Logo Header Antaranews Makassar

Nelson Mandela Diharapkan Hadir di Ambon

Senin, 2 November 2009 04:19 WIB
Image Print

Ambon (ANTARA Sulsel) - Rencana kehadiran mantan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela dalam perayaan Hari Perdamaian Dunia yang djadwalkan berlangsung pertengahan Nopember 2009 di Ambon, Maluku, masih dalam konfirmasi.

Presiden Komite Perdamaian Dunia Djuyoto Suntani saat dihubungi ANTARA Senin, mengatakan, pihaknya mengundang tokoh peraih hadiah Nobel itu untuk hadir di Ambon, tempat gong Perdamaian Dunia akan ditabuh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Kami masih melakukan konfirmasi soal kehadiran peraih hadiah Nobel perdamaian pada 1993 yang kini berusia 91 tahun itu," ujarnya.

Hanya saja, Dyuyoto yang sedang berada di Semarang untuk mengecek perampungan gong perdamaian dunia yang dibuat seniman Jepara, Jawa Tengah itu mengisyaratkan baha kehadiran Mandela ke Ambon tergantung perkembangan kesehatan yang bersangkutan.

Dia mengatakan, tokoh internasional lainnya yang diundang adalah Mohammad Yunus, pendiri Gramen Bank di Bangladesh yang menerima Nobel perdamaian pada 2006.

"Kami sangat mendambakan kehadiran dua tokoh yang peduli terhadap kemanusiaan di Ambon pascakonflik sosial 19 Januari 1999 sehingga masyarakat di Maluku kembali hidup berdampingan dengan damai," ujar Djuyoto.

Dia menambahkan, para duta besar negara sahabat juga diundang ke Ambon sehingga strategis bagi daerah ini karena mereka bisa menyaksikan kondisi sesungguhnya stabilitas keamanan semakin kondusif.

"Kami melalui Menko Kesra Agung Laksono sedang berkoordinasi dengan Presiden SBY untuk memutuskan waktu pasti Perayaan Perdamaian Dunia di Ambon yang ke-29 sehingga ini kebanggaan bagi Maluku karena 28 penyelenggaraan sebelumnya dipusatkan di ibu kota negara," kata Dyuyoto.

Ketua panitia lokal Hari Perdamaian Dunia Cak Saimima mengatakan, berbagai persiapan menyukseskan kegiatan tersebut sedang dirampungkan.

"Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu termotivasi agar perayaan Hari Perdamaian Dunia ini menyentuh hati masyarakat setempat agar bertekad hidup damai sebagaimana warisan leluhur yakni jalinan keharmonisan antarumat beragama dibingkai budaya 'pela dan gandong'," ujarnya.


Dibuat di Jepara

Khusus untuk gong perdamaian yang nantinya ditabuh Presiden SBY, Cak menjelaskan, sedang dirampungkan pembuatannya oleh seniman asal Jepara, Jawa Tengah(Jateng) dan dijadwalkan diserahkan gubernur setempat Bibit Waluyo kepada Menko Kesra Agung Laksono, selanjutnya diteruskan ke Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu di Semarang 5 Nopember 2009.

"Gong tersebut akan diangkut pesawat hercules dari Semarang, sesuai hasil koordinasi dengan panitia pusat ke Ambon dan nantinya ditempatkan pada lokasi yang sedang dirampungkan pembangunannya di bekas taman kota," jarnya.

Taman kota dipilih untuk penempatan gong karena letaknya strategis di pusat Kota Ambon, tepatnya di depan lapangan Merdeka dan Benteng Victoria yang telah menjadi markas Kavaleri serta salah satu jalur lalu lintas utama di ibu kota Provinsi Maluku ini.

"Gong ini diharapkan memotivasi warga Maluku agar tidak terprovokasi seperti 'tragedi kemanusiaan' 19 Januari 1999 yang hanya meninggalkan penderitaan berkepanjangan bagi masyarakat," ujar Cak.

Penyambutan gong perdamaian dunia akan dimeriahkan tari lenso (sambut tamu) dan tari cakalele (perang), selanjutnya diarak untuk ditempatkan di monumen hari perdamaian dunia yang perampunganya sekitar 90 persen.

"Berbagai kegiatan perayaan Hari Perdamaian Dunia di Ambon bernuansa budaya tradisional khas dengan melibatkan 20 suku lainnya di tanah air yang telah menetap di daerah ini guna memperkaya kasanah budaya nasional," ujar Saimima.

Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu mengatakan, perayaan Hari Perdamaian Dunia ke-29 di Kota Ambon merupakan kehormatan besar bagi pemerintah Indonesia karena 28 kali kegiatan sebelumnya dipusatkan di ibu kota negara.

"Jadi pemerintah dan rakyat Maluku harus bangga dengan menunjukkan peran serta memelihara stabilitas keamanan semakin kondusif agar kegiatan ini sukses dan membentuk pencitraan positif bagi dunia internasional terhadap daerah paska konflik sosial sejak 19 Januari 1999," katanya.

(T.L005/R007)