Kamis, 29 Juni 2017

Pemangku Adat Gowa Apresiasi `Katto Bokko` Marusu

id maros, katto bokko, gowa
Pemangku Adat Gowa Apresiasi `Katto Bokko` Marusu
Perangkat Sombbayya ri Gowa, Tumarilalang Loloang Andi Baso (kanan) apresiasi tradisi "Katto Bokko" yang digelar Pemangku Adat Kekaraengang Marusu Abdul Waris Karaeng Sioja (kiri) di Kabupaten Maros. (ANTARA FOTO/Suriani Mappong)
"Kami sangat mengapresiasi Kekaraengan Marusu, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Maros...
Makassar (Antara Sulsel) - Pemangku adat Kerajaan Gowa yang menghadiri tradisi adat `katto bokko` memberikan apresiasi pada Kekaraengan (pemangku adat) Marusu yang dapat menjaga kelestarian budaya di Kabupaten Maros.

"Kami sangat mengapresiasi Kekaraengan Marusu, masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Maros yang dapat saling mendukung dalam melestrasikan tradisi panen raya dengan adat katto bokko ini," kata Perangkat Sombayya ri Gowa Tumarilalang Loloang Andi Baso di Maros, Rabu.

Menurut dia, tradisi yang erat dengan budaya yang dijaga secara turun-temurun sejak masa Kerajaan Marusu pada abad ke-15 hingga saat ini, patut mendapat apresiasi yang tinggi.

Apalagi, kata dia, masyarakat eks-Kerajaaan Marusu juga tetap setia mendukung keturunan Kerajaan Marusu dalam mempertahankan tradisi panen perdana dan panen rayanya. Begitu pula dengan pemerintah kabupaten setempat memberikan dukungannya.

Kondisi itu dinilai cukup berbeda dengan kondisi Kerajaan Gowa yang beberapa bulan lalu terjadi friksi antara pihak Kerajaan Gowa dengan pemerintah daerah setempat.

"Kami iri dengan pemangku adat Marusu bagaimana memelihara adat dan budaya. Oleh karena itu kami berharap Kerajaan Marusu ini memberikan dukungan pada Kerajaan Gowa karena dulunya satu," kata Andi Baso.

Sementara itu tradisi "katto bokko" pada hari kedua pelaksanaan prosesi panen perdana padi telah melibatkan masyarakat setempat yang merupakan keturunan pegawai Kerajaan Marusu.

Pada dini hari, masyarakat adat tersebut sudah melakukan panen perdana yang dipimpin oleh seorang `pinati` pada sawah kerajaan yang disebut `torannu`. Jenis padi yang dipanen adalah `ase banda` yang bibitnya turun-temurun dikembangkan oleh keturunan Kekaraengan Marusu.

Setelah padi diikat dalam jumlah dua gundukan besar dan belasan gundukan kecil, lalu diarak beramai-ramai ke rumah adat (balla` lompoa) Kekaraengan Marusu. Prosesi penerimaan padi yang diusung ke rumah adat itu turut dihadiri para pejabat Muspida Kabupaten Maros dan para undangan kehormatan pemangku adat dari berbagai daerah lain.

Editor: Laode Masrafi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga