM merupakan inti dari sebuah pelayanan yang baik, sehingga motivasi maupun semangat dianggap sangat perlu diberikan seorang pimpinan kepada rekan kerjanya.

Kunjungan ke berbagai ruang kerja pun dilakukan untuk langsung memantau keberadaan karyawan. Mengingatkan bahwa pekerjaan merupakan amanah, bagian dari ibadah, jangan pesimis dan bekerja dengan ikhlas.

Agar semangat bekerja karyawan RSKD Dadi tetap terjaga, Arman mengeluarkan peraturan per 1 Januari 2019, terkait inspeksi dadakan (sidak) yang kapan saja bisa dilakukan. Bagi karyawan yang tidak hadir saat sidak berlangsung, maka honornya akan dipotong 10 persen.
Pelaksana Tugas(Plt) RSKD Dadi, Dr Arman Bausat Sp.B, Sp.OT (K) Spine. Foto Antaranews Sulsel/NS Wardyah/19


Dia mengakui, bukanlah hal mudah mengubah mindset para SDM yang ada di RSKD Dadi, karena itu cara yang diambil ialah melalui keteladanan. Hasilnya, yang dulunya pasif mulai aktif.

"Biasanya untuk berubah, manusia mau melihat dulu. Saya harus memberi contoh dulu, kita bekerja dulu tidak memikirkan uang. Lama-lama mereka ikut, yang salah jika saya bicara tapi tidak berubah, kita malah bisa kehilangan kepercayaan, manakala kita tidak perbaiki kepercayaan, maka tidak akan sejalan," paparnya.

Selain itu, perbaikan infrastruktur juga mulai berlangsung di RSKD Dadi. Menjabat 10 bulan terakhir, secara transparan Arman mengaku menggunakan anggaran sekitar Rp2,5 miliar untuk melakukan perubahan infrastruktur di tiga bulan terakhir.

Tenaga kesehatan di RSKD Dadi hampir semua ada, memiliki tenaga medis yang cukup dan beragam. Namun karena sarana tidak menunjang maka kompetensi tersebut tidak tersalurkan dengan baik.

Akhirnya, ruang bersalin mulai disiapkan untuk pelayanan lebih kompleks bagi masyarakat. Dibuat pula perawatan percontohan untuk pasien jiwa, seperti perawatan harus bersih, seprei diganti setiap hari dan perawatnya harus sesuai. Perawatan jenis ini dimulai dengan dua ruangan. Beberapa bangunan yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, kini digunakan kembali.

Perubahan tata letak dan tata ruang menjadi yang utama untuk memaksimalkan pelayanan. Sebut saja perawatan nonjiwa, yang dulunya berpencar kini mulai disatukan sehingga memudahkan akses masyarakat memperoleh layanan.

Sementara jika dulu, pasien diantar menggunakan ambulance ke ruang Unit Gawat Darurat (UGD), kini mulai dibuatkan zonasi untuk akses ke UGD. Agar gedung stroke center termanfaatkan, fokus perbaikan dilakukan pada lift dengan anggaran Rp150 juta.

Untuk menfungsikan stroke centre, lanjut dia, lebih awal memperbaiki dulu lift. Tahun ini direncanakan memperbaiki lagi lift yang satu, jadi bisa digunakan bergantian selang sehari," ungkap mantan Direktur RS Sayang Rakyat ini.

Alhasil, ruang rehab stroke center yang sebelumnya sangat sepi dan tidak begitu termanfaatkan kini mulai ramai dipenuhi pasien. Khusus lantai 2 dan 3 dibuatkan sekat untuk ruang perawatan VIP, kelas II dan III.

Ruangan mubazzir yang sangat jarang digunakan kini dimanfaatkan untuk diklat staf dan karyawan. Bahkan, beberapa bangunan dialihfungsikan menjadi asrama mahasiswa dari luar daerah yang mampu menampung hingga 200 orang, dengan per kamarnya muat lima orang. Biaya yang dikenakan pun sangat terjangkau, sesuai perda hanya dibebankan Rp50ribu perpekan.

Selain itu, ekonomi keumatan juga menarik perhatian Ahli Bedah Tulang tersebut. Dr Arman membangun kantin di bagian depan rumah sakit, memanfaatkan para penjual keliling untuk ikut menjajakan dagangannya di dalam kantin sekaligus menggiatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Perubahan yang diciptakan Dr Arman mulai menampakkan hasil. Pihak bagian gizi melaporkan agar menu gizi harus ditambah. Selain untuk lebih bervariasi, juga karena kuantitas pasien semakin hari mengalami pelonjakan.

"Selama kita berniat baik pasti tidak ada masalah," tandas Arman.

Terkait perbaikan managemen, Dr Arman menyebutkan hal tersebut sangat berhubungan dengan kompetensi SDM dan diakui SDM RSKD Dadi cukup bagus. Hanya saja semangat yang perlu ditumbuhkan.

Beberapa strategi pun dilakukan agar menjaga pelayanan prima pada pasien, salah satunya membagi tugas PNS dan non PNS tanpa menggabung keduanya. Sesuai pengalaman Arman di RS Haji, biasanya pegawai PNS ini jika jaga bareng nonASN maka dia pulangnya lebih cepat, apalagi kalau jaga malam.

Karena itu, dia membuat kebijakan memisahkan dua bagian ini. Hasilnya, sudah tidak ada lagi yang hanya datang absen saja.

Pengalamannya selaku mantan Direktur RS Haji, menjadi dokter ahli bedah di rumah sakit swasta seperti Hermina dan Bhayangkara sedikit banyak memberikan sumbangsih untuk peningkatan RSKD Dadi.

Arman menilai, jika RS swasta bisa bertahan dan memperoleh keuntungan, bagaimana mungkin RS negeri yang honor pegawainya ditanggung pemerintah bisa merugi.

Karena itu, terhitung 1 Januari 2019, RSKD Dadi menerapkan sistem BLUD untuk pertama kalinya yang pengelolaan keuangan dilakukan sendiri, tanpa lagi ada subsidi dari pemerintah provinsi.

"Kita mengelola uang sendiri, jadi pendapatan tidak lagi distor di kas daerah. Pendapatan daerah kita bisa pakai kapan pun yang penting pertanggungjawaban," katanya.

Tidak hanya itu, Dosen Fakultas Kedokteran Unhas ini juga mengaku, tidak begitu mempermasalahkan kehadiran karyawannya, yang terpenting ialah hasil dari pekerjaannya untuk memberikan pelayanan paripurna pada masyarakat. Karena Arman meyakini semua yang diawali dari niat yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula.
Pelaksana Tugas(Plt) RSKD Dadi, Dr Arman Bausat Sp.B, Sp.OT (K) Spine. Foto Antaranews Sulsel/NS Wardyah/19
Pewarta :
Editor: M Darwin Fatir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar