Korban Natural DAM Way Ela Memilih Direlokasi

id korban natural, dam way ela, bpbd maluku tengah

"Lahan perlu disiapkan sejak dini agar tidak menghambat kegiataan pembangunan bila anggaran telah dialokasikan. Apalagi, para korban jebolnya natural dam Way Ela saat ini masih ditampung di tenda - tenda," ujar Bob.
Ambon (ANTARA Sulsel) - Para korban jebolnya natural dam Way Ela di desa Negeri Lima, pulau Ambon, kabupaten Maluku Tengah pada 25 Juli 2013 memilih direlokasi.

"Saat sosialisasi penanganan tanggap darurat maupun pemulihan pada September 2013 ternyata para koban lebih memilih direlokasi dari membangun kembali di permukiman yang telah rata dengan material natural dam Way Ela, kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku Tengah, Bob Rachmat, dikonfirmasi, Jumat.

Keinginan masyarakat ditampung Pemkab Maluku Tengah yang nantinya mengajukan kebutuhan anggaran ke Pemprov Maluku guna diteruskan ke pemerintah pusat.

Relokasi pun masih di kawasan desa Negeri Lima yang merupakan hak ulayat dengan letaknya tidak masuk daerah rawan bencana karena masih tersisa material longsor Gunung Ulakhatu yang membentuk natural dam Way Ela pada 13 Juli 2012.

Karena itu, pemerintah desa Negeri Lima diarahkan untuk menindaklanjuti kesepakatan saat sosialisasi agar bila anggarannya telah dialokasikan pemerintah, maka langsung membangun permukiman baru.

"Lahan perlu disiapkan sejak dini agar tidak menghambat kegiataan pembangunan bila anggaran telah dialokasikan. Apalagi, para korban jebolnya natural dam Way Ela saat ini masih ditampung
di tenda - tenda," ujar Bob.

Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Maluku Mohammad Marasabessy menyatakan, warga desa Negeri Lima, karena masih ada material sisa longsoran Gunung Ulakhatu pada 13 Juli 2012 yang membentuk natural dam Way Ela dalam kapasitas besar.

Sejumlah tim ahli, baik dalam maupun luar negeri yang sedang merampungkan hasil survei, kajian dan penelitian di kawasan Way Ela mempertimbangkan kondisi tekstur tanah di Negeri Lima, maka idialnya warga direlokasi.

"Rekomendasi dari berbagai tim berkompoten dengan kawasan Way Ela maupun geologi yang nantinya memutuskan 'nasib' warga Negeri Lima. Namun, demi keselamatan idialnya warganya bersedia direlokasi," katanya.

Sejumlah tim ahli juga telah menyarankan berbagai masukan terkait pengembangan Way Ela dan BWS Maluku sedang merampungkan program yang cocok dikembangkan di sana.

Geolog Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon DR.Ir. Robert Hutagalung menyatakan, kawasan Way ela, desa Negeri Lima, pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah tekstur tanahnya tergolong rawan ancaman terjadi longsor.

"Saya sejak awal longsornya Gunung Ulakhatu pada 13 Juli 2012 telah memberi peringatan soal bakal terjadinya jebol natural dam Way Ela karenanya harus diantisipasi," katanya.

Pertimbangannya sejarah terbentuk pulau Ambon karena terjadinya letusan gunung api sehingga tekstur tanahnya tergolong rawan longsor.

"Jadi sewaktu - waktu, baik karena gempa bumi atau hujan dengan intensitas maupun durasi tinggi, maka kemungkinan terjadi longsor kembali relatif besar," ujar Robert.

Bencana Way Ela mengakibatkan tiga blok permukiman terhanyut air yakni Ulisihu, Elatua dan Henalelu terdata rumah yang rusak total maupun hanyut sebanyak 525 unit, SD sebanyak tiga unit, dua mushalla serta masing - masing satu tower Telkomsel, sarana air bersih SMA, taman pengajian, TK dan kantor KUD.

Sedangkan dua blok lainnya yang aman yakni Henalalu dan Nau.

Jebolnya natural dam Way Ela juga mengakibatkan tiga warga Negeri Lima teridentifikasi yakni Kasim Uluputty(85 tahun), Muksin Mahulauw (70 tahun) dan Arman Parasouw(66 tahun) dinyatakan hilang.

Namun, jenazah Muksin ditemukan di sekitar laut Teluk Piru, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) pada Sabtu (31/8) pagi. N Sunarto
Pewarta :
Uploader: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar