Bantul kenalkan penanaman bawang merah di wilayah dataran tinggi

id Bawang merah

Bantul kenalkan penanaman bawang merah di wilayah dataran tinggi

Tanaman bawang merah di dataran tinggi wilayah Nawungan, Selopamioro, Bantul, DIY (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus mengenalkan penanaman bawang merah di dataran tinggi daerah ini untuk mengoptimalkan produksi tanaman hortikultura tersebut.

"Memang selama berpuluh-puluh tahun ini tidak pernah menanam bawang merah di dataran tinggi, sehingga empat tahun ini mulai 2016, 2017, 2018 dan 2019 kami perkenalkan bawang merah di dataran tinggi," kata Kepala Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi di Bantul, Jumat.

Menurut dia, dataran tinggi atau kawasan perbukitan yang sudah sukses mengembangkan tanaman bawang merah dan para petani sudah menikmati hasil panen di antaranya di Desa Selopamioro Imogiri yang berada di pedukuhan Nawungan.

"Dan Alhamdulillah tahun ini di Srunggo 1 dan Srunggo dua Desa Selopamioro sudah mulai mengembangkan tanaman bawang merah," katanya.

Dia menyebutkan, lahan bawang merah yang sudah berkembang tahun ini di wilayah Srunggo kurang lebih seluas 50 hektare, sementara yang berkembang di Nawungan sudah mencapai seluas 150 hektare.

Dia menjelaskan, di Bantul sebetulnya juga sudah ada wilayah yang menjadi sentra pengembangan bawang merah yaitu di wilayah Sanden dan Kretek atau wilayah pesisir selatan "Kalau di Ketek memang masih tetap dan ajeg cuma kami kembangkan di bukit atau dataran tinggi," katanya.

Dia mengatakan, pengembangan tanaman bawang merah di dataran tinggi yang juga direspon positif oleh para petani itu karena memang harga panen yang tinggi, hal itu karena selama pertumbuhan harus ada perawatan khusus agar tidak terkena penyakit atau hama.

"Kenapa mereka beralih karena memang harganya cukup tinggi walaupun sebetulnya risikonya juga cukup besar. Dan itu berpengaruh pada kondisi iklim, karena airnya sedikit maka kami mencari komoditas yang bukan padi," katanya.
Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar