kabupaten jeneponto tiga terbesar nasabah laku pandai

id Sulsel, Jeneponto, OJK, laku pandai

Ilustrasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). ANTARA FOTO/Yusran Uccang/14 ()

Makassar (Antaranews Sulsel) - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional VI Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) menyebutkan jumlah nasabah yang didapatkan agen Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif (Laku Pandai) di Kabupaten Jeneponto hingga Desember 2017 masuk tiga terbesar se-Sulsel dengan total sebanyak 17.115 nasabah.

Kepala Bagian Kemitraan dan Pengembangan Ekonomi Keuangan Daerah OJK Sulampua Muhammad Yusuf di Makassar, Selasa, mengatakan puluhan ribu nasabah itu didapatkan oleh sebanyak 243 agen laku pandai yang tersebar di daerah penghasil garam tersebut.

"Kabupaten Jeneponto berada dibawah Kota Makassar dengan total nasabah sebanyak 82.426 orang serta Kabupaten Gowa dengan total 17.732 nasabah atau selisih kurang lebih 600 nasabah dari Kabupaten Jeneponto, Sulsel," katanya.

Untuk nasabah kota Makassar merupakan hasil kerja keras dari 1.956 agen laku pandai. Sedangkan Kabupaten Gowa, jumlah nasabah itu didapatkan oleh sebanyak 649 agen laku pandai. Berdasarkan data itu maka agen laku pandai Kabupaten Jeneponto dinilai cukup efektif dalam mencari nasabah di daerah itu.

Sementara untuk posisi keempat sebagai pengumpul nasabah terbanyak ditempati Kabupaten Luwu dengan total 15.512 nasabah (419 agen), Kabupaten Maros dengan 10.524 nasabah (328 agen), Kabupaten Enrekang sebanyak 7.259 nasabah (317 agen).

Selanjutnya ada Kabupaten Soppeng sebanyak 7.087 nasabah (476 agen), Kabupaten Barru sebanyak 6.388 nasabah (317 agen laku pandai), Kota Palopo sebanyak 5.880 nasabah (471 agen), serta Kabupaten Bantaeng dengan 5.368 nasabah (201 agen).

OJK mengakui agen Laku Pandai cocok dan memiliki peran vital dalam meningkatkan perekonomian di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Wilayah KTI memiliki banyak kendala seperti jarak yang begitu berjauhan termasuk wilayah yang cukup terpencil menjadi salah satu hal yang membuat agen itu begitu dibutuhkan, termasuk jika harus membangun gedung baru di daerah tentu membutuhkan anggaran yang tidak sedikit.

Selain itu, juga masih dibutuhkan sejumlah pegawai dan teknisi IT karena untuk mengoperasikan atau melayani masyarakat.





Pewarta :
Editor: Suriani Mappong
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar