Impor Sulsel Turun 36 Persen Juni 2017

Pewarta : id impor sulsel, bps

ilustrasi BPS (ANTARA FOTO)

Makassar (Antara Sulsel) - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor provinsi Sulawesi Selatan mengalami penurunan signifikan dari 119,99 juta dolar AS pada Mei 2017 menjadi 75,89 juta dolar AS pada Juni 2017 atau turun 36,76 persen.

"Yang kita harapkan bersama adalah ekspor meningkat dan impor menurun. Di bulan Juni ini, penurunan nilai impor cukup besar hampir 37 persen," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan Nursam Salam di Makassar, Senin.

Ia mengatakan, impor Sulsel berdasarkan nilai kumulatifnya dari Januari hingga Juni 2017 mencapai 516,07 juta dolar AS. Sedangkan pada periode yang sama pada tahun 2016, nilai impor kumulatif Sulsel sebesar 374,60 juta dolar AS.

"Jika kita membandingkan nilai impor berdasarkan kumulatifnya di tahun ini dengan tahun sebelumnya, maka terlihat jelas ada peningkatan sebesar 37,77 persen," katanya.

Nursam merincikan, beberapa komoditas penyumbang impor terbesar berdasarkan kelompoknya (HS) seperti bahan bakar mineral (BBM) dengan nilai 20,44 juta dolar AS atau 26,93 persen dari total impor Sulsel.

Ia mengatakan, selain dari bahan bakar mineral yang menjadi penyumbang impor terbesar disusul kelompok gula dan kembang gula dengan nilai sebesar 17,95 juta dolar AS atau sekitar 23,66 persen.

Untuk gandum-ganduman, nilai ekspor yang tercatat sebesar 14,47 juta dolar AS atau 19,07 persen, disusul pupuk sebesar 4,61 juta dolar AS (6,06 persen) serta pesawat terbang dan bagian-bagiannya dengan nilai 4,16 juta dolar AS (5,48 persen).

Selain komoditas impor itu, empat negara asal impor terbesar yakni Singapura dengan nilai sebesar 20,94 juta dolar AS (27,60 persen), Thailand 17,83 juta dolar AS (23,49 persen), Australia 9,97 juta dolar AS (13,14 persen), dan Tiongkok dengan nilai 9,78 juta dolar AS (12,89 persen).

"Untuk negara yang mengimpor ke Sulsel itu ada 10 negara, tapi cuma empat negara yang nilainya sangat besar. Sedangkan enam lainnya seperti Rusia, Argentina, Kanada, Amerika Serikat, Ukraina dan Malaysia itu tidak cukup besar," katanya.
Editor: Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2017

Komentar