Mamuju (ANTARA) - Polres Pasangkayu Provinsi Sulawesi Barat menggelar sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme dan terorisme sebagai upaya memperkuat ketahanan ideologi serta mencegah paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila.
"Kegiatan ini menjadi bukti nyata keseriusan Polres Pasangkayu dalam menjaga stabilitas keamanan dan ideologi negara," kata Kapolres Pasangkayu Ajun Komisaris Besar Polisi Joko Kusumadinata, Jumat.
Kegiatan yang berlangsung di Baruga Wicaksana Laghawa Polres Pasangkayu itu dihadiri Ketua MUI Kabupaten Pasangkayu H Muslim Halimain,, Kepala Dinas Sosial, Ketua FKUB, para camat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, perwira polres serta jajaran Bhabinkamtibmas di daerah itu.
Kapolres menegaskan, kegiatan itu sebagai bagian dari pembekalan wawasan kebangsaan bagi seluruh anggota Polri.
"Kegiatan ini sangat penting agar para personel Polri tidak terpapar ideologi yang bertentangan dengan undang-undang dan Pancasila. Kita ingin Polri tetap solid, tidak mudah terprovokasi dan tidak terjerumus dalam paham intoleransi maupun radikalisme," terang Joko Kusumadinata.
Sosialisasi pencegahan intoleransi, radikalisme dan terorisme itu lanjut Kapolres, juga menjadi ajang memperkuat sinergi antar-lembaga dan tokoh masyarakat dalam upaya kolektif menjaga keharmonisan.
"Serta menangkal benih-benih ideologi ekstrem yang bisa mengganggu kedamaian," ujar Joko Kusumadinata.
Kegiatan itu juga tambah Kapolres, sebagai bentuk komitmen Polri, khususnya jajaran Polres Pasangkayu dalam tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"Melalui kegiatan ini, kami menegaskan komitmen Polri untuk tidak boleh lelah menjaga NKRI dari segala bentuk ancaman ideologi radikal," tegas Joko Kusumadinata.
Sementara, Kepala Satgas Wilayah (Satgaswil) Sulbar Densus 88 AT Polri AKBP J Budi Harahap menyampaikan langkah-langkah preventif untuk meminimalisir penyebaran paham radikal di kalangan anggota Polri, keluarganya serta masyarakat umum.
Ia menekankan bahwa radikalisme dan intoleransi bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga racun yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
"Radikalisme dam intoleransi tidak hanya menjadi ancaman fisik tetapi juga dapat menggerogoti kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh karenanya, saya mengajak seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama melawan berbagai bentuk ancaman yang dapat merusak keutuhan NKRI," tegas Budi Harahap.

