Makassar (ANTARA News) - Masyarakat Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan dinilai belum membutuhkan pabrik obat mengingat industri itu terbatas dalam menyerap tenaga kerja yang berasal dari masyarakat setempat.
"Kontrak pembangunan pabrik obat hanya terbatas menyerap tenaga kerja yang memiliki pendidikan strata satu keatas, sementara mayoritas penduduk di Pangkep lulusan SD dan SLTP," kata Direktur PT Maruki Internasional Indonesia Taufik Fachruddin di Makassar, Minggu.
Kandidat Calon Bupati Kabupaten Pangkep ini melihat keberadaan pabrik obat di daerah itu belum mampu menyerap pengangguran di Pangkep yang saat ini mencapai 20 ribu orang lebih.
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di kabupaten Pangkep, lanjutnya masih sangat rendah yang saat ini terus menurun di urutan 21 dari 24 kabupaten/kota di Sulsel dan tenaga kerja di daerah itu membutuhkan sektor yang memang memungkinkan masyarakat setempat bisa memperoleh lapangan pekerjaan.
"Pangkep yang memiliki potensi alam beragam, sebaiknya di arahkan untuk membangun industri di sektor pertanian dan perkebunan. Paling tidak, sektor ini bisa menyediakan lapangan kerja yang cukup bagi masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan rendah," ucapnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel menyebutkan IPM Pangkep terus merosot sejak tahun 2004 - 2008, turun dari posisi 15, 17, 19, 21 dan 21 dari total kabupaten/kota se-Sulsel.
Pemerintah Provinsi Sulsel berencana membangun 20 industri obat-obatan (farmasi) di sejumlah kabupaten/kota di provinsi ini, termasuk kabupaten Pangkep hingga tahun 2012.
Direktur Utama Perusda Sulsel, Haris Haodi mengatakan, pembangunan industri obat-obatan itu dilakukan untuk mendukung program kesehatan gratis di Sulsel dan berharap keberadaan industri ini dapat membantu penyediaan obat-obatan yang dibutuhkan masyarakat Sulsel.
(T.KR-HK/S016)

